Surat Cinta, Untuk Sahabatku …

Dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karena sesuatu …

—————-

Hallo … ada apa ?”, jelas sekali aku dengar suaranya mengangkat telepon, setelah dering ringtone kepompong miliknya berbunyi. Melamun sendirian di kursi belakang, begitu teliti ku perhatikan ekspresi mukanya saat mengobrol dengan orang lain nan jauh disana, penuh senyum dan tawa. Dulu, ia seperti itu padaku, namun sekarang … tidak lagi.

Setelah ‘kejadian itu’, tampak ada jarak yang jauh membentang antara kami berdua. Entah, apa karena kejadian itu, atau kejadian yang lain, yang jelas hal ini menyita hari – hari ku untuk memikirkannya. Namun, aku malu menanyakan padanya “kenapa sih, kamu sekarang berbeda ?”.

Sejenak terlintas dalam benak, “ah, mungkin Cuma perasaanku saja …”. Tapi, melihat respon nya saat chat, atau message yang aku kirimkan padanya, jelas sekali ada yang berbeda. Tak se-agresif dulu, bahkan jarang di balas. “pyuh, menyedihkan … padahal, sudah menunggu balasan nya berhari – hari”.

Sampai hari ini pun, ia masih begitu. Serba abu – abu bagiku, bahkan sering tanpa warna. Semua tampak samar, berkabut, remang – remang.

Andai, aku bisa memainkan gitar itu, kan kulantunkan sebuah lagu. Sebagai, permohonan maaf dariku, atas kesalahan di masa yang lalu.

Sedih bila kuingat tengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang tlah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Tak kan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

Akankah, kondisi ini terus berlangsung sampai tahun ter-akhir perkuliahan ini. Terbayang sudah, saat – saat perpisahan yang hampa, tanpa sapa. Terbayang sudah masa – masa indah yang pudar, meninggalkan oretan luka dalam hati.

Namun, nan jauh dalam lubuk hati, terus berbisik usik menggelitik. Ingin rasanya ku rajut kembali persahabatan itu, indah laksana kupu – kupu di taman bunga. Manis semanis madu lebah pekerja. Riuh seriuh ombak di lautan, bawa nada – nada penenang jiwa.

Andai waktu dapat diputar kembali, ingin sekali ku lihat senyuman mu, tawa dan candamu, tingkah kekanak – kanakan mu, dan dirimu yang ceroboh.

Dinda Agus Triyana, 28 Februari 2010

———————————————————————————————————————————————————————

Artikel rujukan :

17 thoughts on “Surat Cinta, Untuk Sahabatku …

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s