Untuk Diriku

Lelahnya fisik tak sebanding dengan lelahnya hati. Mencari batas kesabaran, entah masih jauh, atau mungkin sudah terlewat.

Aku yang dulu kuat, berdiri tegak laksana tiang kokoh tak bergeming diterjang ombak.

Aku yang selalu berdiri di depan, menjadi panutan, idaman, atau sekedar pengisi barisan.

Aku yang tak lelah memberi semangat, berkoar tentang indahnya sebuah perjuangan, makna dalam kesabaran, dan kuatnya impian.

Aku yang memiliki tatapan sang elang, raungan menakutkan srigala malam, intaian mematikan singa padang rumput.

Aku yang seolah tak kan terhentikan.

Dan…

Sekarang, aku… terpikirkan untuk berhenti.

Ya Alloh… hamba lelah.

Saya melalui jalan sulit yang mereka rasakan, bimbang akan sebuah keputusan.

Menjalani hidup dalam kehampaan. Satu moment berharga yang tak pernah kudapatkan.

Katanya mereka yang bersabar, akan ada hadiah besar. Saya tak mengungkiri itu, itu benar, sangar benar. Namun, entah kapan.

Saya TIDAK PERNAH iri pada mereka yang bahagia, bukan picik mata enggan menatap. Tapi, berkali-kali hati ini tertusuk perih karenanya.

Benang-benang jahit menarik paksa bibir kiri dan kanan untuk tersenyum.

Bukan karena iri diri ini menjauh. Hanya… tak tahan menahan setiap detik sayatan pisau kehidupan yang tajam.

Keinginanku sederhana kok… ku hanya ingin bahagia seperti halnya mereka, mereka, mereka yang tertawa bersama putra putrinya.

Berjuta kali hati ini menepis semua prasangka negatif, namun tetap… tak kuasa tuk terus terlihat kuat.