Kenapa burung bisa terbang..

Sebuah kisah sederhana.. (Celoteh)

Di serambi rumah, seorang guru mengajakku berbincang. Sebuah pertanyaan sederhana yang menyadarkanku akan satu hal yang begitu besar dan berharga..

da, coba tebak.. kenapa burung bisa terbang?”, tanya guruku.

hemm.. karena punya sayap”, jawabku.

boleh juga, tapi bukan itu”, balasnya.

Karena ada udara, jadi tekanan udara membuatnya.. bla.. bla.. “, saya coba jawab dengan rumus fisika.

bukan itu juga..”, balas guruku.

wah, jebakan neh?”, aku mulai menaruh curiga.

Read more

Bebek buruk rupa dan rumah kaca

Sudahkah kita mengenal ‘Siapa’ diri kita sebenarnya?

Dihutan belantara, hiduplah seekor bebek. Ia selalu hidup sendiri, menyendiri, dan kesepian, tanpa teman. Ia dijauhi oleh penghuni hutan karena ia buruk rupa. Wajahnya berbeda dengan bebek yang lain, padahal tubuhnya sama seperti bebek biasanya.

Ia selalu bermimpi mempunyai teman yang sangat banyak, bermain dan bercanda bersama. Tapi, itu semua mungkin hanya khayalan saja. Sekeras apapun ia mencoba bergaul dengan yang lain, yang ia dapatkan hanya ejekan dan sindiran.

Suatu hari, si bebek berjalan di pinggir sungai. Tak sekali pun ia menatap kearah air sungai, karena takut melihat wajahnya sendiri. Seperti ada trauma yang tersimpan dalam hatinya.

Saat sedang asyik berjalan, dia mendengar bunyi – bunyi aneh dibalik belukar. Ia pun pergi untuk memastikan, dan “aaa,,,”, ia terkaget, lalu berlari menjauh. Ternyata yang ia temui adalah seekor ular besar yang ganas. Read more

Andai aku bisa melihat

Sebuah renungan hari ini …

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Setiap pagi, selalu indah. Langit biru yang cerah. Awan putih lembut,  nampak megah. Burung – burung terbang bebas diangkasa, kepakkan sayap mungilnya. Bening embun pagi, kilaunya pantulkan cahaya mentari. Bergelantungan di ujung daun hijau, sebagian di atas kelopak bunga yang indah, dan penuh warna. Pagi hari yang begitu sempurna …

Tiba – tiba, langit mendung. Awan hitam datang cepat, tutupi lembutnya awan putih. Langit cerah berubah jadi kelabu. Angin berhembus kencang, jatuh kan bulir – bulir embun yang asyik bergelantungan. Tetesan air hujan, riuh basahi rerumputan, jalanan, dan rumah – rumah yang berjajar rapih.

Duduk sendirian di teras rumah, menanti hujan berhenti. Aku berharap, ada pelangi yang muncul, penuh warna. Merah, hijau, kuning, dan biru.

Read more

Kehidupan : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an. An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha – dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur’an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ‘semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.

Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa”.

Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya”

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah! (Prof. Dr. Quraish Shihab, Lc, MA)