Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 3 –

Dingin, ruangan ini begitu dingin. Perlahan, kubuka mata, sebuah buku Pink berada tepat atas tubuhku. Ibu dan kakak tertidur lelap di kursi. Sedikit demi sedikit, kucoba untuk mengingat kembali, semua yang telah terjadi.

Tentang sarapan pagi, ujian terakhir, jalanan yang begitu ramai, dan … kecelakaan itu. Juga, tangan kananku yang tak bisa ku gunakan lagi, tangisan ibu dan kakak dalam kebisuannya. Dan … impian ku, terbitkan buku, lalu … kuliah, jadi dokter.

Semua terbayang jelas, sangat jelas.

Malam yang begitu sunyi, hanya bunyi jangkrik dan kelipan bintang di balik jendela, dengan cahaya yang khas. Indah sekali, sangat indah. Aku ingin jadi cahaya itu, membuat orang tersenyum saat melihatnya. Menghibur hati yang sedang sedih, memberikan semangat, menghangatkan malam yang dingin.

Oh ya, ada satu kisah yang harus segera ku selesaikan.

Saat itu, entah kenapa tubuh ini begitu ringan, berbeda dengan siang tadi. Tangan kanan, memang tak bisa digunakan. Tapi, masih ada tangan kiri, walaupun tulisannya tak sebagus tangan kanan. Tak masalah, Cuma beberapa paragraf, kisah ini selesai.

Mulai kutulis sambungan kisah itu. Tak terasa, air mata mengalir membahasi selimut dan bajuku. Sesekali ku seka airmata ini, dan tak sengaja menetes ke diary ku.

Kata demi kata kurangkai, beberapa ungkapan kugoreskan, butiran tinta mewarani diaryku.

Akhirnya, sampai di paragraf terakhir. Penutup kisah ini, akhir dari semuany. Namun, saat hendak kulanjutkan, sakit dikepalaku terasa kembali. Lebih sakit dari yang pernah kurasakan, tubuhku bergetar, nafasku semakin pendek. Ingin rasanya menjerit, namun … aku tak mau membangunkan ibu dan kakak yang kelelahan menjagaku.

Sepintas, terbayang saat – saat indah bersama mereka. Ingin rasanya mengulang saat itu kembali. Namun, kembali teras Sakit, sakit sekali, pena ku hampir saja terjatuh.

Aku harus menyelesaikan semuanya, menuliskan semua pengalamanku, semua impianku … kan kutuliskan, di paragraf terakhir kisah ini.

Semangat ku kembali muncul, tak peduli betapa sakit yang kurasakan. Paragraf terakhir … kutuliskan ….

…. Banyak pengalaman Aya alami. Semua Aya tulis dalam diary ini. Walaupun tak seindah kisah penulis terkenal, tak apa, Aya hanya ingin menuliskan semuanya. Aya hanya ingin menulis apa yang Aya tak sanggup katakan. Ibu, Kau adalah Inspirasi Aya. Begitu sulitnya ibu bekerja, siang dan malam untuk biaya sekolah Aya. Sedih rasanya, Aya Tak bisa bantu ibu. Dalam Hati Aya, ingin sekali Aya bilang, Aya sangat Sayang ibu … Kakak, Aya selalu merindukan sindiran kakak. Walaupun kakak galak, tapi, kakak selalu melindungi Aya, membantu Aya. Dalam hati, ingin sekali Aya bilang, Aya sayang Kakak… Tapi, Aya tak sanggup mengatakannya langsung…

…  Ibu, Kakak … Cahaya, nama yang begitu indah, Aya ingin bisa bersinar seperti bintang … menghiasi angkasa, menerangi alam semesta ditengah gelapnya malam. Aya yakin, suatu saat Aya bisa bersinar seperti bintang.

… ibu, kakak … Aya minta maaf atas segala kesalahan. Aya memang anak yang nakal, sulit diatur … Aya ingin jadi seperti ayah, jadi Dokter. Bisa membantu orang lain. Pake seragam putih, bersih. Hemmm … Aya pasti, tambah cantik.

… Ibu, kakak … itu semua impian Aya, walau … Aya, tak mungkin lagi menggapainya. Aya hanya bisa menuliskannya.

… Ibu, kakak … Dari semua kisah yang Aya tulis, Kisah terbaik adalah tentang kalian … Aya rindu bisa saat kebersamaan itu, Aya pasti kangen senyuman ibu …

… ibu, kakak …. Terima Kasih.

– Cahaya –

_______________________________________________________________________

Karya : Dinda Agus Triyana
Bandung, Senin – Selasa, 11 – 12 Januari 2010

18 thoughts on “Aku Hanya Ingin Menulis – Bagian 3 –

  1. Ass.Dalam kurun waktu sepuluh tahun…, ini kali kedua aku meneteskan airmata. Sepeninggal Ibu yang sangat aku cintai menghadap sang Khalik entah kenapa tidak ada butiran airmata setetespun yg keluar dari pelupuk mata ini, walaupun duka ini begitu dalam…Pertama kali saat aku tertegun dan jatuh sujud dihadapan Kha’bah, Subhanalloh Allah S.W.T demikian mudahnya memberikan kemudahan untukku menangis sepuas2nya, menangis untuk mengenang sesuatu yang terlambat bagiku…diriku begitu kecil dihadapan-Mu dan diriku begitu rapuh setelah Ibu meninggalkanku. Begitupun disaat aku sendiri dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tak terasa lembaran demi lembaran cerpen dari Dinda Agus Triyana selesai sudah kalimat terakhir aku baca…dan Subhanalloh ini kali kedua aku menitikkan airmata…Wss.

  2. bagus banget ceritanya dapat membawa sang pembaca larut seolah dalam kehidupan nyata, tanpa sadar sang pembaca dapat merasakan tujuan dari cerita itu… bagu..bagus.. semoga sukses buat kamu

  3. ..Hiks,tega bgt bikin ceritanya,kenapa aya nya harus pergi untuk selamanya..Pdhal tdnya berharap aya akan ttp jd cahaya yg bersemangat meskipun dia tak lagi seperti dlu..Smp akhirnya tuh tulisan terbit dan aya pun tetap dpt melukiskan senyum bangga untuk ibu,untuk kakak..T_T

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s