Khitbah ? (Bagian 1)

Kisah ini adalah kisah bersambung, menceritakan tentang seorang muslimah, mahasiswi di sebuah universitas di Bandung. Namanya Azizah Nur Fatimah, gadis berumur  20 Tahun.yang sering dipanggil Izah, cantik dan baik hati, cuma polos banget. Untungnya dia punya empat orang teman yang selalu menjaganya. Wina, Lia, Ayu, dan Icha. Wina dan Lia adalah teman sekosan, sedangkan Ayu dan Icha, beda lokasinya.

Suatu hari, Izah mendapat kabar bahwa dia dilamar seorang mahasiswa di universitas tetangga, yang juga merupakan kakak kelasnya semenjak SMA. Sekelumit kisah terjadi setelah kabar itu sampai ke telinganya, hingga sampai di sebuah keputusan  …  akhir sebuah cerita cinta.

———————————————————————————————————————

Aku dilamar ! Tidaakkk”, Izah menjerit, bangunkan Wina yang lelap tertidur. Kemudian terdengar suara hentakan kaki dari luar kamar. Lia berlari dari kamar sebelah, lalu membuka pintu kamar, nafasnya tersengal – sengal.

“Izaaaah … beneran, siapa ?”, tanya Lia.

Wina yang baru terbangun,  belum faham situasi yang terjadi. Ia mengusap – usap matanya, sesekali menguap. Dengan nada suara yang berat, ia bertanya “ihhh … napa sih, ribuuut mulu! Berisik tau!”

“Izaaah, cerita! Siapa orangnya ?”, desak Lia.

“Aduuhh, gak bisa apah pelan – pelan. Cerita apaan sih… kalo gak penting, entar siang aja deh, ngantuk banget neh”, Wina mulai kesal.

“Eh putri tidur, jangan ganggu. Ini penting banget, kamu aja dah yang pindah ke kamarku”, kata Lia.

Wina pun bangkit dari tidurnya, ditatapnya Lia dengan tajam. Matanya yang merah terlihat jelas. “heh, nenek sihir. Enak aja kau, nyuruh pindah. Dibayar sekalipun, gak akan mau tuh tidur dikasur mu itu. Gak enak, udah keras, gatel pula, iihhh, geleuh”, bentaknya.

Lia maju beberapa langkah, lalu ia hadapkan wajahnya tepat didepan Wina. Mereka pun saling tatap, “heh, enak aja bilang kasurku keras, gatel pula. Itu mahal tau, dua kali lipat dari kasur kucel mu ini, mana bau. Gak pernah dicuci yah ? hueekk”, sindir Lia.

Wina pun makin kesal, ia ambil bantal guling dan melemparkannya tepat mendarat di muka Lia. Lia mencoba merebut bantal guling dari tangan Wina,namun pegangannya terlalu kuat. Rebutan bantal guling pun terjadi, tak hentinya mereka mengejek satu sama lainnya.

Woooyyyy, ribuuttt banget. Malu ih, entar dimarahin bu kosan, suruh bersihin rumah loh”, Izah mencoba melerai mereka berdua, lalu ia ambil bantal gulingnya. “kalian ini, udah gede, masih aja berantem”, lanjutnya.

“Dia tuh yang mulai Zah!”, kata Wina.

“Eh eh, enak ajah. Kamu tuh yang mulai, pake buat pembelaan segala lagi”, balas Lia.

“Emang bener kok, gak usah ngeles dah!”, kata Wina.

“Iihhhh, udah, cukup! Kalian berdua yang salah”, kata Izah. “Ngapain pula pada berantem, kalian kan temenan. Sama – sama hobi tidur juga”, lanjutnya.

Wina dan Lia terdiam, raut muka kesal masih terlihat jelas.

“Sekarang minta maaf, gak ada lagi berantem – beranteman. Kalo mau adu kekuatan, ditempat Fitnes bang Andi aja tuh. Biar sehat sekalian”, kata Izah.

“Bang Andi ?”, kata Wina dan Lia bersamaan.  Kemudian mereka pun tertawa. Mengingat Izah yang begitu polos dan lugu, bicara tentang Fitnes, pake salah sebut yang punya nya pula. Seharusnya kan Bang Randi.

Izah tersenyum, mukanya memerah.

“Ehem, balik ke topik yang awal, siapa Zah?”, tanya Lia, lalu ia duduk disebelah Izah.

“Bentar, belum konek neh. Kalian tuh bahas apaan sih?”, kata Wina.

“Gini win, sebelumnya maaf yah, dah ganggu malem – malem. Tadi tuh, aku denger dari kamar, Izah bilang soal ‘dilamar’. Makanya aku cepet – cepet kesini”, jelas Lia.

DILAMAR ? , siapa Zah ? anak mana ? ganteng gak ? calon dokter ?”, tanya Wina. Wajahnya berubah cerah, matanya bersinar. Ekpresi standar kalo denger soal gossip terbaru.

Izah terpaku melihat kedua sahabatnya yang berubah drastis. Tak satupun kata ia ucapkan. Bingung mau jawab apa.

“Izaaaah, bangun hoy!, jawab dong”, desak Wina.

“Sabar dong, bingung neh mau jawab apa. Lagian, siapa pula yang dilamar”, kata Izah.

