Sebuah kisah True Story, berdasarkan pada pengalaman seorang teman saat mengumpulkan dana untuk sebuah kegiatan. Kisah yang memberikan pelajaran bahwa, usaha yang sungguh – sungguh dengan niat yang Ikhlas, akan mendapat pertolongan yang luar biasa dari Rabb, sang Maha Kuasa.
Selamat Membaca … 
————— Celoteh —————

Pagi hari buta, mentari masih lelap diperaduannya, suara jangkrik riang ber-celoteh, sesekali terdengar derungan mesin sepeda motor melintas, angin berhembus membelai jilbab putih, membuatnya berkibar ciptakan gelombang seperti ombak dipesisir pantai. Wajahnya putih berseri, cantik, tinggi semapai. Bulu mata yang lentik, dan wajah yang penuh dengan senyuman, memancarkan keanggunan seorang muslimah. Dengan terampil, jemari kecilnya merapihkan gorengan dan kue donat, berjajar dalam sebuah wadah. Sesekali terdengar senandung lagu – lagu islami, dengan merdu ia lantunkan.
“Mba Dian, udah beres semua ?”, seorang gadis dengan mengenakan gamis bercorak bunga datang menghampiri. Jilbab coklat yang ia kenakan, membuat wajahnya yang putih tampak bersinar.
“Hemmm … tinggal satu lagi, itu yang terakhir”, jawab ku. “bisa tolong bantu, biar cepat selesai”
“Oh, siap mba”, Vivi langsung menyambar wadah berisi gorengan dan donat yang tak tertata rapih. Dengan terampil, ia susun satu persatu jajanan itu.
“Mba, hari ini bawa tiga wadah saja, apa gak terlalu sedikit ?”, tanya Vivi sambil sibuk menyusun jajanan. “kita kan masih butuh banyak dana”
“Lebih baik sedikit, tapi habis terjual. Daripada banyak, tapi sedikit yang terjual. Bisa berabe buat nutupin ruginya, bukannya untung malah buntung”, jawabku.
“Lagi pula, bukan masalah berapa keuntungan yang harus kita pikirin, yang penting tuh, seberapa besar usaha yang mampu kita lakukan, gitu Vi”
“Hemmm … iya juga, kalo terlalu banyak, udah berat trus kalo gak laku, bisa gede banget ruginya”, balas Vivi.
“Yup, bener banget Vi. Biar sedikit, kita usahakan semua terjual, tapi inget … “
“Inget apa mba ?”
“Luruskan niat, keuntungan yang kita dapet, semuanya buat acara bakti sosial, sedekah. Bukan buat pamer, atau keuntungan sendiri”
“Siap bu ustadz, biar keringat kita yang menjadi saksi diakhirat nanti, lalu syurga lah keuntungan yang kita peroleh”
”Pinter juga kamu, sering ikut pengajian yah ?”, tanyaku sambil tersenyum simpul melihat adik kecilku yang sudah dewasa.
“Iya dong, apalagi yang sabtu sore, hi hi …”, jawab Vivi sambil tersenyum centil. Wajahnya menerawang, membayangkan pengajian hari sabtu sore.
“Hey hey … pengajian itu, buat nambah ilmu. Bukan nyari ustadz yang ganteng dan soleh”, kataku.
Vivi tersipu malu, ia hanya tersenyum menatapku. Mengingat pengajian hari sabtu biasa diisi oleh ustadz Hafidz, pemuda tampan, lulusan Kairo. Wajar saja, kalo mahasiswi seusia Vivi begitu semangat ikut gabung dalam pengajian.
Read more
Like this:
One blogger likes this post.