Berikan “Yang Terbaik” untuk Sahabat mu

Suatu hari, sebuah keajaiban datang. Tanah disebuah pedesaan diberikan kekuatan untuk berbicara dan merasakan, layaknya mahluk hidup.

Suatu ketika, seorang anak ingin menggali sebuah lubang yang besar, untuk menyimpang mainannya yang sudah rusak. Dia pergi ke halaman belakang dengan membawa sebuah cangkul.

Setibanya di bawah pohon yang rindang, ia pun mulai mencangkul. Namun, baru beberapa kali cangkul itu mengayun, terdengar sebuah rintihan. Si anak pun berhenti, dan mencari sumber suara itu, namun tidak ketemu. Mungkin hanya halusinasi saja, bisiknya dalam hati.

Ia pun mengayunkan kembali cangkul itu, baru sekali ber-ayun, terdengar kembalin suara rintihan. Ia pun berhenti, dan mencari dengan lebih teliti. Namun, tetap saja tidak ketemu, disana hanya ada ia sendiri. Masa cangkul bisa bicara, gumamnya.

Saat cangkul itu hendak ia ayunkan kembali, terdengar suara lirih, “ anak muda, bisa kah kau berhenti menyakitiku ?”

Si anak terperanjat kaget, seketika itu juga ia terduduk, ketakutan. “siapa kau ?”, tanya nya pelan.

“tenang anak muda, aku tak punya kekuatan untuk menyakitimu. Tenangkan dulu dirimu, baru aku beritau siapa aku …”, jawabnya.

Si anak menghela nafas panjang, untuk menengkan dirinya yang ketakutan. “baik, saya sudah tenang, sekarang jelaskan siapa dirimu ? dan dimana kau berada, kenapa aku tak bisa melihatmu ? kau hantu ?”

“aku bukan hantu, kau bisa melihatku. Bahkan, bukan hanya melihat, kau pun senantiasa ku temani kemana saja kau pergi. Selalu kuberikan yang terbaik untuk mu, dimana pun kamu berada”, lirih terdengar jawaban tanah.

Si anak semakin heran, dalam benaknya penuh tanya, suara siapa kah itu. “selama ini aku biasa sendiri. Pergi kemanapun, hanya adik kecilku yang menemani. Dan, suara mu tidak mirip dengan dia. Siapa kau sebenarnya ? apa yang kau inginkan dariku ?”

“anak muda, boleh ku tanya beberapa hal padamu ? jawablah dengan jujur”, tanya tanah.

“boleh, tanyakan saja, apapun aku jawab dengan penuh kejujuran”

Sejenak suasana hening, suara angin mendesir pelan. Terdengar beberapa suara gesekan ilalang.

“anak muda, dimanakah rumahmu kau dirikan ?”
“diatas tanah, disebelah pohon beringin besar”
“anak muda, dimanakah kamu tancapkan pohon – pohon yang kamu sukai ?”
“dipekarangan belakang, aku tancapkan disekitar tanah yang gembur”
“lalu, dimana kau simpan mainanmu yang sudah usang itu ?”
“oh, kalo itu, aku simpan di bawah pohon ini, yah … disini, didaerah sini. Aku gali lubang yang besar, lalu aku kuburkan semua”

“begitu yah … ternyata, aku banyak kau gunakan. Ternyata, memang benar, aku selalu ada disekitarmu. Ternyata memang benar, aku teman yang selalu setia menemanimu”

Si anak semakin heran. Dia pun bertanya lebih tegas, “siapa pun kau, aku yakin kau pembohong yang besar. Selama ini, tak ada satupun teman sejati yang aku miliki. Kalau memang semua perkataanmu itu benar, tunjukkan siapa dirimu ?”

