Ada Apa Dengan Tasik (AADT)

Ter-isnpirasi dari Film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) muncullah judul tersebut, walau gak nyambung sedikitpun sama Film itu.  Whatever!, yang penting nulis. Buat yang ngerasa orang Tasik, Asal Tasik, Tinggal di Tasik, Kuliah di Tasik, Sekolah di Tasik, keturunan Tasik, atau pernah megang Bis jurusan Tasik, mesti baca tulisan ini.

Pertama kali dengar kata Tasikmalaya, terlintas dalam benakku kota yang kumuh, desa, pedaleman, gak ada listrik, gak ada mall, kecil, dan miskin. Pokoknya, kalo lihat orang Tasik lewat di depan, ada saja prasangka, orang desa lewat.

Yang ngerasa orang Tasik, jangan marah dulu … belum beres kisahnya neh !

Bulan ini untuk ke tiga kali-nya saya berkunjung ke Tasik. Angin apa yang lantas membawa diri ini berkali – kali ke Tasik, padahal udah 6 bulan belum menginjak lagi kota tercinta, Rangkasbitung. Kemudian, kunjungan itu merubah TOTAL penilaianku tentang kota Tasik.

Ada beberapa kota yang masuk dalam kategori, My Favorite Place. Peringkat pertama, kota kelahiranku, kota kecil dengan berjuta kenangan, Rangkasbitung. Peringkat kedua, kota batik, tempat kesayangan ayah dan ibu, Yogyakarta. Dan peringkat ketiga, dengan segala hormat ku berikan pada kota kecil, nan berjuta warna … Tasikmalaya. Peringkat ke-empat dan seterusnya, beda ceritanya.

Kenapa peringkat ke-tiga ditempati oleh Tasikmalaya ? Ada Apa Dengan Tasik ?

Entah kenapa, terakhir kali berkunjung ke Tasik, merasa seperti Pulang Kampung. Walau harus melewati jalan nan berliku, Nagreg, dan berdebar hati saat melewati Gentong. Untungnya, belum pernah terjebak di Gentong. Perjalanan selama 3 jam lebih, mengundang rasa lelah dan kantuk.

Namun, saat tiba tempat tujuan, langsung disambut senyum hangat sahabat Tasik. Suguhan makanan kecil, dan minuman hangat, hilangkan lelah dan kantuk. Tanpa harus meminta, sajadah ditebarkan sebagai tempat sujud dan syukur pada illahi rabbi, atas semua nikmat yang diberikan-Nya.

Kuliner jadi agenda selanjutnya. Setelah lelah terbayar lunas, berjalan keliling bagian kecil Tasik, Dadaha. Jalan khas pedesaan, kiri – kanan sawah dan beberapa pohon, juga rumah yang sederhana, ditemani warung – warung kecil. Nikmati surabi 500 rupiah, ditemani teh hangat. Dan satu hal yang tak terlupakan, Tutug Oncom (TO). Entah sihir apa gerangan dalam bubuk oncom yang ditabur diatas nasi putih itu, seakan mengikat hati untuk datang kembali.

Harga nya sangat terjangkau, cuma 3.500 rupiah, tanpa gorengan. Dapet bonus sambel dua jenis, lenca dan irisan timun, tak lupa teh anget. Maksud hati bawa beberapa bungkus buat oleh – oleh, apa daya Ramuan Pengawet TO, belum ada. Jadi, Cuma bisa dikenang lewat ingatan dan rasa.

Bukan cuma tutug, ada hal lain yang mengikat hati dengan kota itu. Orang Tasik itu sendiri. Teringat jelas, ibu penjual surabi, celotehan teh ika, penjaga penginapan, kata tulus dari ibu ‘kasep kacida’, dan teman sebayaku.

Tak usah ku sebut namanya, siapapun yang merasa, dengan tulus memberikan tempat istirahat, sekaligus tempat berbagi, tukar cerita dan pengalaman, tanpa pandang siapa dirinya dan apa jabatanya. Dengan setia menemani jalan – jalan pagi keliling lapangan. Ada juga yang sedia mengantarkan cemilan di pagi hari, sebelum tugas aku laksanakan, menyediakan hidangan yang nikmat, ikan goreng, sambal, lalap, tempe dan tahu, dan segelas mineral water.

Saya bukan turis dikota itu, melainkan ‘tamu agung’ yang datang. Namun, saya sendiri merasa jadi anak Tasik untuk beberapa saat, hanya tak punya rumah disana.

Apapun bentuk keindahan yang saya paparkan, hanyalah pendapat seorang bocah petualang. Bocah yang sering menyebut dirinya Si Kucing.

Selamat untuk Kota Tasikmalaya, sampai jumpa lagi.

27 Februari 2010,

Salam CeLoTeh, Salam Si Kucing

Dinda Agus Triyana,

11 thoughts on “Ada Apa Dengan Tasik (AADT)

  1. waaa sebuah kebanggan ni buat tasik dapet urutan ke-3!haha

    waktu survey kita ga jadi makan TO bareng boi,, kepagian!heu.. kapan2 jadiin yo!

    wilujeng sumping di kota Tasik😀

  2. hehe, mantap beh!! Asa jadi makin bangga jadi orang tasik. Nuhun udah suka sama tasik, gina ja blum bikin artikel ky gini, he😛

  3. iya neh…setelah hampir 4 tahun gak pernah ke tasik,februari kmrn aku kesana….wow..kota ini benar-2 telah berkembang pesat kayaknya…bangunan-2 modern kyk mal,rmh sakit,pertokoan sdh mulai di bangun dimana mana….bahkan infonya hotel sekaliber santika aja mau buka di sini….hemm..pasti kedepan tasik bakalan tambah rame….salam buat temen-2 di tasik..

  4. wah simkuring bangga janteun warga urang tasik……..
    tasik kota kabanggaan urang sararean………
    iraha wae pami si kucing ka tasik deui sindang heula nya…..
    di antos kasumpingan nana…..
    hatur nuhun

    salam perdamaian

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s