Satu paku, untuk Satu Kata “Marah”…

Sahabat, pernah kita marah sama orang lain ? Banyak kata yang terucap, entah itu ejekan, celaan, sindiran, atau hinaan. Tak jarang isi kebun binatang pun ikut menghiasi kata – kata kita. Namun, dengan mudahnya kita anggap itu hal biasa, “Toh, minta maaf aja beres, tul gak ?”.

Teman, ada seorang anak yang sering sekali marah. Di sekolah, tempat bermain, kepada siapa saja kapan saja. Padahal, temannya tak sengaja melakukan kesalahan. Tetap saja ia marahi.

Sang ayah merasa sedih dan prihatin dengan kondisi anaknya. Perlahan, orang – orang disekitarnya mulai menjauh. Kalau dibiarkan, tak ada seorang pun yang mau jadi temannya nanti. Kondisi ini harus segera dihentikan.

Sepulang sekolah, ayah mengajak anaknya untuk belanja. Hingga mereka tiba disebuah toko material, kemudian membeli sebatang bambu,  sebungkus paku, dan sebuah palu.

“Ayah, untuk apa kita beli barang – barang itu ?” tanya si anak.

“oh, ini untuk ayah nak. Ada sesuatu yang harus ayah buat di pekarangan belakang”, jawab ayah dengan bijak.

“Buat apa ayah ?” tanya si anak.

Ayah hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Setelah selesai berbelanja, mereka berdua pun pulang ke rumah.

Setibanya dirumah, Ayah mengajak anaknya untuk menyimpan barang – barang yang sudah mereka beli di pekarangan belakang. Semua peralatan itu disimpan dibawah sebuah pohon besar.

“Nak, ayah boleh tanya sesuatu ?”, tanya ayah sambil merapihkan barang – barang tadi.

“Boleh, ada apa ayah ?”, jawab si anak.

“Akhir – akhir ini, ayah dengar kamu sering sekali marah. Hampir setiap orang kamu jadikan sasaran luapan amarahmu. Benarkah berita itu ?”, tanya ayah.

Si anak terdiam sejenak. Nada suaranya naik, “Habis, mereka tuh yah. Sering buat aku kesel. Jadi, wajar donk kalo aku marah!”

“Oh, begitu yah”, Ayah terdiam, kemudian menghela nafas panjang. “Nak, boleh ayah minta sesuatu padamu?”, lanjutnya.

“Apa ayah, katakan saja”, jawab si anak.

“Kamu lihat, disamping ayah ada sebuah bambu, sebungkus paku, dan sebuah palu”, kata ayah.

“Lalu ?”,tanya si anak.

“Ayah tahu kau sering marah. Ayah ingin, setiap kau marah, tancapkan satu paku ke bambu ini”, pinta Ayah.

Si anak terdiam sejenak, dalam hatinya timbul rasa heran. Apa gerangan maksud ayahnya itu. Ia pun bertanya “Untuk apa ayah ?”.

Ayah tersenyum dan berkata, “nanti, ayah kasih tahu jawabannya. Kamu lakukan saja perintah ayah”

Si anak pun menyetujui permintaan ayahnya itu.

Hari berganti hari, kebiasaan buruk si anak tak juga berhenti. Setiap kali ia marah, segera ia pergi ke pekarangan belakang rumah, dan menancapkan satu paku pada bambu. Tak terasa, setelah beberapa minggu, bambu tersebut penuh dengan paku, dan ia pun merasa lelah dengan aktifitas barunya itu.

Akhirnya ia pun menyerah, dan segera ia memanggil ayahnya untuk melihat hasil pekerjaan yang selama ini ia lakukan.

Setibanya mereka di pekarangan belakang, ayah tersenyum saat melihat bambu yang dipenuhi paku.

“Ayah, sekarang jelaskan arti semua ini?”, tanya si anak.

Ayah tak langsung menjawab pertanyaan itu. Lalu, Ia mengambil palu yang semula digunakan untuk menancapkan paku, kemudian memberikannya pada si anak.

“Nak, coba kau cabuti beberapa paku itu?”, pinta ayah.

Tanpa pikir panjang, si anak mencabuti beberapa paku yang sudah ia tancapkan. Sesekali ia merasa kesulitan saat mencabutnya, bahkan ada yang tidak bisa ia cabut.

Setelah selesai, ia pun kembali bertanya pada sang ayah “Ayah, sekarang jelaskan”.

Ayah merangkul anaknya itu. Dengan pelan ia berkata “ Anakku, kau adalah buah hatiku. Ayah selalu menyayangimu, bagaimanapun kondisimu”

“Anakku, andai bambu itu adalah Hati. Dan amarah yang kau luapkan itu, adalah paku. Bisa kamu lihat, berapa banyak paku yang telah kamu tancapkan”

“Anakku, sadarkah kau, setiap kali kamu marah, sebuah paku kau tancapkan pada hati orang yang kamu marahi. Tak terasa, ada puluhan, bahkan ratusan paku yang kamu tancapkan. Itu artinya, puluhan bahkan ratusan pula kau telah sakiti orang yang kau marahi”

“Anakku, saat kamu minta maaf, itu ibarat mencabuti setiap paku yang telah kamu tancapkan. Namun, ada beberapa paku yang sulit kau cabut, bahkan ada pula yang tidak bisa kau cabut, iya kan ?”

“Anakku, kau lihat, ada bekas yang kamu tinggalkan setelah paku itu kau cabut. Ada lubang – lubang kecil, tempat paku itu menancap. Bisa kah lubang itu kau tutupi, dan menjadikan bambu itu sama seperti saat awal kita beli ?”

“Anakku, tidak mungkin bambu itu kembali seperti awal. Lubang – lubang itu, tak akan hilang sampai bambu itu membusuk dan melebur dengan tanah”

“Anakku, ayah sedih saat melihat kau marah. Sudah berapa banyak paku yang kau tancapkan dihati teman – temanmu ? sudahkah kau minta maaf ? yakin kah, bahwa luka bekas amarahmu itu hilang di hati teman – temanmu ?”

“Anakku, walaupun kau sudah minta maaf, luka di hati bekas amarahmu akan selalu ada dan tak kan pernah hilang sampai orang yang kamu marahi meninggal. Dan ia pergi dengan membawa luka yang pasti akan dimintai pertanggung jawbannya”

Suasana begitu hening, tak terasa air mata menetes dipipi si anak. Ia pun menyadari, berapa banyak orang yang telah ia sakiti, berapa banyak luka yang telah ia berikan. Dalam kesedihan yang mendalam, si anak bertanya “lalu, apa yang harus saya lakukan yah ?”

Ayah tersenyum, dan berkata “Hentikanlah kebiasaan burukmu itu, dan minta maaf lah kepada semua orang yang kau marahi. Berbuat baiklah pada meraka”

“Baik ayah, akan saya lakukan” jawab si anak lirih.

Sahabat, semoga kisah sederhana di atas memberikan motivasi untuk kita senantiasa mengendalikan emosi dan perasaan kita dari keinginan untuk marah.

Dalam sebuah riwayat, ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, “Berilah saya nasihat.” Beliau bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari).

Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Semoga Bermanfaat, Wassalam.

Dinda Agus Triyana, 25 Januari 2010

10 thoughts on “Satu paku, untuk Satu Kata “Marah”…

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s