Bisikan indah “pak sopir”

Terik mentari tak surutkan semangat silaturahmi. Azzam yang kuat, bawa kaki tetap melangkah, menapaki bumi. Pergi menjauh dari singgasana kosan, tinggalkan bantal dan kasur yang tak henti menggoda, menyapa, untuk terus bersama. Satu tempat tujuan, rumah seorang teman. Bukan pejabat, bukan konglomerat. Seorang sederhana, teman sejati.

Melintas bayangan sebuah perjalanan yang menyenangkan. Nyaman, damai, indah, sejuk, bawa nuansa kelembutan. Dalam sebuah kendaraan mini, putih persegi. Pintu masuk yang selalu terbuka, kursi hitam panjang, dan kaca kusam tebal disetiap bagian, Angkot.

Seorang tua sedikit beruban tersenyum, melihat penumpang yang mulai berdatangan. Angkot terasa semakin sempit dan pengap, penuh, sesak oleh penumpang dan bawang bawaan. Aku terjepit, di bagian ujung. Untungnya masih bisa bernafas, walau harus menahan kaki yang mulai kesemutan.

Sesaat sebelum berangkat, seorang bocah kecil berkaos kucel masuk, melirik kedalam angkot. Jari telunjuknya mengarah kesetiap penumpang, mulutnya komat – kamit, menghitung seisi angkot. Lalu ia duduk dipintu masuk, menatap jauh keluar angkot yang mulai berjalan.

Angkot melaju pelan, hembuskan udara segar disela tipis jendela. Sesekali angkot menjerit, saat jalan menanjak naik. Pak sopir nampak santai memutar roda stir, seiring dendangan alunan lagu. Sesekali ia ketukkan jari – jarinya, kepala mengangguk. Seakan tak ada beban, mengendarai angkot tua ini.

Beberapa kali angkot berhenti. Satu, dua, tiga penumpang mulai turun. Pengap mulai berkurang, namun kaki ku tetap tertahan sebuah karung putih milik seorang kakek tua dihadapanku. Enggan rasanya memindahkan benda besar itu. Risih bangunkan si kakek yang lelap dalam tidur, lepaskan rasa lelah terlihat di raut wajahnya.

Seakan tak peduli kaki ku yang mulai keram, angkot berjalan bisu tanpa kata, hanya deruman mesin tua dan asap hitam tebal. Lama kelamaan, pelupuk mata terasa semakin berat. Tak kuasa lagi menahan, tertutup, hanyutkan diri dalam lelap tidur.

Teriakan klakson angkot tua, bangunkan aku dari lelapnya tidur. Sadar, ternyata tinggal dua penumpang dalam angkot itu, aku dan si kakek yang juga terbangun. Hingga disebuah persimpangan, angkot tua berhenti.  Si kakek tua turun perlahan, sambil menggusur karung putih dibantu si bocah kecil penjaga pintu keluar tadi. Beberapa lembar uang lapuk ia berikan pada si bocah kecil, dan berjalan menjauhi mobil sambil memikul kerung putih yang … aku pikir, itu berat.

Angkot tua melaju perlahan, menjauh, seakan tak peduli tetesan peluh si kakek tua yang jalan membungkuk, karena sebuah karung putih di pundaknya. Pak sopir yang diam membisu, nampak menarik nafas panjang, melepas kepergian si kakek tua.

Tujuanku sudah dekat. Laju angkot semakin pelan, masuki area pasar yang padat. Riuh terdengar sahutan penjual, gayung sambut dengan jeritan klakson angkot memanggil penumpang.

Didepan sebuah toko usang, angkot tua berhenti. Si bocah kecil yang tengah asyik duduk, langsung berdiri. Pak sopir memberikan selembar uang pada bocah kecil itu. Tampa banyak kata, ia berlari jauhi angkot tua. Tinggalkan aku dan pak sopir yang menatapnya berlari diantara tumpukan gerobak tua.

Dibawah toko usang, seorang kakek tua penjual gorengan duduk termenung, menanti pembeli yang tak kunjung datang. Kaos oblong nya kusam, membuat pembeli enggan datang. Padahal, dalam hati ku berbisik, mungkin hanya kaos itu yang ia punya.

Si bocah kecil tadi berdiri dihadapan kakek tua penjual gorengan. Lembaran uang titipan pak sopir ia berikan, lalu tanpa sepatah kata pun, ia kembali berlari kearah angkot tua. Si kakek tua penjual gorengan nampak bingung, tak satupun gorangan diambil bocah kecil tadi. Namun, apalah daya, tubuh nya terlalu lemah untuk berlari mengejar bocah kecil itu, angkot pun melaju, tinggalkan kakek tua yang kebingungan.

Timbul tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi. Aku pikir, pak sopir menyuruh si bocah kecil untuk membelikannya beberapa buah gorangan. Atau, membeli batang rokok yang biasa di hisap sopir angkot seperti dirinya.

Rasa heran terus menggantung dalam dada, hingga beberapa saat sebelum sampai tujuan, pak sopir nampak bercakap dengan si bocah kecil tadi.

Nak, hidup itu harus saling berbagi. Kalau ada orang ngasih seribu, kita usahakan balas lima ribu. Kalau orang ngasih lima ribu, kita balas dua puluh ribu. Karena, harta kita gak akan habis dengan berbagi. Sesama muslim kan bersaudara, jadi kita harus siap menolong saudara kita yang membutuhkan. Walau sedikit yang kita punya, dalam harta kita ada hak mereka

Si bocah kecil mengangguk paham. Terjawab sudah rasa heran yang menggantung. Sejentik air mata, basahi pipi. Ada rasa malu dalam hati, kenapa bukan aku yang memberi lembaran uang tadi, padahal, setiap hari, selalu kuhabiskan isi dompetku dengan sesuatu yang kurang bermakna.

Angkot tua berhenti didepan sebuah rumah sederhana milik temanku. Berat kaki melangkah, tinggalkan angkot tua itu. Sebuah pelajaran berharga hari ini. Bisikan indah pak sopir, dan si bocah kecil dalam angkot yang tua dan usang.

——-celoteh——-

Kisah nyata dari seorang teman, dengan dialog bahasa sunda (bandung).
Saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, supaya bisa dimengerti siapa saja.
Tanpa mengurangi sesensi dari setiap detail ceritanya.

salam celoteh

26 thoughts on “Bisikan indah “pak sopir”

  1. mantabbbb..
    bagus banget .. anak sastra ya ?
    salutddhh gw .. ini baru blog berkualitasss..
    bisa tukeran link ga ??

  2. kunjungan perdana ni
    salam kenal ya…..

    dalam kehidupan kita harus banyak belajar dan berbagi dengan sesama

    pencerahan dengan gaya bahasa yang bagus

    salamd dari pamekasan madura

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s