Khitbah ? (Bagian 2)

Lanjutan dari : Khitbah ? (bagian 1)
—————————————–

Khitbah … katanya indah, katanya meriah, katanya … seru. Dua cinta berpadu, dua insan bersatu, dua hati terpaut … Tapi, kapan ? Kapan ada cinta yang bisa berpadu, kapan ada insan yang mau bersatu, dan dimana hati ini berlabuh …

Loh! kenapa jadi kesana … beresin kuliah dulu, selesai amanah dulu, kerja dulu, baru dah bahas Khitbah. Tapi, sulit …

—— celoteh —–

Kuliah … rutinitas hari – hariku. Dulu terasa berat sekali, tapi sekarang berbeda … tambah berat, hihi. Masuki tahun ke-3, dosen – dosen makin seneng aja ngasih tugas yang, gak mudah. Kadang, satu pekan bisa dua atau tiga tugas. Kapan liburnya, pikirku.

Tapi anehnya, sebanyak apapun tegas, tetep aja ada waktu buat maen game, jalan – jalan, beli dan baca buku, sama tidur siang. Emang susah kalo udah kebiasaan.

Makin lama, kamar terasa sempit. Hampir setengahnya diisi buku – buku bacaan, kumpulan cerpen, materi kuliah, kamus, buku motivasi, dan buku – buku keagamaan semacam Halal Haram, Riyadhush Shalihin, Fiqh sunnah, dan sejenisnya. Sebagian buku terpaksa kumasukkan kedalam dus bekas, supaya ada ruang untuk buku baru. Walaupun, setiap minggu buku selalu bertambah.

Ditengah padetnya kuliah, jadwal pelatihan dan pengajian pun semakin rutin, ditambah lagi amanah organisasi yang semakin berat. Seorang sahabat, Rizal namanya. Dia sering menyebutku “amphibi”, bias hidup di dua, bahkan tiga alam yang berbeda. Tapi, bukan alam ruh, atau alam jin, serrem amat. hihi.

Pagi hari buta, usai shalat subuh, gabung pengajian di masjid terdekat. Malemnya, ba’da magribh, pengajian lagi. Sabtu – minggu, biasanya orang lain pake istirahat. Saya sibuk bolak balik kampus orang, buat pelatihan motivasi atau jadi pemateri diskusi, atau tersesat jadi pemateri pengajian. Hapalan masih dikit, baca buku jarang, eh, disuruh ceramah … yang ada, pada tidur semua. But, whatever, namanya juga “permintaan Fans“, tak lakonin dah, hehe.

Dulu pernah, lagi nyantai bikin cerpen, ada sms dari seorang temen, Rudi namanya, untuk gantiin dia ngisi pengajian di salah satu kampus. Katanya sih, bahas materi pra-nikah. Awalnya saya jelas nolak, orang nikah aja belom, ehh, udah berani nasehatin orang, apa kata dunia ?

Tapi, yo wess, berhubung beberapa buku koleksi ku juga bahas tentang hal itu, ditambah lagi pengalaman ikutan seminar pra-nikah di beberapa tempat, so, apa yang mesti ditakutin. Paling, kalo ada pertanyaan yang aneh- aneh, aku jawab aja, “Afwan, ane belum bisa jawab, soalnya belum … pengalaman”, beres dah. Hehe.

Kalo Rudi sih nyantai aja jawab, orang dia udah punya pendamping, cantik, anak ustadz pula. Beruntung banget dah tu anak. Kalo dilihat dari segi tampilan fisik, dia lebih ganteng, keilmuan, dia lebih dalam pemahaman agamanya, hapalan qur’an nya, dahsyat, ditambah lagi dia udah punya usaha sendiri. Wajar, kalo wanita yang dia sering sebut “bidadari syurga” itu, mau ia khitbah.

“ Lalu, siapakah bidadari Syurga yang akan mendampingi cowok pas-pasan, muka pas, ilmu pas, hapalan qur’an … passs (pas di-tes, pas Lupa!!!), semacem aku neh ? “gumamku.

Tak henti nya pikiran itu menerawang dalam benakku, merasuk kedalam aliran darah, getarkan jantungku. Kapankah saat yang kata orang, membahagiakan itu datang padaku. Beberapa teman seperjuangan sudah mendapatkan bidadari syurga nya.

