Hari ini, hatiku begitu kelam. Menelan semua kenyataan pahit yang ada. Sahabatku, orang yang paling aku banggakan, ia pergi. Meninggalkan sesal yang begitu mendalam. Takkan pernah hilang, tertanam abadi dalam hati ini.
Aku sadar, kejadian hari itu kebodohanku. Begitu mudahnya aku percaya semua kata – kata orang. Kebodohan yang kemudian merasuk, masuk kedalam aliran darah. Sebuah kalimat akhiri catatan persahabatan kita, kalimat tragis yang … pantas untukku. PENGHIANAT.
Pesan terakhir darimu, berkali – kali aku baca. Namun, kenapa tak kau singgung pertengkaran itu. Kenapa kau hanya tuliskan kata mutiaramu, bahkan pujian untuk si Penghianat, AKU.
“Cih!!!”, bodohnya aku. Mataku dibutakan hawa nafsu iblis. Tertawa terbahak – bahak setelah namamu terpahat di atas batu nisan. Semerbak bunga mawar hiasi rumah baru-mu. Kau sendirian disana, pasti kau senang. Tidak lagi ada penghianat sepertiku, si bodoh yang ceroboh. Atau, kau … menangis, karena kehilangan orang yang selalu kau sebut, SAHABAT.
Satu minggu aku perhatikan dirimu. Awalnya, aku pikir itu biasa, gak ada yang istimewa. Lama aku perhatikan, ternyata kau selalu begitu. Tertawa dengan-nya, pergi berdua, dan terakhir facebook-mu berkata. Kau buat album tentang kau dan dia, foto – foto kalian berdua, menghabiskan waktu berjalan – jalan di mall, beli banyak barang, makan bareng, nonton, de el el.
“Cihhh, brengsek,penipu”, kau selalu bilang cuma main, kau pun pernah berbohong, “mau kerja kelompok, sampe malem”. Ternyata kau nonton di bioskop bersamanya.
Aku pikir kau bercanda, ternyata kau serius. Kau jauhi aku, dia juga begitu. Kau tahu, chat ku tak pernah berbalas, message penuhi kotak terkirim saja, inbox nya nihil, tak lagi kami terlibat diskusi panjang.
“KAU lah dalang dibalik semua ini!”, itu jawaban hatiku, dan aku yakin itu, BENAR.
Orang – orang pun berkata demikian tentangmu, kau mencuri-nya dariku. Sejak saat itu, aku nyatakan dalam hati, “Kau BUKAN sahabatku”. Lebih jahat dari penjahat biasa, kau PENGHIANAT. Tak tahan lagi melihat semua kelicikan ini, aku pun mengundangmu dalam sebuah pertemuan terakhir, ditempat ikatan persahabatan kita ukir pertama kali, dibawah pohon itu.






