It’s Miracle ?

Sebuah kisah True Story, berdasarkan pada pengalaman seorang teman saat mengumpulkan dana untuk sebuah kegiatan. Kisah yang memberikan pelajaran bahwa, usaha yang sungguh – sungguh dengan niat yang Ikhlas, akan mendapat pertolongan yang luar biasa dari Rabb, sang Maha Kuasa.

Selamat Membaca …😀

————— Celoteh —————

Pagi hari buta, mentari masih lelap diperaduannya, suara jangkrik riang ber-celoteh, sesekali terdengar derungan mesin sepeda motor melintas, angin berhembus membelai jilbab putih, membuatnya berkibar ciptakan gelombang seperti ombak dipesisir pantai. Wajahnya putih berseri, cantik, tinggi semapai. Bulu mata yang lentik, dan wajah yang penuh dengan senyuman, memancarkan keanggunan seorang muslimah. Dengan terampil, jemari kecilnya merapihkan gorengan dan kue donat, berjajar dalam sebuah wadah. Sesekali terdengar senandung lagu – lagu islami, dengan merdu ia lantunkan.

“Mba Dian, udah beres semua ?”, seorang gadis dengan mengenakan gamis bercorak bunga datang menghampiri. Jilbab coklat yang ia kenakan, membuat wajahnya yang putih tampak bersinar.

Hemmm … tinggal satu lagi, itu yang terakhir”, jawab ku. “bisa tolong bantu, biar cepat selesai”

“Oh, siap mba”, Vivi langsung menyambar wadah berisi gorengan dan donat yang tak tertata rapih. Dengan terampil, ia susun satu persatu jajanan itu.

“Mba, hari ini bawa tiga wadah saja, apa gak terlalu sedikit ?”, tanya Vivi sambil sibuk menyusun jajanan. “kita kan masih butuh banyak dana”

“Lebih baik sedikit, tapi habis terjual. Daripada banyak, tapi sedikit yang terjual. Bisa berabe buat nutupin ruginya, bukannya untung malah buntung”, jawabku.

“Lagi pula, bukan masalah berapa keuntungan yang harus kita pikirin, yang penting tuh, seberapa besar usaha yang mampu kita lakukan, gitu Vi”

Hemmm … iya juga, kalo terlalu banyak, udah berat trus kalo gak laku, bisa gede banget ruginya”, balas Vivi.

Yup, bener banget Vi. Biar sedikit, kita usahakan semua terjual, tapi inget … “

“Inget apa mba ?”

“Luruskan niat, keuntungan yang kita dapet, semuanya buat acara bakti sosial, sedekah. Bukan buat pamer, atau keuntungan sendiri”

“Siap bu ustadz, biar keringat kita yang menjadi saksi diakhirat nanti, lalu syurga lah keuntungan yang kita peroleh”

”Pinter juga kamu, sering ikut pengajian yah ?”, tanyaku sambil tersenyum simpul melihat adik kecilku yang sudah dewasa.

“Iya dong, apalagi yang sabtu sore, hi hi …”, jawab Vivi sambil tersenyum centil. Wajahnya menerawang, membayangkan pengajian hari sabtu sore.

Hey hey … pengajian itu, buat nambah ilmu. Bukan nyari ustadz yang ganteng dan soleh”, kataku.

Vivi tersipu malu, ia hanya tersenyum menatapku. Mengingat pengajian hari sabtu biasa diisi oleh ustadz Hafidz, pemuda tampan, lulusan Kairo. Wajar saja, kalo mahasiswi seusia Vivi begitu semangat ikut gabung dalam pengajian.

“Kalo semangat buat lihat ustadz nya, entar kalo misalnya ganti orang, gak mau lagi tuh ikut pengajian. Sayang sekali, pahala yang didapet hilang sudah”, nasehatku pelan.

Hemmm, iya mba … harus luruskan niat, tul gak ?”

