Hujan …

Celoteh, Kisah Baru Celoteh …

Jika memang ini jalan yang Engkau pilih untukku, berikanlah aku kekuatan …

Awal tahun …

Peluh menetes, saat sepeda tua itu berjalan dibawah sinar matahari yang terik … roda – rodanya berdenyit lirih, seakan merintih menahan beban yang begitu berat. Sepuluh kilogram gula merah, nampak bergelantungan disebelah kanan dan kiri, ditopang karung coklat yang lapuk.

Ini pertama kalinya, Abah memaksa sepeda kesayangannya bekerja begitu berat. Sesaat sebelum berangkat, Emak sudah khawatir akan kondisi Abah yang baru sembuh dari sakit, juga kondisi sepeda Abah yang tak lagi seperkasa dahulu kala.

Abah nampak dingin, sekeras apapun Emak melarang. Bahkan, sempat terjadi pertengakaran. Karena rasa khawatir, Abah dilarang pergi, namun tabiat Abah memang begitu. Andai, kedua kaki ku normal, pasti hari itu, aku yang pergi. Tepaksa, hanya bisa berdo’a, semoga Abah selamat.

Sesekali Abah berhenti dibawah pohon, istirahat sejenak sambil menatap sepeda tua miliknya. Handuk kecilnya sudah basah oleh keringat. Ia tersenyum melihat sepeda tua yang diam tertegun di tepi jalan.

“Andai engkau bisa bicara, mungkin kau lah yang paling keras melarangku …”, katanya pelan, seakan berbicara dengan sepeda tua itu “Tapi, kau lah yang paling tau tabiatku yang keras kepala,, lama kita bersama”, lanjutnya.

Mungkin ini terakhir kali kau menemaniku, bisiknya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, terdengar kembali rintihan sepeda tua itu. Abah tak mau terlalu memikirkannya,, hanya satu yang ada dalam benaknya,, sekarung beras beserta lauk pauk, yang akan ia dapatkan setelah ditukar dengan sepuluh kilo gula merah itu. Tengkulak didesa sudah keterlaluan, harga jual gula menurun drastis. Jauh dengan biaya produksi gula. Itulah sebabnya, jalur panjang ke kota, kakek tempuh.

Lepas menaiki sebuah bukit, rintihan sepeda tua semakin menjadi. Abah mulai khawatir, takut sepeda tua itu tak mampu mengantarkannya ke kota. Tapi, apa boleh buat, sudah setengah jalan. Sepeda pun diayuh kembali, dengan suara denyit roda yang tak lagi terdengar lirih, sekarang layaknya orang yang teriak kesakitan.

“Abah, pokoknya Emak tunggu abah pulang. Abah kan janji bawa beras buat Tarjo dan Iroh, ya kan”, tanya ibu.

“Ya, Abah janji”, jawab abah singkat.

Itulah sedikit dialog yang aku ingat sebelum abah berangkat.

Langit mulai mendung, awan kelabu berkumpul menutupi mentari yang tengah bersinar. Peluh yang menetes, mulai bekurang. Namun itu tak membuat Abah senang, justru sebaliknya. Kekhawatiran abah muncul dan semakin memuncak saat butiran –butiran air bening menetes perlahan, dan semakin deras. Hujan Awal tahun, biasa terjadi.

Bergegas Abah mencari tempat berteduh, berharap gula yang ia bawa tak terkena air hujan.

Lama hujan tak kunjung henti, rasa khawatir berubah jadi bimbang yang mendalam. Kalau terlalu lama berteduh, mungkin baru malam nanti hujan berhenti. Emak pasti khawatir. Keras ia berpikir dan menimbang, akhirnya ia putuskan tuk menerjang hujan.

Karung gula ia tutupi dengan dedaunan, agar tetap terlindung dari hujan, basah sedikit tak mengapa. Derasnya hujan yang turun tak mampu menghentikan laju sepeda tua itu.

Benak Abah dipenuhi bayang – bayang sekarung beras dan lauk pauk. Emak pasti senang, senyum tersungging manis.

Jika memang ini jalan yang Engkau pilih untukku, berikanlah aku kekuatan … bisiknya dalam hati. Bismillah … sepeda tua pun kembali menjerit.

Aku memang tak pandai hitung hari,, tak satupun bangku sekolah yang sempat aku duduki. Aku ditolak, mereka bilang anak cacat seperti ku, tak kan bisa ikut belajar disana. Mereka bilang aku autis, lemot, lumpuh, dan lainnya. Aku terima, walau sampai sekarang aku merasa normal layaknya yang lain.

Menurut perasaanku, Abah sudah lama pergi, tapi belum kembali. Beruntung mataku masih normal, jelas menatap Emak yang masih setia menunggu didepan rumah berharap Abah pulang, bawa sekarung beras dan lauk pauk.

Hingga hujan akhir tahun turun, sambil membungkus dirinya dengan selimut tebal, Emak tetap setia menanti Abah pulang.

Mak, andai aku bisa bicara, aku punya satu pertayaan,, akankah Abah pulang di awal tahun nanti, sebelum hujan awal tahun turun ?…

4 thoughts on “Hujan …

  1. waaa bagus ceritanya…
    so sad ya… demi keluarganya, abah rela menerjang segala rintangan walau akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. begitu kan ya maksud ceritanya?

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s