Yang pertama Rudi, asli keturunan Cirebon, dapat pasangan keturunan batak, terus seminggu setelahnya Rusli, pria berkulit sawo matang, rambut cepak, asli keturunan Jogja, dapat pasangan anak Bandung, lulusan fakultas kedokteran, dan satu lagi, Rizal, anak yang hobi makan krupuk ini, akhir bulan dia rencana meminang seorang mahasiswi sebuah universitas ternama di jakarta. Sisanya tinggal Aku, dan Sendi.

Sempat terpikir olehku, apa karena nama mereka bertiga diawali huruf R, jadi, waktu nya berdekatan. Sedangkan Aku dan Sendi, beda. Apa ganti nama aja yah, jadi Raris, tapi, sayang juga, nama Faris sudah terdengar enak. Faris Faturohman.

Lagi asyik ngelamun, Hp berdering. Panggilan masuk, Umi.

“Assalamu’alaikum, sehat nak ?”, sapaan lembut sang ibu nan jauh disana.

“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah, sehat Mi”, jawab ku.

“Lagi sibuk apa ? “, lanjutnya.

“Persiapan ngisi pengajian Mi”, jawabku singkat.

“Pengajian ? dimana ? bahas apa ?”, tanya nya kembali.

“Hemm, di kampus tetangga, insyaAllah bahas tentang pra-nikah mi”, jawabku tanpa beban.

“pra-nikah yah ? apa gak salah”, tanya umi, sedikit menyindir.

“Salah dimananya mi ?”

“Engga, kamu kan belum nyoba, kok udah berani ngasih materi”, sindir nya.

“he he he … habis mau gimana lagi mi, pemateri yang sebenernya gak bisa dateng, jadi suruh ba’dal dulu. Gitu mi”, bela ku.

“Ohhh, gitu toh. Terus, mau kapan ?”, tanya nya.

Jantungku berdetak kencang, satu pertanyaan yang sulit aku jawab. “enggg, kapan yah …”, gumamku.

“kalo mau, Umi cari kan yang cocok, di sini banyak kok yang masih perawan. Cantik, rajin, dan berbakti sama orang tuanya”, usulnya.

Sejenak terbayang nuansa kampung halaman. Pepohonan hijau, nyiur padi melambai, dan aliran sungai yang merdu. Serta … beberapa wanita desa yang, ‘kata Umi, cantik’, menurutku sih … sulit dibilang cantik. Kulitnya hitam terbakar matahari, ada yang kurus banget, ada juga yang gemuk banget. Emang bener sih, mereka semua rajin, dan berbakti, tapi … masa sih, sekelas diriku harus bersanding dengan meraka … apa kata Rudi, Rusli, Rizal saat kami berkumpul bersama para bidadari syurga nya.

“Ris, itu … bidadari mungut dari mana ? “, ahhh, tidaaaakkkk, gak mau. Mending nyari sendiri, sesulit apapun.

“ Fariiss … “, Umi memanggilku.

“Eh, ya mi, maaf tadi .. “,

“ngelamun yah ?”, tanya Umi.

“oh, enggak kok”, jawabku, gugup.

heemmm, Umi tahu, pasti kamu kurang cocok yah sama anak desa sini. Pengen punya pasangan yang mirip bidadari itu kan ?”, tanya nya.

“Enggak kok Mi, suka kok … “, jawabku dengan berat hati. Sebagai anak yang berbakti, sulit bagiku melukai hati Ibu yang selalu merawatku.

“Ya udah, umi ngerti kok. Umi gak akan maksa, tapi inget, kakak – kakak mu udah pada punya pendamping, tinggal kamu seorang. Gak malu, kalo ntar kumpul bareng ?’, goda Umi ku.

“Ahh, Umi nih, seneng banget sih gangguin. Nyantai, pokoknya, sebentar lagi, Faris bawa bidadari yang pernah Faris janjiin dulu, Umi sabar aja”, jawabku, penuh keyakinan. Walau dalam hati bertanya – tanya, “siapa yaaa…. “.

“Beneran, Umi Cuma khawatir, kalo kelamaan, bidadarinya ­udah ada yang bawa semua, tinggal sisa …bidadara , nah gimana tuh”, sindir umi.

yee, Umi neh, gak ada habisnya.  Allah berfirman, Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Jadi, gak usah khawatir kehabisan Stock “, jawabku.