“Betul itu, seratus buat kamu”

“Tapi, kalo sesekali, boleh kan ? “

Huh, dasar anak muda”, jawab ku, sambil mengusap lembut kepala Vivi yang terbalut jilbab coklat itu. “susah di nasehatin, entar kalo suka beneran, bisa berabe loh …”

“Iya deh mba, Vi bakal inget saran mba. Becanda kok, viisss “, balas Vivi sambil tersenyum centil.

Aku balas dengan senyuman, lantas kembali menyusun jajanan. Hari sudah semakin siang, mentari perlahan mengintip dibalik awan kelabu. Bergegas kami dan empat orang temen kosan membereskan jajanan. Kalo terlalu siang, Gasibu sudah kosong, gak ada orang lagi.

“ Temen – temen, hari ini agenda kita jualan gorengan dan donat di Gasibu. Kita bagi jadi tiga tim, Yeni dan Dewi, ke arah utara. Widya dan Nisa kearah selatan, sisanya Saya dan Vivi di bagian tengah, soalnya kami biasa olahraga disana. Gimana ?”, kataku sambil membagikan wadah jajanan, lengkap dengan plastiknya ke masing – masing kelompok.

Siaaap bos, kemanapun arahnya, tetep satu tujuan”, jawab Yeni.

“Ho ho ho, bener banget. Utara, selatan, timur dan barat, gak jadi masalah, yang penting tugas terlaksana”, balas Widya.

“Bagus, nampaknya kalian udah siap”, kataku. “tapi, inget satu hal …”

“Apaan tuh ?”, tanya Nisa.

“Luruskan niat, keuntungan yang kita dapet buat acara baksos. Niatkan ibadah, biar segala yang kita lakukan dapet imbalan pahala yang melimpah”

“Oke mba. Nyantai aja, lagian itung – itung olahraga pagi, tul gak?”, kata Widya.

“Tapi … kalo sekalian nyari … hi hi”, sindir Vivi.

“Nyari apa Vi, kucing ? “, balas Nisa.

“Pasti banyak yah yang imut, dan … “, lanjut Vivi.

“cetak!!“, kepalan tangan tepat mendarat dikepala Vivi. “ masih aja yah, inget godzhul bashar, awas aja kalo ketauan ngecengin cowok, gak boleh masuk kosan satu minggu FULL”, tegasku.

Adeuuhhh, sakittt …”keluh Vivi. “ Tega bener sih mba, ntar kalo aku jadi bodo, gimana ? hapalan qur’an ilang, trus geger otak, gak bisa kuliah deh”, lanjutnya.

CETAK!!”, untuk kedua kalinya, bogeman mentah mendarat dikepala Vivi.

adeeeeuuhhh … sakiiitttt….”, keluh Vivi.”Mba!! tega banget sih, sakit tau”, lanjutnya sambil mengusap kepalanya.

“habis, gak bisa dibilangin sih …”, balasku.

“kan becanda mba … “, protes Vivi.

Tak tega melihat wajah lugunya memelas kesakitan, aku pun mendekat dan menusap kepalanya. “ iya, mba gak bermaksud nyakitin kok. Mba Cuma khawatir, kalo dibiarin ntar malah jadi beneran”, nasehatku, “lebik baik mencegah, daripada mengobati, tul gak

Vivi hanya diam tak berbahasa. Aku paham betul tabiat nya, jadi kubiarkan ia seperti itu. Paling, 10 menit lagi, dia udah gak marah.

Setelah semua persiapan selesai, kami pun berangkat sesuai tim yang sudah disepakati. Berjalan beberapa menit susuri trotoar jalan, kami pun sampai di lokasi, Gasibu. Kemudian, kami berpencar, Aku dan Vivi langsung berbaur bersama orang – orang yang sibuk menikmati pagi hari yang indah.

Ada yang berlari – lari kecil, duduk santai di bawah monumen, tawar menawar harga dengan pedagang emperan, ada juga yang sibuk “mojok” dengan kekasihnya. Sayang sekali, pagi hari yang indah di isi dengan butiran dosa kemaksiatan.

