Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 1 -

Perkenalkan, namaku Cahaya, tapi aku sering dipanggil Aya. Entah kenapa, mereka senang memanggilku begitu. Tapi, aku juga suka panggilan itu, cahaya kan bersinar dan indah.

Sejak kecil, aku sudah belajar mandiri. Saat masih bayi, aku hidup bersama ibu dan kakak perempuanku. Walaupun hanya bertiga, rumah ku selalu ramai akan canda dan tawa.

Banyak pengalaman unik yang selalu ku alami, dimana saja, kapan saja, bahkan saat tidur sekalipun, ada saja mimpi yang unik. Sayang, kalo itu semua disimpan dalam ingatan, dan hilang begitu saja. Aku pun mulai belajar untuk menuliskan itu semua dalam diaryku.

Awalnya, hanya coba – coba, merangkai kata, merajut pengalaman unik itu menjadi sebuah kisah. Ternyata, setelah beberapa kali menulis, aku mulai terbiasa, bahkan kakak dan ibuku senang dengan cerita yang ku buat. Tak jarang, mereka usul untuk memasukkan nya ke surat kabar, ibuku bilang, “dikumpulkan saja. Kalo sudah banyak, buat buku sendiri, terus di jual. Nanti, uangnya bisa dipakai kuliah”.

Menulis adalah impianku, harapan dan sumber semangat bagiku.

Read more

Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 2 -

“Aya, Aya … ini ibu nak” terdengar suara ibu pelan ditelingaku.

Perlahan, kubuka mata ini. Ada banyak bayangan yang kabur disekitarku. Sedikit demi sedikit, semua mulai tampak jelas. Yang pertama kulihat, wajah cantik ibuku. Dengan senyumnya yang khas. Ku alihkan pandangan, terlihat kakak ku, aku ingat betul jilbabnya yang besar itu.

Tubuh ini begitu berat ku gerakkan. Seakan terikat dengan tempat tidur ini. Kutatap kembali wajah ibuku yang menyejukkan. “ibu … “, berat sekali untuk berucap.

Senyum tipis diwajah ibu, begitu indah. “ya nak … ini ibu” jawabnya pelan. “syukurlah, kau sudah sadar “. Pelan, ibu meneteskan air matanya.

“bu, Aya dimana ? “, tanyaku,

Air mata ibu semakin deras, lirih ibu menjawab. “dirumah sakit nak … ”

“bu … memang, apa yang terjadi ?”, tanyaku. “Aya sakit ? demam lagi yah ? … Maaf ya bu, aya sering merepotkan”

Read more

Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 3 -

Dingin, ruangan ini begitu dingin. Perlahan, kubuka mata, sebuah buku Pink berada tepat atas tubuhku. Ibu dan kakak tertidur lelap di kursi. Sedikit demi sedikit, kucoba untuk mengingat kembali, semua yang telah terjadi.

Tentang sarapan pagi, ujian terakhir, jalanan yang begitu ramai, dan … kecelakaan itu. Juga, tangan kananku yang tak bisa ku gunakan lagi, tangisan ibu dan kakak dalam kebisuannya. Dan … impian ku, terbitkan buku, lalu … kuliah, jadi dokter.

Semua terbayang jelas, sangat jelas.

Malam yang begitu sunyi, hanya bunyi jangkrik dan kelipan bintang di balik jendela, dengan cahaya yang khas. Indah sekali, sangat indah. Aku ingin jadi cahaya itu, membuat orang tersenyum saat melihatnya. Menghibur hati yang sedang sedih, memberikan semangat, menghangatkan malam yang dingin.

Oh ya, ada satu kisah yang harus segera ku selesaikan.

Read more