Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 2 –

“Aya, Aya … ini ibu nak” terdengar suara ibu pelan ditelingaku.

Perlahan, kubuka mata ini. Ada banyak bayangan yang kabur disekitarku. Sedikit demi sedikit, semua mulai tampak jelas. Yang pertama kulihat, wajah cantik ibuku. Dengan senyumnya yang khas. Ku alihkan pandangan, terlihat kakak ku, aku ingat betul jilbabnya yang besar itu.

Tubuh ini begitu berat ku gerakkan. Seakan terikat dengan tempat tidur ini. Kutatap kembali wajah ibuku yang menyejukkan. “ibu … “, berat sekali untuk berucap.

Senyum tipis diwajah ibu, begitu indah. “ya nak … ini ibu” jawabnya pelan. “syukurlah, kau sudah sadar “. Pelan, ibu meneteskan air matanya.

“bu, Aya dimana ? “, tanyaku,

Air mata ibu semakin deras, lirih ibu menjawab. “dirumah sakit nak … ”

“bu … memang, apa yang terjadi ?”, tanyaku. “Aya sakit ? demam lagi yah ? … Maaf ya bu, aya sering merepotkan”

Ibu tersenyum, indah sekali. “Aya, Aya gak sakit kok” , jawab ibu.

“Terus, kenapa bu ?”, desakku.

“Aya … cuma harus istirahat beberapa hari disini”, jawab ibu.

“kenapa ?”

“pak dokter yang bilang begitu .. “, jawab ibu, sambil menunjuk seorang pemuda berpakaian putih dengan kacamata yang tebal.

“oh, gitu yah … “. Aneh, ini bukan pertama kalinya aku masuk rumah sakit. Mungkin ini yang ke sepuluh. Pertama kali masuk rumah sakit, saat masih di Sekolah Dasar. Kata dokter, ada sesuatu yang aneh di kepalaku. Sejenis radang, yang tak bisa disembuhkan. Sering aku terjatuh, dan pingsan disekolah. Guru disekolah langsung membawaku kerumah sakit.

Ibu dan kakak, selalu menemaniku setiap hari, merawatku. Tak jarang, ku lihat ibu meneteskan air matanya. Namun, kali ini berbeda. Ibu terlihat berbeda. Mungkin, sakit ku kali ini lebih parah. Atau …

“bu, Aya boleh minta sesuatu ?”

“oh, boleh sekali … apa yang bisa ibu bantu ?”, jawab ibu.

“enggg … ini bu. Di tas Aya, ada buku warna Pink, itu diary Aya. Boleh Aya minta ibu, untuk membawanya kesini?”

“oh … itu toh, bentar yah” ibu beranjak dari kursinya, menuju meja putih yang ada didekat pintu. Tak berapa lama, ia pun kembali membawa buku itu. “yang ini ?”

“ya, tepat sekali … ibu memang pintar”, hiburku.

ibu hanya tersenyum, matanya kembali berkaca – kaca. “Aya … buku ini untuk apa ?”

“enggg … Ada yang harus Aya tulis. Ada kisah yang harus aya bereskan bu”, jawabku.

“oh … tulis ?”. kembali air mata ibu mengalir.

“loh, ibu kenapa ? emang, gak boleh nulis yah sama dokter?”, tanya ku.

“oh, enggak kok … mana ada dokter yang ngelarang Aya nulis”, jawab ibu.

“syukurlah, semoga hari ini bisa beres kisahnya … nanti, Aya bisa buat buku. Terus, diterbitkan. Uangnya, untuk kuliah” Pikiranku melayang, membayangkan saat seragam putih kedokteran aku gunakan.”pasti Aya tambah cantik ya … “

Ku coba mengangkat tangan kananku, kenapa terasa begitu berat. Tak bisa kugerakkan. Karena sibuk memperhatikan wajah ibu, aku tak sempat melihat sekitarku.

Ku lirik tangan kananku. Loh, dimana ? dimana tangan kananku ? hilang …

“ibu … apa yang terjadi bu ? mana tangan kanan Aya ? “, tanyaku. Air mata mengalir deras. “dimana bu ?”

Wajah ibu memerah, ia pun tak kuasa menahan air matanya. Kepalanya tertunduk, airmatanya menetes, membasahi lantai. Tak ada jawaban.

“kak, emang apa yang terjadi ? “, tanyaku.

Namun, kakak hanya bisa diam seribu bahasa.

“ibu, kakak … kenapa diam saja ?”, desakku.

“ibu, ibu pernah bilang … apapun pertanyaan yang Aya ajukan, pasti ibu jawab, iya kan ?”. tanyaku kembali.

“kakak juga sama, setiap pertanyaan Aya selalu kakak jawab … kadang, kakak isi dengan sindiran, betul kan ?”, bergantian ku tatap dua orang yang paling berharga dalam hidupku.

Namun, tak ada jawaban sama sekali. Tak sepatah katapun yang terucap. Semuanya membisu, hanya suara tangisan yang ku dengar.

Tiba – tiba, kepalaku begitu sakit. Pandangku mulai kabur, badanku lemas sekali, nafasku sesak. Wajah ibu dan kakak semakin membias, tak jelas lagi. Semakin lama, ruangan itu semakin gelap. Dan …

——————-

Bagian 3 <ending> ada di : https://dindaagustriyana.wordpress.com/2010/01/12/aku-hanya-ingin-menulis-bagian-3/

One thought on “Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 2 –

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s