Dilema 14 Februari …

EDISI SPESIAL VALENTINE
_____________________________________

“ maaf, hubungan kita cukup sampai disini. Aku udah ngerasa gak cocok lagi sama kamu. Semoga ini yang terbaik” – salam, Atika.

Remuk rasanya hatiku saat membaca secarik kertas merah jambu itu. Surat putus cinta dari kekasih yang sudah dua tahun bersama denganku. Dalam sedih dan senang, canda dan tawa. Sejak kelas 2 SMA sampai masuk kuliah. Sedihnya, saat orang lain merayakan hari valentine, aku harus menangis di kamar sendirian.

Entah apa gerangan sampai ia begitu tega memutuskan benang – benang cinta yang telah lama kurajut. Alasan “gak cocok” itu, masih terasa ganjil. Nampaknya, hanya alasan yang dibuat – buat saja. Mungkin sekarang ia sudah punya yang lain, yang lebih baik, lebih kaya, lebih ganteng, ideal, de-el-el, standar cowok tenar.

Saat seperti ini, sudah bisa kuperkirakan semenjak kami masuk kuliah. Jarak Bandung – Bogor tak lah begitu dekat. Aku harus melanjutkan studi ku di salah satu universitas keguruan di Bandung. Amanah kedua orang tua yang harus aku tunaikan. Sedangkan dirinya, memilih universitas negeri di bogor.

Mengenang masa SMA, kami pernah sepakat untuk satu kampus, namun ternyata itu sulit, usaha yang kami lakukan gagal. Akhirnya, kami ambil keputusan untuk Long Distance saja. Tetep jaga komunikasi, sms an, chat, telepon. Agenda rutin ketemuan tiap liburan.

Sekitar enam bulan semenjak mulai kuliah, hubungan kami masih terjaga, bahkan tambah lengket. Rasa kangennya dapet, kan udah sekian bulan gak ketemu.

Namun, semenjak pertemuan terakhir di libur Ramadhan kemarin, ia tampak berbeda. Selalu saja menolak untuk aku temui, alasannya dilarang orang tua, lagi ada tugas, lagi ada tamu, dan seribu satu alasan yang ia berikan. Tapi, sebagai pejuang cinta sejati, tak akan patah semangat dengan alasan itu. Saatnya menjemput bola.

Sabtu malam, beres tarawih, aku pergi berkunjung kerumahnya.setibanya didepan rumah, ku ketuk pintu dan kuucapkan salam. Yang keluar menyambutku ternyata ibunya Atika. Ia pun mempersilahkan aku duduk, namun aku menolaknya dengan alasan buru – buru. Langsung saja ku tanyakan keberadaan Atika.

Ternyata Atika tak ada dirumah, katanya sedang Mabit, Malam Bina Iman dan Takwa, di salah satu mesjid. Tanpa banyak kata, aku pamit dan pulang.

Sepanjang perjalanan, rasa heran menyelimuti diriku. Beberapa pertanyaan tentang Atika pun bermunculan di benakku. Ada apa gerangan dengan bidadari kecil ku itu. Jangan – jangan ia ikut aliran sesat seperti yang disiarkan di TV. Wah, bisa gawat, harus segera dihentikan.

Dua hari setelah itu, aku pun kembali berkujung ke rumahnya. Kali ini aku coba siang hari, kalo malam, takut Mabit lagi.

Yup, bener dugaanku, ternyata Atika ada dirumah. Sepintas terbayang wajahnya yang cantik, rambutnya yang panjang dan hitam, juga kulitnya yang putih. Rindu sekali aku padanya.

Namun, saat pintu terbuka, muncul sesosok wanita yang tampak asing bagiku. Pakaiannya begitu lebar, hampir menutupi seluruh tubuhnya. Bagian atas menggunakan jilbab yang panjang, sepanjang pergelangan tangan. Siapa gerangan dia, bisikku.

Alangkah terkejutnya diriku saat ia menoleh. Wajahnya, sangat aku kenal, matanya, hidungnya, dan senyumnya … itu, Atika. Dia berbeda sekarang. Ia pun duduk menjauh dariku. Biasanya, ia selalu ingin dekat denganku, padahal satu kursi sudah segaja aku rapatkan.😦 !!!

Beberapa saat, suasana begitu hening. Lama kuperhatikan dirinya,ia tak seperti dulu. Biasanya, dia lah yang memulai pembicaraan, soal kuliah, acara sinetron, atau bahas isi buku yang sudah ia baca. Aku masih ingat buku terakhir yang ia ceritakan padaku, Ketika Cinta Bertasbih.

