Jangan malu menjadi Kura-kura..

Ubah pola pikir anda

(celoteh) Pernahkah anda melihat seekor kura-kura?

Apa hal pertama yang melintas dalam pikiran anda?

Badannya yang bulat, cangkangnya yang keras, atau mungkin yang paling pertama melintas adalah kura-kura yang lambat.

Melihat tayangan film kartun, hampir setiap saat kura-kura ditokohkan sebagai seekor binatang yang lambat. Dalam dongeng anak-anak pun seperti itu.

Akhirnya, semua hal yang ‘lambat’, selalu lekat istilahnya dengan kura-kura.

Padahal sebenarnya kura-kura jauh lebih cepat daripada Kancil, Zebra atau Macan sekalipun! Sangat cepat, sangat cepat… jika kura-kura bertanding di dunianya, Air.

Coba anda tandingkan, Kancil melawan Kura-kura berenang menyebrangi sungai yang dalam airnya. Manakah yang lebih dulu sampai di seberang?

Di satu sisi, memang benar kura-kura itu lambat saat berjalan di darat. Karena daratan bukanlah dunianya. Struktur tubuh kura-kura tidak diciptakan untuk bisa melangkah cepat di daratan. Tapi, saat ia berada di air, gerakannya jauh berbeda. Ia melesat, meluncur didalam air, menyelinap diantara karang, tanpa ada beban sedikitpun, sekalipun cangkangnya keras dan tebal.

Read more

Sulitkah mengatakan CINTA ???

Celoteh hari ini …

Suatu hari, saya duduk di atap rumah. Memandang langit yang indah, biru, cerah dan megah. Tertegun, melihat fenomena alam yang luar biasa.

Ada kawanan burng yang terbang bebas, berisul riang. Menukik turun dan naik kembali. Sejenak aku teringat perkataan seorang bijak.

“Setiap mahluk yang ada dibumi, diberikan Nikmat yang luar biasa besarnya. Tanpa mereka sadari, nikmat itu selalu ditambah, dan ditambah”

Read more

WAJAR-kah ?

CeLoTeh : Banyak waktu yang berlalu tanpa makna. Kita merasa hidup begitu singkat, bangun tidur dan tidur kembali. Makan, Minum, Kerja, kuliah, sekolah, atau semua rutinitas itu sering kita lakukan. Dan dengan santai kita anggap itu semua WAJAR.

Namun, jika kita berani bertanya pada diri kita sendiri, WAJAR-kah itu ?

Wajar-kah, kalo hari – hari kita penuhi dengan kesibukan dunia ?
Wajar-kah jika dari 24 jam waktu kita, hanya 1 jam kita isi dengan mengingat-Nya ?
WAJAR-kah, Jika lebih sering mulut ini basah dengan ucapan tak berguna, gossip, ghibah, bohong, namun sayang … jarng berucap Tasbih, Tasmid, dan Takbir ?

Read more

SOULMATE -( CeLoTeh – Cerpen )-

Hari ini, hatiku begitu kelam. Menelan semua kenyataan pahit yang ada. Sahabatku, orang yang paling aku banggakan, ia pergi. Meninggalkan sesal yang begitu mendalam. Takkan pernah hilang, tertanam abadi dalam hati ini.

Aku sadar, kejadian hari itu kebodohanku. Begitu mudahnya aku percaya semua kata – kata orang. Kebodohan yang kemudian merasuk, masuk kedalam aliran darah. Sebuah kalimat akhiri catatan persahabatan kita, kalimat tragis yang … pantas untukku. PENGHIANAT.

Pesan terakhir darimu, berkali – kali aku baca. Namun, kenapa tak kau singgung pertengkaran itu. Kenapa kau hanya tuliskan kata mutiaramu, bahkan pujian untuk si Penghianat, AKU.

Cih!!!”, bodohnya aku. Mataku dibutakan hawa nafsu iblis. Tertawa terbahak – bahak setelah namamu terpahat di atas batu nisan. Semerbak bunga mawar hiasi rumah baru-mu. Kau sendirian disana, pasti kau senang. Tidak lagi ada penghianat sepertiku, si bodoh yang ceroboh. Atau, kau … menangis, karena kehilangan orang yang selalu kau sebut, SAHABAT.

Satu minggu aku perhatikan dirimu. Awalnya, aku pikir itu biasa, gak ada yang istimewa. Lama aku perhatikan, ternyata kau selalu begitu. Tertawa dengan-nya, pergi berdua, dan terakhir facebook-mu berkata. Kau buat album tentang kau dan dia, foto – foto kalian berdua, menghabiskan waktu berjalan – jalan di mall, beli banyak barang, makan bareng, nonton, de el el.

Cihhh, brengsek,penipu”, kau selalu bilang cuma main, kau pun pernah berbohong, “mau kerja kelompok, sampe malem”. Ternyata kau nonton di bioskop bersamanya.

Aku pikir kau bercanda, ternyata kau serius. Kau jauhi aku, dia juga begitu. Kau tahu, chat ku tak pernah berbalas, message penuhi kotak terkirim saja, inbox nya nihil, tak lagi kami terlibat diskusi panjang.

KAU lah dalang dibalik semua ini!”, itu jawaban hatiku, dan aku yakin itu, BENAR.

Orang – orang pun berkata demikian tentangmu, kau mencuri-nya dariku. Sejak saat itu, aku nyatakan dalam hati, “Kau BUKAN sahabatku”. Lebih jahat dari penjahat biasa, kau PENGHIANAT. Tak tahan lagi melihat semua kelicikan ini, aku pun mengundangmu dalam sebuah pertemuan terakhir, ditempat ikatan persahabatan kita ukir pertama kali, dibawah pohon itu.

Read more

D e b u

Setiap langkah kakiku
Melewati jalan berdebu
Yang tertiup angin
Dan melekat
Di kakiku, di tanganku, di tubuhku

Setiap pandangan mataku
Menatap alam berdebu
Yang mengelilingi tubuhku
Dan mengotori
Rambutku, kulitku, pakaianku

Setiap perjalanan waktuku
Dipenuhi masa berdebu
Yang datang
Melekat
Dan tak hilang

Sahabat

Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya

Kehidupan : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an. An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha – dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur’an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ‘semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.

Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa”.

Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya”

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah! (Prof. Dr. Quraish Shihab, Lc, MA)