“Vi, masih marah ?”, tanyaku cemas.

Hemmm … enggak kok, Vi emang salah mba, gak akan lagi dah “, jawabnya, sambil tertunduk malu.

“Syukurlah, sekarang saatnya kita jualan, moga hasilnya banyak”,kataku.

“Ayo kita c’mon … “, Vivi terlihat bersemangat.

“Gorengan – gorengan … ayo beli gorengannya …”, teriakku kencang, mencoba menyaingi riuhnya pedagang disekitar.

“Donat – donat, donat rasa coklat, keju, dan blueberry …”, Vivi pun ikut teriak. Sambil sibuk menanyai setiap orang yang lewat.

Satu persatu kami tawari, setiap orang yang melintas tak satupun kami biarkan lewat begitu saja sebelum dapat sapaan donat – gorengan dari kami.

“Gorengan – gorengan, gehu, risoles, nikmat dan murah … ayo beli, cuma 500-an, bonus cabe rawit”

“Donat, donat … berbagai rasa, ayo beli, bu, pak, akang, teteh, … beli donat, cuma 1000-an kok, murah meriah”, teriakku dan Vivi bergantian.

Mentari mulai menampakkan dirinya. Menghangatkan suasana pagi hari itu. Tak terasa, sudah satu jam kami jualan. Keringat menetes membasai jilbab, sesekali kami usap wajah kami dengan ujungnya. Satu persatu, orang – orang meninggalkan tempat itu. Para pedagang emperan pun sibuk merapihkan daganganya. Namun, tak satupun jajanan kami yang terjual.

Wadah berisi donat dan gorengan yang kami bawa, masih tertutup rapat. Tak satupun rupiah kami kantongi. Walau peluh terus menetes, rasa pegal yang merayap di kaki dan tangan kami, serta tenggorokan yang mulai kering, kehabisan suara karena terus berteriak. Tak membuat semangat kami surut. Setiap orang yang masih tersisa kami tawari dengan penuh senyuman. Pantang bagi kami mengeluh dan menampakkan wajah memelas didepan orang lain.

Sinar mentari semakin terasa, keringat semakin deras menetes. Rasa pegal sudah tak tertahankan lagi, ingin rasanya duduk sejenak, mengendurkan otot – oto kaki. Kami pun memutuskan untuk duduk di atas tangga, dekat monumen. Perlahan kami pijat kaki kami yang sudah berjuang menopang berat tubuh ini, selama satu jam. Keringat yang menetes, kami usap, dengan ujung jilbab kami, hingga basah dan tak lagi bisa menyerap keringat yang terus menetes.

“Mba, kok belum laku juga yah ?”, keluh Vivi. “apa orang – orang udah bosen sama jajanan kita”

Aku menoleh kepadanya, terlihat jelas raut kelelahan diwajahnya.

Gak boleh gitu Vi, walaupun tak ada yang beli, jangan sampe semangat kita turun karenanya. Apalagi sampe ngeluh, gak baik …”, kataku sambil mengusap pundak Vivi. “Muslimah yang tangguh, pantang Mengeluh, tul gak ?”

hemmm … mba Dian, bisa aja”, balas Vivi. “bener banget mba, Vi setuju. Perjuangan kita tak ada apa – apanya dibandingkan perjuangan Siti Hajar, yang berjuang ditengah terik mentari padang pasir untuk anaknya tercinta”

Yup, walaupun tak ada yang terjual, kita gak boleh ngeluh dan menyerah. Mungkin memang belum jadi rezeki kita. Yang penting, kita sudah semaksimal mungkin berusaha”, balasku.

” Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah, apabila kamu telah bertekad maka bertawakkallah pada Allah, tul gak ?”, sambut Vivi, seketika raut wajah lelah tak terlihat lagi. Senyuman berkembang diwajahnya.

Na’am, pinter juga kami Vi”, jawabku.