“Baiklah pak Ustadz, tapi inget, Umi tunggu kabar secepatnya yah, biar ada persiapan”, tegas umi.

“InsyaAllah mi, do’akan aja”, balasku.

“Umi mau ke kantor dulu, jaga kesehatan, Assalamu’alaikum”,

“Wa’alaikumsalam … “, jawabku. Klik, komunikasi pun terputus

Sudah beberapa kali Umi tanya masalah itu, sebenernya ini pertanda baik, lampu hijau. Tapi, siapa kiranya bidadari syurga pendampingku itu. Lagipula, buat ngurus sendiri aja susah, apalagi entar kalo udah punya pasangan. Bidadari … pikiranku melayang, melintas sesosok mahluk cantik, dengan jilbab biru muda yang lebar, baju gamis yang senada. Wajahnya berseri, tersenyum padaku. Kacamata tipis, sinar kedewasaan terpancar dari matanya yang indah. Ia bidadari ku, bidadari syurgaku, bisikku dalam hati.

Tiiittt, hp-ku berbunyi, membuyarkan semua khayalanku.

“Akh, acaranya mulai jam 8 pagi, antum jangan telat. Regrad, Rudi”.

Jam dinding dikamar menunjukkan pukul 07:30, “ Astaghfirullahalazim”, ucapku dalam hati. Bergegas aku rapihkan perlengkapan yang harus di bawa. Sempatkan diri berwudhu, basuh muka yang penuh dengan noda dan dosa, serta menghilangkan bayangan sang bidadari yang sempat melintas. Terucap do’a, “Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa“.

Bismillah … “, sepeda motor melaju pelan dijalan berliku.

Semoga, hari ini bisa bermanfaat untuk orang lain, gumamku dalam hati.

Bersambung

Baca : Khitbah ? (bagian 1)

(masih bingung jalan ceritanya ??? kok gak nyambung sih … tunggu! Khitbah – 3, akan memperjelas semuanya, masih ada terusannya kok … so, don’t worry kawan)

salam celoteh

Cinta, seperti apa bentuknya ? bulat, lonjong, segtiga, kotak, atau abstrak. Lalu apa cinta itu sama dengan mahluk hidup ?  atau benda mati ? atau setengah hidup, setengah mati ?. Lalu, rasanya seperti apa ? Manis, asam, asin atau pahit ? … ahhh, bingung!!!!

Kenapa harus aku ? Kenapa pula harus sekarang rasa itu muncul ? Kenapa harus, dia …!!!

Kuliah … rutinitas hari – hariku. Dulu terasa berat sekali, tapi sekarang berbeda … tambah berat. Masuki tahun ke-3, dosen – dosen makin seneng aja ngasih tugas yang, gak mudah. Kadang, satu pekan bias dua atau tiga tugas. Kapan liburnya, pikirku.

Tapi, anehnya, sebanyak apapun tegas, tetep aja ada waktu buat maen game, jalan – jalan, beli dan baca buku, sama tidur siang. Emang susah kalo udah kebiasaan. Makin lama, kamar terasa sempit. Hampir setengahnya diisi buku – buku bacaan, kumpulan cerpen, materi kuliah, kamus, buku motivasi, dan buku – buku keagamaan semacam Halal Haram, Riyadhush Shalihin, Fiqh sunnah, dan sejenisnya. Sebagian buku terpaksa kumasukkan kedalam dus bekas, supaya ada ruang untuk buku baru. Walaupun, setiap minggu buku selalu bertambah.

Ditengah padetnya kuliah, jadwal pelatihan dan pengajian pun semakin rutin, ditambah lagi amanah organisasi yang semakin berat. Seorang sahabat, Rizal namanya. Dia sering menyebutku “amphibi”, bias hidup di dua, bahkan tiga alam yang berbeda. Tapi, bukan alam ruh, atau alam jin, serrem amat. hi hi.

Pagi hari buta, usai shalat subuh, gabung pengajian di masjid terdekat. Malemnya, ba’da magribh, pengajian lagi. Sabtu – minggu, biasanya orang lain pake istirahat. Saya sibuk bolak balik kampus orang, buat pelatihan motivasi atau jadi pemateri diskusi, atau tersesat jadi pemateri pengajian. Pernah suatu  hari, lagi nyantai bikin cerpen, ada sms dari seorang temen, Rudi namanya, untuk gantiin dia ngisi pengajian di salah satu kampus. Katanya sih, bahas materi pra-nikah. Awalnya saya jelas nolak, orang nikah aja belom, ehh, udah berani nasehatin orang, apa kata dunia ?

