AKU BUKAN PENGECUT !!!

Mereka tak pernah bosan mengejekku. Tak jarang hujan kerikil menghantam tubuhku yang kecil ini. Aku pulang tertatih dibawah terik matahari, menyengat kulitku yang awalnya putih, kini hitam legam. Luka dikepalaku, tak aku pedulikan, ini sudah biasa. Dulu lebih parah, darah berceceran, dan aku tergeletak tak berdaya di trotoar jalan.

Mereka menganggap aku idiot, cacat, dan menjijikkan. Memang setiap hari, pakaian ku kucel, rambutku berantakan, dan tubuhku gak terlalu wangi. Aku terpaksa berhenti sekolah, itulah kenapa mereka memandangku idiot. Tapi, aku gak bodoh, gak idiot.

—— CeLoTeh —–

“Assalamu’alaikum … mak ?”, pintu bambu berdecit saat aku dorong gagang pintunya.

“Wa’alaikumsalam”, suara parau,serak terdengar dari arah dapur.

“Dewi kemana mak ?”, tanyaku.

Langkah berat, sedikit diseret terdengar mendekat. Seirama dengan ketukan tongkat kayu, ia sering menyebutnya kaki tambahan. Emak-ku, beruban, tubuhnya kurus dan bongkok. Kebaya lusuh, dan kain batik sebagai bawahan. Beralaskan sandal kayu buatan sendiri.  Ia menatapku, tapi bukan wajahku, pasti luka ku.

“Diganggu lagi ndok, dasar anak kota”, keluhnya.

“Biarlah mak, udah biasa, udah kebal, kayak supermen, he ..”, aku berusaha menghibur.

Ia tersenyum, terlihat giginya yang tinggal beberapa. Bibirnya merah, bukan karena lipstik, tapi, daun – daun yang sering ia kunyah. Katanya, sehat buat gigi. Tradisional, itulah prinsipnya.

Mak, Dewi kemana ?”, tanyaku kembali.

“Tadi main ke rumah Rini, katanya mau kerja kelompok”, jawabnya sambil merapihkan nasi liwet putih, lalap, dan lauk asin. Sederhana, tapi ini yang paling mewah. Satu piring penuh, terisi lauk yang komplit, emak sodorkan padaku. Tanpa pikir panjang, langsung makan, lapar sekali, seharian bekerja.

Mak, beras masih ada ?”, tanyaku.

Emak terlihat berpikir, sambil asyik menguyah daun – daunan pewarna mulutnya itu. “ untuk besok sih, ada ndok”, jawabnya.

“Lusa ?”, tanyaku.

“Belum tau, mungkin sudah waktunya shaum”, jawabnya singkat.

Shaum, pilihan terakhir, saat persediaan makanan begitu tipis. Tubuhku sudah terbiasa, menelan teriknya matahari, sambil menahan perut yang keroncongan. Menu buka puasa pun, sebatas air putih.

“Assalamua’alaikum …”, suara cempreng gadis kecil, Dewi, adikku.

“Wa’alaikumsalam …”, jawab kami bebarengan.

Langkah kaki terseret, masuk mendekat. Sesaat tampak sosok gadis, yang dimataku, dia cantik. Tangan kanannya menikuk, tak bisa diluruskan, sedangkan tangan kirinya lurus, tak bisa dibengkokkan. Lehernya bergerak bebas ke kiri dan kanan, tak terkendali. Namun, ia tersenyum, selalu tersenyum. Saat marahpun, ia tersenyum, juga saat menangis. Bibir bagian atasnya tertarik, jadi tak bisa ia menutupnya mulutnya dengan normal, sumbing.

“Em … m ….ema … k”, ucapnya. Lalu mengecup tangan emak dengan lembut.

“Ka … ka … k … kaka…kakak”, sekarang bagian tanganku. Ia bukan pelawak, cara bicaranya memang begitu. Kata dokter, dalam tubuhnya ada virus, yang terus menggerogotinya, dan diperkirakan umur 20 tahun, ia lumpuh, atau paling buruk, meninggal. Kecuali kalo sempat diobati.

Setiap hari aku bekerja. Sebagian untuk makan, sekolah dan tabungan perobatan Dewi, adikku.

Kami makan bersama, dengan sabar emak menyuapi adik semata wayangku. Tak lama, adzan dzuhur berkumandang. Bergegas, saya pergi ke surau diujung jalan. Selalu kuselipkan do’a buat emak juga Dewi. Sesekali aku keluhkan kelakuan anak kota itu, tentang ejekan, hinaan, sindiran dan lemparan mereka. Namun, selepas itu, kesalahan mereka aku lupakan. Aku tak mau dendam bersemayam dalam hati ini.

Usai shalat dzuhur, bergegas pulang kerumah, persiapan bekerja kembali.

Mak, do’akan yah, semogahari ini bisa dapat banyak. Lumayan, buat beli beras”, ucapku sembari mengecup tangan emak yang keriput.

“Disana lagi ? apa ndak ada tempat yang lain ndok ?”, tanya emak, khawatir.

“Disana banyak botol plastik, gelas bekas, juga sampah lain yang bisa dijual mak. Ditempat lain, belum tentu ada”, jawabku, risih.

Emak menatapku, membelai rambut ku yang kusut, “tapi, disana kan banyak anak kota yang nakal. Apa kamu ndak apa – apa ndok ?”

Aku tersenyum, menatap wajah emak, “ndak apa – apa mak, aman. Udah biasa kok, kalo ada mereka, ya, lari aja, he …”, jawabku.

“ya sudah, hati –hati”, pesannya.

“Bismillah … “, satu langkah penuh keyakinan. Sebuah karung putih ku genggam erat, juga bambu kecil. Hari ini matahari sangat terik. Harusnya, ini waktu istirahat, mungkin tidak untukku. Bagaimana bisa tidur, saat terbayang wajah emak dan Dewi menahan rasa lapar.

Sebagai tulang punggung keluarga, resiko ini Aku terima. Dalam hati, ada sedikit rasa takut. Bahkan, kadang bertambah, saat anak kota itu datang. Tapi, semua rasa itu aku simpan didepan emak dan Dewi.

Aku memilih lari daripada harus menghadapi mereka. Tapi, aku bukan pengecut, bukan, aku bukan pengecut.

—————— CeLoTeh ——————–

Karya : Dinda Agus Triyana, Si Kucing
Bandung, 30 Maret 2010

50 thoughts on “AKU BUKAN PENGECUT !!!

  1. Kisah yang sangat inspiratif..pengorbanan seorang anak yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya..terharu aku membacanya..sobat, tukeran link yuuk??

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s