“Iya dong, Vivi”, balasnya sambil tersenyum senang.

Kamipun hanyut dalam obrolan sederhana, terik mentari menyelimuti semangat kami yang telah kembali. Tak lagi kami rasakan pegal dikaki, seperti lenyap begitu saja. Namun, karena hari sudah siang, dan sebagian besar orang sudah kembali ke rumahnya, hanya tersisa beberapa pedagang, dan pejalan kaki. Kami pun memutuskan untuk pulang saja, tanpa sepeser uang pun.

“Maaf mba, gorengan nya masih ada ?”, terdengar suara seorang lelaki tua, yang berdiri dihadapan kami. Memakai kaos sederhana, dan peci hitam yang lusuh. Ia tersnyum, menampakkan giginya yang hitam dan berlubang.

“Oh, ada pak, mau beli apa ? risoles atau gehu ?”, tanya ku.

Hemmm … gehu aja, dua buah”, jawabnya sambil menyodorkan uang seribu rupiah.

Dengan sigap, dua buah gehu saya masukkan kedalam kantong plastik. Lembar ribuan pertama saya masukkan kedalam saku celana. Senang rasanya, ada juga yang membeli jajanan kami, walau hanya dua buah. Masih tersisa 18 gorengan dan 10 buah donat. Laki – laki tua itupun pergi sambil menggenggam plastik berisi gehu.

“Alhamdulillah, akhirnya terjual juga”, bisikku.

“Ada juga yang beli ya mba, walaupun cuma dua buah”, kata Vivi.

He eh, lumayan, gak nol banget”, balasku.

Tiba – tiba terdengar suara langkah kaki dibelakangku,

“Punten, neng jualan gorengan sama donat? berapa satunya ?”, tanya seseorang.

Aku pun menoleh, “eh ibu, gorengan harganya 500-an bu, kalo donat 1000-an, mau beli ?”

“Ibu beli tiga buah yah, risoles dua sama donatnya satu”, kata si ibu.

Dua buah risoles kami masukkan kedalam plastik, dan sebuah donat di plastik yang lain.

“Makasih ya de …”, kata si ibu, sambil menyerahkan selembar uang dua ribu rupiah, kemudian ia beranjak pergi.

Lembar kedua, saya masukkan ke saku. Syukur terucap, disusul senyuman senang. Walau masih tersisa banyak, tapi kami tak putus harapan.

Dengan penuh harap, kami terus menunggu, sesekali menoleh ke belakang, berharap ada yang menyapa kami dari belakang. Namun, lama sudah kami terduduk, tak ada lagi pembeli yang datang. terik mentari tak tertahan lagi, sudah saatnya kami pulang. Lima buah, bukan jumlah yang sedikit.

Namun, sekilas terbayang wajah anak – anak berbaju kucel, tubuh yang kurus, tersenyum padaku. Tempat semua hasil jerih payah kami berikan. Malu rasanya jika hanya sedikit hadiah yang bisa kami persembahkan. Enggan beranjak pergi dari tempat kami duduk, peluh menetes, berkilau dibawah sinar terik mentari.

Sesekali aku melihat jajanan yang masih tersusun rapih. Sedih rasanya, hanya sedikit yang terjual. Padahal usaha yang maksimal telah kami lakukkan, dari pagi hingga saat ini. Ingin rasanya mengeluh, namun itu semua aku tahan agar tak terucap.

Setelah sekian lama tak ada satupun yang datang,

“Vi, kita pulang yuk … udah siang”, saranku.

“Tapi kak, masih belum cukup buat baksos entar, apa yang bisa kita beri kalo cuma dapet tiga ribu rupiah, itu pun belum ganti rugi jajanan yang gak kejual”, balas Vivi.