Tapi, ya sudahlah, berhubung beberapa buku koleksi ku juga bahas tentang hal itu, ditambah lagi pengalaman ikutan seminar pra-nikah di beberapa tempat, so, apa yang mesti ditakutin. Paling, kalo ada pertanyaan yang aneh- aneh, aku jawab aja, “Afwan, ane belum bisa jawab, soalnya belum … pengalaman”, beres dah. Hehe. Kalo Rudi sih nyantai aja jawab, orang dia udah punya pendamping, cantik, anak ustadz pula. Beruntung banget dah tu anak. Kalo dilihat dari segi tampilan fisik, dia lebih ganteng, keilmuan, dia lebih dalam pemahaman agamanya, hapalan qur’an nya, dahsyat, ditambah lagi dia udah punya usaha sendiri. Wajar, kalo wanita yang dia sering sebut “bidadari syurga” itu, mau ia nikahi.

“ Lalu, siapakah bidadari Syurga yang akan mendampingi cowok pas-pasan, muka pas, ilmu pas, hapalan qur’an … passs (gak punya), semacem aku neh ? “, gumamku.

Tak henti nya pikiran itu menerawang dalam benakku, merasuk kedalam aliran darah, getarkan jantungku. Kapankah saat yang kata orang, membahagiakan itu datang padaku. Beberapa teman seperjuangan sudah mendapatkan bidadari syurga nya. Yang pertama Rudi, asli keturunan Cirebon, dapat pasangan keturunan batak, terus seminggu setelahnya Rusli, pria berkulit sawo matang, rambut cepak, asli keturunan Jogja, dapat pasangan anak Bandung, lulusan fakultas kedokteran, dan satu lagi, Rizal, anak yang hobi makan krupuk ini, kabarnya akhir bulan dia akan meminang seorang mahasiswi sebuah universitas ternama di jakarta. Sisanya tinggal aku, dan Sendi.

Sempat terpikir olehku, apa karena nama mereka bertiga diawali huruf R, jadi, waktu nya berdekatan. Sedangkan aku dan Sendi, beda. Apa ganti nama aja yah, jadi Raris, tapi, sayang juga, nama Faris sudah terdengar enak. Faris Faturohman.

Lagi asyik ngelamun, Hp berdering. Panggilan masuk, Umi.

“Assalamu’alaikum, sehat nak ?”, sapaan lembut sang ibu nan jauh disana.

“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah, sehat Mi”, jawab ku.

“Lagi sibuk apa ? “, lanjutnya.

“Persiapan ngisi pengajian Mi”, jawabku singkat.

“Pengajian ? dimana ? bahas apa ?”, tanya nya kembali.

“hemm, di kampus tetangga, insyaAllah bahas tentang pra-nikah mi”, jawabku tanpa beban.

“pra-nikah yah ? apa gak salah”, tanya umi, sedikit menyindir.

“salah dimananya mi ?”

“engga, kamu kan belum nyoba, kok udah berani ngasih materi”, sindir nya.

“he he he … habis mau gimana lagi mi, pemateri yang sebenernya gak bisa dateng,jadi suruh ba’dal dulu. Gitu mi”, bela ku.

“ohhh, gitu toh. Terus, mau kapan ?”, tanya nya.

Jantungku berdetak kenang, satu pertanyaan yang sulit aku jawab. “enggg, kapan yah …”, gumamku.

“kalo mau, Umi cari kan yang cocok, di sini banyak kok yang masih perawan. Cantik, rajin, dan berbakti sama orang tuanya”, usulnya.

Sejenak terbayang nuansa kampung halaman. Pepohonan hijau, nyiur padi melambai, dan aliran sungai yang merdu. Serta … beberapa wanita desa yang, ‘kata Umi, cantik’, menurutku sih … sulit dibilang cantik. Kulitnya hitam terbakar matahari, ada yang kurus banget, ada juga yang gemuk banget. Emang bener sih, mereka semua rajin, dan berbakti, tapi … masa sih, sekelas diriku harus bersanding dengan meraka … apa kata Rudi, Rusli, Rizal saat kami berkumpul bersama para bidadari syurga nya.

