Mereka tak pernah bosan mengejekku. Tak jarang hujan kerikil menghantam tubuhku yang kecil ini. Aku pulang tertatih dibawah terik matahari, menyengat kulitku yang awalnya putih, kini hitam legam. Luka dikepalaku, tak aku pedulikan, ini sudah biasa. Dulu lebih parah, darah berceceran, dan aku tergeletak tak berdaya di trotoar jalan.
Mereka menganggap aku idiot, cacat, dan menjijikkan. Memang setiap hari, pakaian ku kucel, rambutku berantakan, dan tubuhku gak terlalu wangi. Aku terpaksa berhenti sekolah, itulah kenapa mereka memandangku idiot. Tapi, aku gak bodoh, gak idiot.
—— CeLoTeh —–
“Assalamu’alaikum … mak ?”, pintu bambu berdecit saat aku dorong gagang pintunya.
“Wa’alaikumsalam”, suara parau,serak terdengar dari arah dapur.
“Dewi kemana mak ?”, tanyaku.
Langkah berat, sedikit diseret terdengar mendekat. Seirama dengan ketukan tongkat kayu, ia sering menyebutnya kaki tambahan. Emak-ku, beruban, tubuhnya kurus dan bongkok. Kebaya lusuh, dan kain batik sebagai bawahan. Beralaskan sandal kayu buatan sendiri. Ia menatapku, tapi bukan wajahku, pasti luka ku.