“kak Fahri, gimana kabar ?”, Atika memulai pembicaraan, setelah lama suasana begitu hening.

“ba, ba, baik Tik”, kenapa begitu sulitnya kata itu terucap. Aku ingin bertanya balik, namun, tak kuasa lidah ini berucap, gugup sekali. Tak sedikitpun ia melihat padaku, wajahnya selalu tertunduk. Perasaan gak ada uang yang jatuh, kataku dalam hati.

“kak Fahri, kalo boleh Atika tau, ada apa datang kesini ?”, tanya Atika.

Ada apa ini, tak biasanya aku sulit menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Biasanya setiap pertanyaan aku jawab dengan sedikit bumbu cinta didalamnya, puisi atau pantun. Namun, sekarang bicara pun sulit.

“kak Fahri, maaf yah, Atika jarang balas sms kakak. Akhir – akhir ini lagi banyak kegiatan. Moga, kakak gak marah”, tuturnya.

Suasana mulai mencari, sedikit aku melihat Atika yang dulu telah kembali, Atika yang lugu.

“ oh, gak apa – apa kok, kakak ngerti. Dari dulu, Atika kan banyak kegiatan”. Akhirnya, rasa gugup itu mulai menguap.

“hemmm, syukurlah”. Ucapnya singkat.

Pembicaraan pun berlanjut dengan obrolan – obrolan ringan,yang gak penting. Obrolan yang biasa dilakukan oleh seorang “teman”. Dan Atika selalu menundukkan pandangannya, membuat rasa percaya dirikku nge-Drop.

Hari mulai sore, aku pun ijin pamit. Ku ulurkan tangan tuk berjabatan, namun Atika malah menyembunyikan tangannya dibalik jilbabnya yang besar itu. Tak sedikit pun ia berani menyentuhku, apa tanganku kotor atau bau yah, pikirku. Sebelum kesini kan, aku sempet mandi dulu.

Sejak pertemuan itu, hubungan kami mulai renggang. Enggan rasanya ku kirim sms yang bernada sayang, cinta, kangen, dan yang sejenisnya. Pernah sekali aku sms, bunyinya begitu kaku “Atika, besok kak fahri pulang lagi ke Bandung. Do’akan yah, semoga selamat di jalan”. Kemudian dia pun membalas “ya kak, hati – hati”. Setibanya dibandung, aku baca kembali sms itu, aneh rasanya. Kata – kata se-kaku itu aku tuliskan.

Sebulan setelah kedatanganku di Bandung, surat keramat itupun datang padaku. Yang isinya jadi sebuah kenyataan pahit yang harus ku telan. Kisah cinta yang terputus. Saat itu, aku merasa begitu sedih, karena kehilangan kekasih sejati yang selalu aku rindukan.

Setelah membaca surat tersebut, diriku teras hampa. Tak ada gunanya lagi hidup didunia, tapi aku tak sanggup bunuh diri, takut gagal. Yang ada, malah jadi bahan ejekan temen sekelas. Kuliah ku terlantar, malas rasanya melangkahkan kaki keluar kamar. Setiap hari aku tatap foto Atika yang nempel disetiap sudut kamarku, sebagian jadi koleksi di komputer. Ku ingat – ingat kembali saat – saat indah bersamanya. Namun, semakin aku mengingatnya, semakin sakit rasanya hati ini. Aku pun mencoba melupakannya, tapi, ternyata usahaku itu malah membuat semakin  ingat padanya.

Dalam kondisi putus asa yang mendalam, hampa dan tak berdaya. Datanglah seorang teman yang menghiburku, dan memberikan motivasi padaku. Namanya Furqon, pria muda, pintar dan murah senyum. Tanpa kenal lelah, ia selalu menghiburku, sesekali memberikan nasehat padaku.

Sejak saat itu, Furqon ku anggap sebagai sahabat baikku. Sedikit demi sedikit bayangan Atika mulai hilang dari benakku. Selain menumbuhkan semangat dan rasa percaya diriku, Furqon pun membantu menyelesaikan tugas kuliah yang lama aku tinggalkan, alhasil, nilai IPK ku masih bisa bertahan di angka tiga koma.

Furqon adalah seorang mahasiswa yang sangat sibuk dengan berbagai agenda di kampus. Kebanyakan kegiatan yang ia pegang bernuansa islami. Ia terkenal dengan sebutan Aktifis Dakwah Kampus, atau ADK. Aku senang dengan kepribadian Furqon yang nyantai, gaul tapi islami. Saat mengobrol denganku, jarang sekali ia memakai kata – kata keramat yang biasa ia gunakan kalau sedang mengobrol dengan sesama ADK.