“Vi gak mau pulang, sebelum semuanya terjual mba. Vi gak tega lihat anak – anak itu terus memakai pakaian kucel itu, makan makanan yang tak terjamin gizinya. Bagaimana mereka bisa tumbuh sehat, dan pintar”

“Vi ingin melihat mereka tersenyum mba, ramai berkerumun saat kita datang bawa banyak hadiah kesana. Tangan – tangan kurus berebut baju layak pakai, makanan ringan, dan buku – buku tulis untuk mereka belajar”

“Vi yakin, Yeni, Nisa, Dewi dan Widya pun merasakan hal yang sama. Masa kita biarkan mereka berjuang sendirian, sedangkan kita enak – enakan istirahat” tuturnya sambil mengusap kakinya yang pegal.

Walau samar, terlihat butiran bening menyembul dari matanya, menetes bersamaan dengan keringat. Aku tahu, ia menahan pegal yang begitu sangat, lelah dan letih ber jam – jam teriak. Vivi, si anak manja, namun berhati seindah mutiara. Sesekali ia seka air matanya, berusaha menyembunyikannya dariku.

Duduk lemas, sambil menatap mentari yang seakan tak mengerti apa yang kami rasakan saat ini. Rasa lapar mulai mengetuk, riuh suara perut terdengar. Namun, berat diri ini beranjak, saat bayangan anak – anak kecil itu melintas kembali.

Suara langkah terdengar samar mendekat, terlihat sesosok bapak – bapak mengenakan kaos oblong datang perlahan. Kemudian, ia berdiri dihadapan kami.

“Ada yang bisa kami bantu pak ?”, sapa ku, sambil mengukir senyum yang semakin berat terasa.

“Ade ini lagi jualan ? “, tanya nya.

“Iya pak” jawabku singkat.

“Jualan apa ?”

“Gorengan sama donat pak ?”

“Ohh, gorengan sama donat. Nampaknya enak tuh, harganya ? “

“Kalo gorengan, 500 perbuah, kalo donat seribuan pak”

Hemmm … “, si bapak sibuk melihat jajanan kami. Ia terlihat menghitung donat dan gorengan yang berjajar itu. “Ada 16 gorengan sama 9 donat yah, berarti kalo total semuanya … dua belas ribu”

“Iya pak, mau beli berapa pak ?”, tanyaku tak sabar.

“Saya beli semua, gimana ?”,

Senang rasanya mendengar ucapan itu. Mungkin, inilah malaikat yang diturunkan-Nya, untuk menjawab semua harapan kami. Penampilannya sederhana, namun ramah sekali.

“Semuanya pak ?”, tiba – tiba Vivi bangkit, berusaha memastikan. Boleh jadi, si bapak cuma becanda, untuk menghibur kami yang duduk lemas terbakar sinar mentari.

“Beneran, nih uangnya … “, jawab si bapak, sambil menyodorkan uang seratus ribu rupiah.

“Wah, belum ada kembaliannya pak … ada yang kecil ?”, tanyaku.

“Wah, gak ada yang kecil de, cuma ada ini “, jawabnya.

Ada sebuah keraguan dalam hati, boleh jadi, si bapak gak jadi beli jajanan kami. Uang segede itu gak masuk dalam hitungan kami, jadi kami belum punya uang kembali.

“Ambil aja de, gak usah mikirn kembalian … “, lanjutnya.

“Beneran pak ?”, balas Vivi, heran.

“Ya, masa saya becanda sih. Kalo emang gak mau, ya udah”, katanya.

“Tapi pak, buat bungkusnya … kami gak punya plastik buat wadahnya”,

Hemmm … gitu yah, ya udah .. gini aja. Semua jajanan saya beli, terus ade bagikan jajanan itu sama orang – orang disekitar sini yang pantas mendapatkannya”, tuturnya.

Kami tertegun, diam seribu bahasa. Berdiri mematung menatap orang asing dihadapan kami. Siapa gerangan dia. Kaget bercampur haru dalam hati kami. Ia datang tiba – tiba, dengan harga tinggi ia ambil semua jajanan kami, namun, bukan untuk dia sendiri.

