Tentang Danau

Danau ini dulu ramai. Tiap harinya selalu terdengar tawa canda tangis duka rasa tak pernah habisnya. Saya duduk dibawah pohon besar, teduh, senyum sambil melihat paduan rasa itu, indah.

Harmoni danau itu tetap bertahan sampai suatu hari, si pemilik danau datang. Pelan datang hampiri, dan duduk di sebelah ku, dibawah pohon rindang itu. Kami bercakap, lalu dia berucap agar saya segera tinggalkan tempat ini.

Sadar ini danau miliknya, saya berpindah ke sebuah bukit di ujung utara danau. Awalnya saya merasa tempat ini tak senyaman pohon rindang dekat danau, namun ternyata jauh lebih nyaman.

Dari sini saya bisa melihat lebih jelas keriuhan penghuni danau, melihat dari sisi lain. Menyenangkan rasanya, walaupun jauh, namun rasa yg dulu masih manis terasa.

Waktu berlalu, dalam diam ku saksikan danau itu perlahan sepi. Masih padat, namun hanya raga yg mengisi ruang, tanpa jiwa. Entah kenapa yg dulunya ramai bersuara, sekarang diam tanpa kata. Yah, kadang berbisik, tapi lirih.

Bukan danau yg dulu lagi. Sekarang sunyi, riaknya tak berasa lagi. Sesekali ku lihat si pemilik danau berkeliling danau, hanya sekedar melihat tanpa berucap. Lain waktu si pemilik danau berjalan dengan para pengawalnya, nampak sibuk berbicara entah apa, namun sepi tetap saja.

Bukit ini begitu nyaman bagiku, tingginya seolah dekatkanku dengan-Nya. Sepinya danau yg dulu ramai, daun daun tua terlihat mengambang di permukaanya, rumput dan lumut menjelma bagai jelaga tebal yang jadi bingkai, kadang kuceritakan semua itu pada-Nya.

Hanya sekedar cerita, tanpa balut do’a. Setitikpun tak kan ku lantunkan do’a lemah ku untuk danau itu. Biar semua do’a kupanjatkan agar bukit tempatku sekarang duduk ditumbuhi bunga-bunga indah, pohon rimbun berbuah manis, juga kicau burung, hati yg tenang tuk dengarkan lantunan dzikir mereka semua.

Lalu danau itu? Tanpa hadirku, kelak kan ramai lagi. Jangan tanya kapan, aku tak peduli.