Kelinci dan Keluarga Semut

Alkisah, disebuah hutan belantara, hidup kawanan kelinci yang sedang berkumpul. Diantara mereka terdapat seekor kelinci yang berbeda dari yang lainnya.

Bulu, wajah, mata, dan telinga yang ia miliki berbeda. Oleh karena itu, ia selalu dikucilkan. Setiap hari, saat teman – temannya bermain diluar, ia hanya bisa menyendiri di dalam rumah. Ingin sekali ia bisa bermain bersama yang lain. Namun, apa lah daya, setiap hari yang ia hadapi, hanya dinding dan atap kamar yang membisu.

Singkat cerita, Kondisi tersebut berlangsung hingga kelinci beranjak dewasa.

Suatu ketika, muncul keinginan dalam hatinya untuk pergi merantau ke hutan seberang. Ia memberanikan diri pergi sendiri, dengan membawa bekal secukupnya, meninggalkan “sangkar emas” tempat tinggalnya.

Berjalan sendirian diantara pohon – pohon besar, jalan setapak yang gelap, bunyi – bunyi serangga di balik lembaran kulit pohon, dan sekumpulan binatang yang berkumpul mencari makan.

Saat mentari bersinar terik, si kelinci merasa lelah dan haus. Tak terasa, sudah setengah perjalanan ia tempuh. Aku yakin, dibalik bukit itu, ada tempat yang cocok bagiku. Gumamnya.

Ia pun berhenti ditepi sungai, bermaksud meminum air sungai yang jernih. Saat hendak minum, ia terkejut ketika melihat bayangan dirinya terpantul di permukaan air sungai. Dengan teliti, ia pandangi wajahnya, telinga, dan matanya. Ia merasa heran, karena wajah, telinga, dan matanya tidak berbeda dari yang lain.

Sejenak ia terdiam, mengingat kembali perkataan saudara – saudaranya, tentang perbedaan yang ia miliki. Tak berapa lama, keinginan nya untuk pergi ke hutan seberang, menghentikan lamunannya. Segera ia pun meneruskan perjalanannya.

Tak terasa, keesokan paginya, kelinci itu sudah sampai di tempat tujuan. Hatinya sangat senang, saat melihat nuansa baru di hadapannya. Dengan gembira, ia mengelilingi hutan tersebut, bermaksud mencari kawanan kelinci yang ada disana. Pandangannya tertuju pada sebuah pohon besar yang rindang, ia yakin teman yang barunya ada disana.

Dugaannya memang tepat, dibawah pohon itu terdapat kawanan kelinci yang sedang bermain. Ia pun berlari menghampiri mereka, ingin segera bermain bersama.Setibanya di bawah pohon, si kelinci segera bergabung bersama mereka.

Namun, lama kelamaan, si kelinci menyadari suatu hal yang berbeda. Ia melihat satu persatu teman barunya, ia sadar bahwa mereka semua memakai pakaian yang mewah dan bersih. Berbeda dengan dirinya yang lusuh dan kotor. Ia merasa malu bermain bersama mereka. Perlahan, ia pergi dari kawanan itu.

Diam termenung dibawah pohon, si kelinci terduduk lemas. Ia merasa, perjalanan yang ia lakukan percuma.

Tiba – tiba, kawanan semut lewat di depan nya. Mereka pun berhenti, dan menyapa si kelinci yang terduduk lemas. “hai, siapa kamu ? apa yang kamu lakukan disini ?”

“aku dari hutan seberang, disana banyak orang tak memperdulikanku” jawab si kelinci.

“oh, kalo begitu, mau kah kau ikut bersama kami ?”, ajak semut.

“kemana ?”, tanya kelinci.

“ketempat yang indah, dan kau bisa melakukan apa saja yang kau mau!”,jawab semut.

“benarkah ? dimana itu ?”, tanya kelinci.

