Pamanku dan Sekuntum Anggrek di Senja hari…

2 oktober 2010, hari kelabu indonesiaku. Pemalang yang awalnya sepi, kini ramai. Setiap hari, orang – orang datang tuk sekedar melihat atau ikut membantu. Indonesiaku, pilu..

Aku tengah bersiap menanti paman yang lama tak berjumpa. Sepuluh tahun berlalu, apakah dia masih mengingatku, atau sudah lupa.. rasa rindu menyeruak dalam dada, rindu senyum nya yang khas, hidung peseknya, dan janggut tipisnya. Ahh, mungkin sekarang janggutnya udah mulai panjang, tapi hidungnya tak mungkin mancung, hihi.

Pamanku orang yang hebat. Selalu memberikan solusi, terkadang jail juga. Pernah dulu saya sengaja bertanya padanya, “paman, gimana yah supaya kita dikejar – kejar orang yang kita suka?

Dengan santai, paman menjawab“wah,, lagi jatuh cinta yah.. gampang dek, mudah kok. Besok pagi, sebelum berangkat sekolah. Cari kotoran ayam yang masih baru, trus colek sedikit pake ranting. Nah, tiba disekolah, oleskan ranting itu ke orang yang kita suka. Paman jamin 100%, dia bakal ngejar – ngejar

Kadang kesel sih, saya serius, ehhh paman becanda. Diajak becanda, dia malah pura – pura serius. Tapi, saat – saat seperti itulah yang menumbuhkan rasa rindu yang mendalam. Seharian beres – beres rumah, hari ini paman mau mampir. Senangnya, saat membayangkan pamanku yang sangat aku ridukan. Sengaja,kusiapkan beberapa pertanyaan untuknya. Apapun jawabannya, tak masalah, yang penting aku bisa lama mengobrol berdua dengannya.

Senja datang menyapa, disusul malam pekat dengan jutaan bintang di angkasa. Paman janji, dini hari esok tiba di rumah. Sengaja tidur cepat, supaya bisa menyambut paman dengan penuh senyuman.

Dini hari, seisi rumah masih tertidur lelap, aku terbangun, dan segera menuju pintu. Berharap paman datang, dan akulah yang pertama ditemuinya. Masih mengenakan piyama pemberian paman di ulang tahun ke-17 ku, duduk diam menatap pintu yang membisu. Lama ku menunggu, pintu rumah masih membisu. Lantunan suara adzan pun terdengar memecahkan keheningan, membangunkan ayah dan ibu. Bergegas ambil wudhu, lalu tunaikan shalat, dan tak lupa setangkai doa ku kirimkan, khusus untuk pamanku. “paman, datanglah dan sambut rinduku ini padamu…”, bisikku dalam hati.

Sudah pukul enam pagi, mentari sepenggalan naik. Paman tak kunjung datang. Entah kenapa, rasa khawatir pun muncul. Semoga, paman baik – baik saja. Iseng ikut nonton bareng ayah, sebuah channel berita favorit kami. Beragam berita ditayangkan, dan ditengah – tengah, ditayangkan berita utama, tentang kecelakaan kereta di Pemalang. Dua kuda besi yang terlihat hancur, awalnya terdengar biasa, turut berduka cita atas kecelakaan itu.

Namun, tiba – tiba, ayah berlari ke arah telepon, sibuk menekan angka, mukanya nampak cemas. Diujung sana, seperti ada seseorang yang serius berbicara dengan ayah, sepintas terdengar ayah menyebut – nyebut nama paman. Seakan terpanggil, aku mencoba dekati ayah yang semakin nampak cemas. Air matanya berlinang, tubuhnya lemas.

Aku berlari memanggil ibu, khawatir penyakit ayah kambuh lagi. Namun, saat lewat didepan televisi, terpajang nama korban meninggal saat tabrakan kereta itu, dan nama ter-atas,, dari 34 orang yang tertera, adalah nama seorang yang begitu aku cintai dan ku tunggu kedatangannya… Pamanku, si jail yang solutif. Kini telah pergi, bersama erangan kuda besi.. pergi bersama Sekuntum Anggrek di Senja Hari…

23 thoughts on “Pamanku dan Sekuntum Anggrek di Senja hari…

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s