“Ris, itu … bidadari mungut dari mana ? “, ahhh, tidaaaakkkk, gak mau. Mending cari sendiri, sesulit apapun.

“ Fariiss … “, Umi memanggilku.

“Eh, ya mi, maaf tadi .. “,

“ngelamun yah ?”, tanya Umi.

“oh, enggak kok”, jawabku, gugup.

“heemmm, Umi tahu, pasti kamu kurang cocok yah sama anak desa sini. Pengen punya pasangan yang mirip bidadari itu kan ?”, tanya nya.

“enggak kok Mi, suka kok … “, jawabku dengan berat hati. Sebagai anak yang berbakti, sulit bagiku melukai hati Ibu yang selalu merawatku.

“ya udah, umi ngerti kok. Umi gak akan maksa, tapi inget, kakak – kakak mu udah pada punya pendamping, tinggal kamu seorang. Gak malu, kalo ntar kumpul bareng ?’, goda Umi ku.

“ahh, Umi nih, seneng banget sih gangguin. Nyantai, pokoknya, sebentar lagi, Faris bawa bidadari yang pernah Faris janjiin dulu, Umi sabar aja”, jawabku, penuh keyakinan. Walau dalam hati bertanya – tanya, “siapa yaaa…. “.

“beneran, Umi Cuma khawatir, kalo kelamaan, bidadarinya ­udah ada yang bawa semua, tinggal sisa …bidadara , nah gimana tuh”, sindir umi ku sambil tertawa kecil.

“yee, Umi neh, gak ada habisnya. Umi, kan Allah berfirman Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Jadi, gak usah khawatir kehabisan Stok “, jawabku.

“baiklah pak Ustadz, tapi inget, Umi tunggu kabar secepatnya yah, biar ada persiapan”, tegas umi.

“insyaAllah mi, do’akan aja”, balasku.

“Umi mau ke kantor dulu, jaga kesehatan, Assalamu’alaikum”,

“Wa’alaikumsalam … “, jawabku. Klik, komunikasi pun terputus.

Sudah beberapa kali Umi bertanya seperti itu, sebenernya ini pertanda baik, lampu hijau. Tapi, siapa kiranya bidadari syurga pendampingku itu. Lagipula, buat ngurus sendiri aja susah, apalagi entar kalo udah punya pasangan. Bidadari … pikiranku melayang, melintas sesosok mahluk cantik, dengan jilbab putih yang lebar, baju gamis yang senada. Wajahnya berseri, tersenyum padaku. Kacamata tipis, menampakkan kedewasaan terpancar dari matanya yang indah. Ia bidadari ku, bidadari syurgaku, bisikku dalam hati.

Tiiittt, hp-ku berbunyi, membuyarkan semua kyalanku. Tertulis disana, “Akh, acaranya mulai jam 8 pagi, antum jangan telat. Regrad, Rudi”.

Jam dinding dikamar menunjukkan jam 07:30, “ Astaghfirullahalazim”, ucapku dalam hati. Bergegas aku rapihkan perlengkapan yang harus aku bawa. Sempatkan diri berwudhu, basuh muka yang penuh dengan noda dan dosa, serta menghilangkan bayangan sang bidadari yang sempat melintas. Lantas berdo’a, “Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa”.

Bismillah … “, sepeda motor melaju pelan dijalan berliku. Semoga, hari ini bisa bermanfaat untuk orang lain, gumamku dalam hati.

-Bersambung-

24 thoughts on “Khitbah ? (Bagian 2)

  1. hmm..ini mah tampaknya bakal ketemu ma neng azizah,bener tak?…

    bagus jalan ceritanya…tapi awas terkontaminasi ma cerita2 yang sejenis…

    Semangat…lanjutkan..

  2. terimakasih atas pertemanan dan inspirasinya selama ini
    dengan tidak mengurangi rasa hormat
    ijinkan saya untuk pamit dalam jangka waktu yg belum pasti
    semoga kita senantiasa diberikan rahmat dan karuniaNya
    dan semoga kelak kita berjumpa lagi, amin…

  3. wah…
    knp takut disandingkan sama yang kurus atau gemuk???
    yang penting kan agamanya…
    setelah nikah,cewek yang kurus bisa gemuk..yang gemuk bisa jadi kurus…😀

    yang penting siap lahir bathin…🙂
    selamat mencari pasangan hidup..

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s