Walaupun, terkadang aku yang aku yang mulai menggunakan kata keramat itu. Saat aku tanya kabar, “Akh furqon, khaifa haluk ?”, ia pun tersenyum dan menjawab, “Alhamdulillah, Khoir. Antum ?”, aku pun menjawab persis seperti jawaban Fruqon.

Kadang ku jadikan kata keramat itu, sebagai bahan lelucon. Misalnya, logat anak muda jakarta “elu elu, gua gua”, nah aku translete jadi “ente ente, ane ane”. Atau saat aku gunakan logat di film – film nuansa islami yang ada saat itu. Semua itu jadi bumbu persahabatan diantara kami berdua.

Beberapa bulan kemudian, Furqon mulai melibatkan saya dalam sejumlah kegiatan. Pertama sekali, ia berikan jabatan wakil ketua. Bangga sekali rasanya, bisa langsung jadi wakil ketua. Walaupun ada rasa cemas dalam menjalankan amanah yang begitu besar. Namun, dengan dukungan dan bantuan dari panitia yang lain, acara tersebut berjalan lancar.

Semakin lama, aku semakin menikmati suasana yang begitu hangat dan menyenangkan. Teman yang ramah, tutur kata yang sopan, dan sikap saling menghargai yang begitu kental. Tak terasa, 6 bulan berlalu, aku terjebak di jalan yang benar.

Sedikit demi sedikit, pemahamaku tentang islam meningkat, hapalan al-qur’an bertambah setiap minggu, shalat mulai teratur dan berjamaah, shaum sunnah, semua tertata begitu rapih, aku merasa nyaman sekarang.

Semangatku dalam mengkaji ilmu keislaman, mengantarkan aku, jadi duta kampus untuk lomba debat tingkat provinsi. Babak penyisihan aku lalui dengan cukup mudah, hingga perempat final, hampir saja kalah, dan akhirnya sampai ke final.

Saatnya lima jagoan debat bertemu dalam satu ruangan, diantaranya dua orang dari Bandung, termasuk saya, satu orang dari Sukabumi, satu orang dari Cimahi, dan dua orang dari Bogor. Saat itu juri membacakan profil dari seluruh finalis. Saat dibacakan profil perwakilan dari Bogor, aku terkejut, karena diantara dua orang perwakilan, salah satunya bernama Atika. Gadis muda belia, yang pernah jatuh cinta padaku, dan pernah menjadi tempat berlabuhnya hati ini.

Aku meliriknya, ia pun menoleh kearahku dan tersenyum. Benar dugaanku, dia Atika. Hampir saja rasa heran itu membuat aku kalah dalam lomba debat. Beberapa pertanyaan terlewat tanpa jawaban yang tepat. Untungnya aku segera mengalihkan pandangan ke arah sahabatku, Furqon yang terus memberikan ku semangat. Hingga konsentrasiku kembali.

Lomba berlangsung meriah. Ruangan itu serasa dipenuhi hadist dan ayat al-qur’an, ijma, dan qiyas, serta riuh tepuk tangan penonoton. Pada saat itu, Atika begitu brilian dalam menyampaikan pendapatnya. Semua orang terpukau, dan bertepuk tangan saat ia selesai berbicara. Namun, aku tak  mau kalah, didepan sahabat yang begitu mempercayaiku, aku harus memenangkan lomba debat ini.

Disisa waktu pertandingan perhatian penonton terpaku pada kami berdua, aku dan atika. Hingga sebuah pertanyaan terakhir dilontarkan panelis.

“Sebenarnya, pertanyaan sudah habis, namun, melihat semangat anak muda seperti kalian, ada satu hal yang begitu menarik, apalagi kalau bicara Cinta. Katanya, Cinta dapat mengikat dua orang insan, ikhwan dan akhwat. Nah, saya ingin tahu, Apa Arti Cinta bagi kalian ? “

Penonton pun tersenyum. Furqon memandangiku, ia tersenyum lebar. Secara, dia tahu semua kisah tentangku dan Atika. Kami berdua terdiam, dan saling tatap walau hanya beberapa detik. Atika menjawab dengan sebuah puisi :

“Menurutku,
cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,

mengubah sedih jadi riang,

mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan
mengubah kandang jadi taman
mengubah penjara jadi istana
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah
itulah cinta!”

Penonton begitu terpukau akan jawabannya. Aku ingat puisi itu pernah ada di sebuah film dari buku yang ia baca dulu, aku pun membalas puisi atika :

“Mmm… cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai  kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!”