“Loh, tadi, aku denger sendiri, kamu bilang ‘Aku dilamar! Tidaaak’ ”, kata Lia.

“Gak dilamar, Cuma ada yang dateng aja kerumah di kampung. Saya aja yang berlebihan, supaya lebih mantep gitu kedengerannya, he he”, kata Izah.

yeee, dikira beneran”, kata Lia. “terus, siapa yang dateng tuh ?”, lanjutnya.

“Bang Andi yah ?”, kata Wina, sambil melirik centil.

“hemm, iya, namanya Andi”, akhirnya Izah mengalah.

ayo, sekarang jelasin, gimana ceritanya sampe si Abang dateng ke rumah mu ?, emang siapa sih abang mu itu ?”, kata Lia.

Izah diam sejenak, kemudian menghela nafas panjang. Nampaknya udah gak bisa menghindar lagi, terpaksa harus diceritain semuanya.

“Baeklah, dengerin bener – bener yah, gak usah banyak tanya”, Izah angkat bicara.

“Oke! bu Peri”, jawab Wina dan lia bersamaan.

pyuhh, kalian neh. Selalu aja maksa kalo pengen sesuatu”, kata Izah.

Izah berdiri, lalu mengambil segelas air putih. Ia meminumnya, hingga habis tak bersisa, kemudian duduk kembali.

“Namanya Andi, mahasiswa IPB, jurusan bahasa jerman,  angkatan 2005. Dia kakak kelas Izah waktu SMA. Orangnya baik, sopan, humoris. Kulitnya putih, tingginya standar, gak tinggi banget juga gak ganteng banget, beda jauh lah sama Kang Jaka”, jelas Izah.

“Hemmm, kalo dibayangin sih, kayaknya mirip sama Kang Yanuar yah ?”, kata Wina.

“Yup, bener benget, Cuma beda tinggi, dan lebih putih”, kata Izah.

“Nah, sekarang, ceritain gimana kronologis-nya sampe tu Abang dateng ke rumah ?”, tanya Lia.

Izah berdiri lagi, lalu mengambil segelas air putih, dan menghabiskannya. Ia duduk diantara kedua sahabatnyaa.

“Akhir tahun kemaren, gak sengaja kami ketemu di toko buku. Waktu itu, dia lagi nyari buku untuk keperluan skripsinya. Terus dia minta ditemenin, aku sih terima ajah. Terus, kebetulan dia bawa motor, jadi sekalian aja Izah pulang bareng dia”,

“Nah, beres hari itu, kita sms-an, kadang dia juga telepon. Tapi, gak ada pernyataan lamaran atau yang sejenisnya. Tiba – tiba, di awal tahun dia ngajak ketemuan, pas banget di malam tahun baru. Saat itulah, dia bilang soal nikah”, jelas Izah.

Wina dan Lia diam seribu bahasa. Mereka mendengarkan dengan teliti, tak satupun kata luput dari pendengarannya.

“Ternyata, sebelum itu, dia udah datang kerumah. Ortu sih setuju – setuju aja, gak tanya – tanya dulu”, lanjutnya.

“Hemmm, kayaknya dia serius dah Zah ?”, kata Wina.

“Terima aja langsung Zah, ntar kita berdua bantu buat acara akad nikahnya”, kata Lia.

“iiih, kalian tuh yah, asal ngomong aja. Emangnya gampang apah ngasih keputusan ?, ini masalahnya panjang, masa depan ku. Gimana kalo ternyata dia Cuma main – main, trus aku terima, baru beberapa bulan nikah, langsung cerai”, kata Izah. “yang ada, jadi Janda Muda. Ihhhh, ogah banget dah”

“Ya udah , terus gimana dong ? cepet ambil keputusan, entar keburu disambet orang loh”, usul Lia.

“Tau ah, masih bingung. Mau istikharah dulu, moga diberikan petunjuk”, kata Izah.

“Ya udah, saran saya sih, terima aja. Gak apa lagi, jadi janda Muda, asal kaya!”, kata Lia, sambil berlari keluar ruangan.

Wina tersenyum, “Hemm, bener juga, janda Muda … bagus juga tuh, gak ada salahnya nyoba kan ?”, katanya.

Izah mengambil bantal guling, dan mendaratkannya tepat di kaki Wina. Wina tertawa kecil, dan melanjutkan tidurnya kembali. sedangkan Lia, sudah lari duluan ke kamarnya,  aman dari amukan Izah, ia kunci pintu kamarnya rapat – rapat, hingga Izah tak bisa masuk.

Izah menyerah dan kembali ke kamarnya. Ia tutup pintu dan langsung naik ke tempat tidur, mencoba tenangkan diri. Ingin rasanya segera melihat cahaya mentari yang indah esok hari. Ia pun menutup matanya perlahan, hari yang melelahkan. Terutama hati ini … dan Izah pun tertidur.

–  Bersambung –

13 thoughts on “Khitbah ? (Bagian 1)

  1. kak, masa saya salah kirim komen,, hhe..
    malah di artikel yang satunya lagi noh..tar tolong di delete ajah yak..;)

    hha..
    namanya mirip ama saya ya ?
    tapi beda sih, saya punya dua buat huruf Z-nya..
    he…
    sambungannya mana ?

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s