“anak muda, anak muda … semua perkataan ku itu benar. Setiap kau butuh bantuanku, aku selalu ada untukmu. Setiap kau ingin menanam tanaman yang kau sukai, aku sediakan tempat untukmu. Lalu aku jaga hingga ia besar dan berbuah. Setiap kau ingin menyimpan mainan mu yang usang itu, aku berikan ruang yang luas. Aku pun menjaganya, agar tidak diambil orang. Dan aku biarkan rumahmu tetap berdiri diatasku, selalu kujaga agar kokoh berdiri”

“anak muda, tau kah kamu. Setiap kau tancapkan akar tanamanmu itu, kau lukai bagian tubuhku. Setiap kali kau ayunkan cangkulmu, kau mengambil bagian yang berharga dariku. Lalu kau simpan mainan usangmu itu, yang semakin lama semakin membuat ku sesak bernafas. Kau simpan batu pondasi rumahmu, dengan batu bata yang sangat banyak, dan kau simpan barang – barang di dalam rumahmu, tidakkah kau tau, semua itu begitu berat bagiku untuk menahannya.”

“anak muda, aku lah Tanah. Yang selama ini kau gunakan, kau gali, kau simpan bebanmu diatasku. Tapi, tak sekalipun aku meminta imbalan atas semua itu, tak sekalipun aku marah atas tindakanmu. Aku lakukan semua, karena, aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku ingin, meringankan bebanmu, aku ingin menjadi teman yang setia padamu”

Si anak itu pun terdiam,dan meneteskan air matanya. “ya, kau memang teman sejatiku”, bisiknya.

Sahabat, sebuah kisah sederhana yang penuh hikmah. Pernah kita merasakan, ingin menjadi teman dan ingin memiliki teman yang baik. Setiap hari, kita selalu membantu teman kita saat dia kesulitan, kita selalu meringankan bebannya saat dia tak sanggup menopangnya, kita selalu menahan amarah saat dia melakukan kesalahan. Selalu yang terbaik yang kita lakukan.

Namun, suatu ketika, saat kesulitan itu datang menimpa kita, beban hidup semakin berat, dan tidak ada satupun yang membantu kita. Kadang, ingin sekali kita mendapatkan apa yang kita berikan, ingin sekali jasa kita dihargai. Lalu, saat itu semua tidak terwujud, apa yang kita lakukan ? marah, kesal, ngambek, pergi dengan kebencian pada teman kita ? …

Sahabat, ada sebuah perumpamaan yang begitu indah. “ jangan kau pikirkan seberapa besar yang akan kau dapatkan dari orang lain, tapi pikirkan lah, seberapa banyak yang dapat kau berikan untuk orang lain

Jadilah sahabat sejati, berikan yang terbaik untuk sahabatmu, berhentilah mengharap ‘Balasan’ dari yang kita lakukan. Biarlah, Alloh SWT yang membalas semua yang kita lakukan.

7 thoughts on “Berikan “Yang Terbaik” untuk Sahabat mu

  1. Wah kunjungan pertama dan menemukan kisah yang begitu indah, sebuah persahabatan. Hal yang indah dimana suku,usia,harta dan status tak menjadi masalah. Itulah persahabatan sejati. Moga persahabatan ini berlanjut kawan.

  2. cerita yang inspiratif. semakin sulit mendapatkan sahabat yang bisa bersikap setia dan memberikan yang terbaik. semoga kita bisa bersahabat dan saling support untuk selalu berbuat kebaikan bagi orang lain. salam kenal!

  3. Assalamu`alaikum
    dalam sekali ceritanya, begitu aku baca, mataku ikut berkaca-kaca yang sambil membayangkan sahabatku yang tidak memperdulikanku lagi sekarang. aku mau minta izin, apakah boleh aku mengcopynya untuk dikirimkan pada sahabatku???

    Wasslamu`alaikum

  4. Assalamu`alaikum
    dalam sekali ceritanya, begitu aku baca, mataku ikut berkaca-kaca yang sambil membayangkan sahabatku yang tidak memperdulikanku lagi sekarang.apakah boleh aku mengcopynya untuk dikirimkan pada sahabatku???

    Wasslamu`alaikum

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s