Penonton semakin riuh dengan tepuk tangan dan sorakan.

Beberapa menit Kemudian tim juri mengumumkan pemenang perlombaan.

“Debat yang sangat menarik. Kita menyaksikan insan muda yang memiliki pemahaman agama yang luar biasa. Semua pertanyaan terjawab dengan memuaskan. Namun, dengan berat hari saya sampaikan bahwa, hanya satu orang yang pantas mendapatkan predikat master debat dalam perlombaan kali ini. Dan, yang mendapatkan predikat master debat tahun ini, adalah … “

Ruangan begitu hening, penonton diam layaknya patung batu. Tak ada suara selain degupan jantung yang kurasakan semakin kencang.

“Predikat master debat tahun ini, jatuh pada Fahri Khairul Imam, dari Bandung”

Aku langsung sujud syukur atas kemenangan yang aku dapatkan, tetesan airmata bahagia pun membasahi pipiku, begitu pun dengan sahabat ku Furqon yang ter-isak isak menahan tangisnya. Suasana haru biru mewarnai ruangan itu.

Selepas penyerahan piala dan piagam penghargaan, Atika tersenyum padaku dan membisikkan kata selamat dari jauh. Akhirnya kami pun berpisah.

Tiga hari setelah perlombaan, masih terbayang di benakku adalah senyuman perpisahan Atika. Hal ini aku ceritakan ke Furqon. Ia membalas dengan senyuman, dan menyarankan untuk khitbah saja.

Khitbah ?, ya, apa salahnya. Toh, ma’isyah udah mapan, orang tua juga setuju – setuju aja. It’s Show time, saatnya nyusun ‘proposal’. Kurang lebih satu bulan aku siapkan segala persyaratan untuk khitbah, baca buku tentang pernikahan, keluarga bahagia, sambil dilengkapi tahajjud dan do’a. Awal bulan Februari, semua persyaratan sudah siap.

Tanggal 14 bulan februari, akan jadi hari yang bersejarah. Saatnya melepas status lajang. Penampilan udah rapih, tiba saatnya berangkat. Selesai menyantap sarapan, pintu depan diketuk. Ada tamu rupanya. Ternyata Furqon yang datang.

Aku pun tanyakan maksud kedatangannya. Dia hanya membalas dengan senyuman, sambil menpuk pundakku. Wah, ada yang aneh neh. Apa gerangan yang terjadi.

Furqon duduk didepanku, dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebelum menyerahkannya padaku, ia berkata,” ada kalanya, punguk selalu merindukan bulan. Saking sibuknya, Ia hanya diam dan menunggu. Padahal, ada banyak Bintang disekitarnya”.

Kemudian, sepucuk surat ia berikan padaku. Halaman depan betuliskan dari tinta emas, akad nikah, minggu, 15 Februari 2009, Feri Firmansyah dan Atika Afnan Jannati.

Badanku lemas, pikiranku buyar tak karuan. Teringat kembali kejadian 14 februari tahun lalu. Tapi ini, lebih menyakitkan.

Tak lagi aku berputus asa, atau mencoba bunuh diri. Aku sudah terlatih menghadapi keadaan seperti ini. Furqon memberikan beberapa kalimat motivasi, saran dengan sedikit guyonan. “Nasi sudah jadi bubur, gak bisa dibalikin lagi seperti semula, tinggal cari cakwe, kerupuk, daging ayam, jadi lah bubur ayam spesial”, katanya.

Mungkin ini jalan yang terbaik bagi ku dan dirinya.

Kesesokan harinya, aku berangkat bersama Furqon ke tempat pernikahan Atika. Aku ingin mengucapkan salam selamat tinggal padanya, semoga ia bahagia bersama kehidupan barunya. Dan aku berharap, mendapatkan pasangan yang sesuai denganku … namun satu hal, kutulis dengan Huruf besar diakhir catataku,aku ingin mematahkan mitosku tentang 14 Februari, satu kalimat …

–          Aku ingin menikah di tanggal 14 februari

————————————————————————————————————————————-

Salam Celoteh

Dinda Agus Triyana

24 thoughts on “Dilema 14 Februari …

  1. wah, ini fakta ya boz? ceritanya hampir sama dengan KCB?
    jodoh memang rahasia Ilahi, percayalah bahwa suatu saat nanti akan bertemu jodoh yang terbaik

    salam dari bogor, tetangganya ATIKA hehehe…

  2. Terus Semangat Saudaraku,
    Meskipun Fiksi atau Fakta
    Ingatlah Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik (begitu pula sebaliknya) wallahu a’lam bisshawab

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s