“Ya udah, nih uangnya … jajanannya bagiin sama orang sekitar yah”, ia pun menyerahkan uang seratus ribu, kemudian langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih. Lalu menghilang dari pandangan kami.

Kami masih terdiam, terpana dengan apa yang terjadi. Apakan ini yang dinamakan keajaiban ?, apakah dia malaikat yang diturunkan untuk menjawab do’a kami ? Atau hanya kebetulan saja ?

Satu persatu gorengan dan donat kami masukkan kedalam plastik. Tetesan keringat berganti dengan air mata yang turun tak tertahankan. Rasa syukur bercampur haru, mengisi relung – relung hati ini. Sesekali kami seka air mata, namun tetap saja menetes.

Setelah semua gorengan dan donat terbungkus rapih dalam plastik, kami pun segera membagikannya pada orang sekitar yang membutuhkan, tukang beca, pengemis, anak jalanan,dan lainnya. Senang rasanya melihat senyuman mereka saat sekantong kecil gorengan dan donat mereka terima. Seorang ibu memelukku dengan pelukan yang hangat, sambil membisikkan ucapan terima kasih diselingi do’a. Aku tahan air mata agar tak membasahi pundaknya. Air mata ini mengalir semakin deras, saat bungkusan terakhir kami serahkan kepada seorang pengemis di trotoar jalan. Tak sanggup kami melihatnya, tanpa tangan dan kaki yang lumpuh.

Kemanakah Mereka yang bangga berjalan dengan Kekayaannya. Bolak – balik pake mobil mewah, jas, dan sepatu yang mengkilap. Uang selalu mereka habiskan untuk kesenangan dirinya sendiri. “BATU!!!!!!” HATI mereka sudah mem-Batu, bahkan lebih keras dari itu. Mata mereka TERTUTUP Rapat oleh lembaran kesomobongan. Padahal, di sisi lain, di pojok jalanan, ada orang yang menunggu belas kasihan. Mereka yang duduk Terdiam dalam kesepian dan penantian. Mereka yang selalu menengadah ke Rabb-nya, seraya berdo’a ” Berikanlah kami makan hari ini ya Tuhan … “.

Berkali – kali pertanyan muncul dalam hati kami, apakan ini keajaiban ? atau hanya sebuah kebetulan ? namun, naif rasanya, kalau hal luar biasa seperti ini kami katakan sebuah kebetulan belaka.

Kemudian melintas ayat al-qur’an, “maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan …”. Seperti inikah nikmat itu, seperti inikah kuasa sang Maha Pemilik Segalanya, seperti inikah yang biasa disebut, keajaiban …

Kami berjalan pulang, sambil sesekali menyeka air mata yang menetes perlahan. Aku melihat mentari yang terus bersinar terik, seakan ia tersenyum kepadaku. Bisik lirih dalam hati “Ya rabb, it’s miracle …”.

———————————————————————————————
Keterangan : Gasibu adalah tempat di Bandung yang biasa digunakan untuk olahraga pagi, juga jualan barang – barang murah (pasar kaget). Biasanya penuh dipagi hari, terutama hari libur.

salam CeLoteh,

— si kucing — Dinda Agus Triyana, 4 Maret 2010

11 thoughts on “It’s Miracle ?

  1. bagus din true story nya, sangat banyak hikmah yg didapat. memang rezeki kadang dtg tak diduga. apabila rezeki itu qt gunakan utk sosial, pasti akan kembali dgn nilai yg lebih drpd yg qt keluarkan.

  2. Kunjungan di pagi hari sobat, menikmati sinar matahari dan segarnya cuaca mewarnai keindahan kehidupan. Senyum, sapa dan semangat untuk hal-hal positif, chayoo ^_^…V salam

  3. cerita yang penuh inspirasi, biasanya saya ga pernah baca sampai habis artikel sepanjang ini, tapi yang ini lain, speperti saya sendiri yang mengalaminya???

    salam

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s