“kau ikuti saja kami, tempatnya sudah dekat”

Akhirnya, si kelinci pergi bersama kawan barunya. Tak lama, tibalah di sebuah gubuk kecil, namun sangat rapih. Berbeda dengan tempat sebelumnya, yang dipenuhi perumahan yang megah.

“tempat apa ini ?”tanya si kelinci.

“kami menyebutnya, Gubuk Impian”, jawab salah seorang diantara kawanan semut.

“Gubuk Impian, kenapa namanya terdengar begitu aneh?”,tanya si kelinci keheranan.

“aneh, nama itu terdengar sangat indah bagi kami”

“bagiku itu nama yang aneh, apa itu impian ? apa itu sama dengan taman bermain ? kenapa tidak kau namai, Gubuk Bermain saja ?”

Kawanan semut terdiam sejenak. “ kau tau apa itu impian ?”

“tidak, apa itu ?”

Kawanan semut saling tatap, dan secara bergatian mereka berbicara.

“impian itu, sesuatu yang indah”

“harapan”

“Keinginan, yang kau sukai”

“Sesuatu yang bisa memberikan semangat bagimu untuk terus berkarya, bertahan hidup. Dimana saja, kapan saja, sendiri ataupun bersama”

“Sedih atau senang”, jawab mereka.

“seindah itukah ?, selama ini hidupku hanya dipenuhi dinding dan atap kamar. Ku hanya bisa diam dan menatap teman ku yang lain bermain. Tak pernah kurasakan hidup yang penuh impian, bagiku hidup seluas ruangan itu. Bahkan, aku merasa tak dianggap ada disana” keluh si kelinci.

“kelinci, kau lihatlah kami. Tubuh kami begitu kecil, sering kami tak dianggap, bahkan dilihat pun tidak. Banyak sahabat kami yang terinjak, terbawa arus sungai, tertimbun tanah. Kau lihat, kami hidup di ruangan yang begitu sempit, tak seluas yang kau punya.”

“Tapi, kami tak pedulikan itu semua. Bersama, kami membangun gubuk ini. Sederhana memang, namun kami bangga, karena ini salah satu dari impian kami. Kami tak pandang kaki kami yang kecil ini, selama bisa melangkah, seluruh jagat raya, kami susuri. Memang, kami jarang dilihat, namun itu bukan hambatan, karena kerja kami bukan untuk dilihat”

Si kelinci terdiam, melihat semangat semut yang begitu tinggi. Dengan impian mereka yang sederhana. “sehebat itukah impian ? lalu, bagaimana caranya bermimpi ?”

“tinggal lah beberapa hari bersama kami, akan kami ajari cara bermimpi”

Akhirnya, si kelinci hidup bersama kawanan semut, dan ia belajar banyak hal disana. Ia pun mulai merangkai impian – impian yang ingin ia capai. Belajar perjuangan si”kecil” di dunia yang begitu luas.-end-

  • Dinda Agus Triyana, Minggu 10 Januari 2010

Teruntuk sahabatku,

Terima kasih atas curhatannya, maaf, jika tak sesuai.

Salam, CeLoTeh …

15 thoughts on “Kelinci dan Keluarga Semut

  1. mari jangan takut bermimpi dan mengupayakan terwujudnya mimpi itu🙂

    dan ia belajar banyak hal disana….

    saya juga belajar banyak dengan membaca cerita ini…

    salam hangat penuh kasiih….

    salam juga untuk sahabtmu itu ya🙂

  2. kukira ini berasal dari pepatah ” katak di dalam tem,purung” yang mulai keluar ke dunia. merasa diabaikan, itu sering dirasakan orang yang depresi sampai melupakan impiannya. dia terheran dengan indahnya dunia impian di luar cakrawalanya.

  3. Wah menarik, apalagi ada kata2 karena kami bekerja bukan untuk dilihat. Seharusnya inilah yang kita terapkan. Tak perlu balasan apalagi hanya ucapan tepuk tangan. Yang penting apa yang kita kerjakan membuat kita bahagia dan menjadi amal baik.
    Nice post.

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s