Bu, biarkan ku menangis..

Suatu hari, Adzkia, bocah berumur 9 tahun sedang asyik sendirian dirumah. Ayah dan ibunya pergi bekerja.

Ditengah kesendiriannya, ia teringat hari itu adalah hari spesial bagi ibunya. Akhirnya, dia memutuskan tuk memberikan satu hadiah terbaik untuk sang ibu tercinta.

Ia pun pergi kedapur dan melihat piring kotor menumpuk, lalu segera ia bersihkan. Lepas itu, ia berjalan keruang tamu, dan nampak lantai yang kotor, lalu ia pel sampai mengkilat. Hal itu pun ia lakukan terus, sampai jendela dan perangkat rumah lainnya nampak bersih dan bersinar.

Tengah hari, semua pekerjaan rumah selesai ia kerjakan. Terlintas dalam benaknya tuk menulis surat spesial untuk ibunya. Ia pun bergegas pergi ke kamar dan mengambil sebuah kertas dan pinsil, lalu ia tuliskan beberapa kata untuk ibunya tercinta.

Sepucuk surat itu, ia selipkan dibawah pintu kamar ibunya, berharap saat ibunya pulang, surat itu bisa ia temukan dengan mudah.
Lelah pun tak tertahankan, bocah kecil pun tertidur diatas sofa, hingga petang menjelang.

Suara bising diluar, membangunkan bocah kecil ini dari buaian mimpinya. “oh, ibu sudah datang…”, bisiknya dalam hati. Ia pun bergegas lari, bersembunyi dibalik kamarnya.Terdengar suara pintu terbuka, bocah kecil mengintip dari kamarnya. Nampak sesosok wanita cantik, idolanya, ibu.

Saat ibu masuk, ia terkejut karena rumah begitu bersih dan wangi. Piring kotor sudah mengkilat dan berbaris rapih. Dalam hatinya bertanya – tanya, siapa gerangan yang melakukan ini semua. Ia pun bergegas menuju kamar tuk menyimpan barang bawaanya. Namun, saat ia membuka pintu, sepucuk surat ia temukan. Tampak jelas didepannya tertulis,

Untuk Ibuku Tercinta..”.
Perlahan ia buka surat itu, dan membacanya…

“Bu, Adzkia tau, ibu pasti lelah. Adzkia ingin bantu ibu, supaya ibu bisa senang.
Bu, sepanjang hari ini Adzkia banyak bekerja.

  • Cuci piring : 15.000,-
  • Ngepel lantai : 20.000,-
  • Bersihin jendela : 10.000,-

Semoga ibu mengerti…”

Ibu tersenyum manis, melihat tingkah malaikat kecilnya. Ia tahu maksud Adzkia dalam surat itu. Ia pun membalas surat itu, dan menyelipkan kebawah pintu kamar Adzkia.

Adzkia yang sedang sembunyi dalam kamarnya, langsung menyadari sebuah kertas putih meyelip masuk kedalam. Perlahan ia ambil kertas itu, dan mulai membacanya.

“Adzkia, malaikat kecil yang sangat ibu sayangi.. kasih dan cinta ibu untuk mu takkan hilang oleh waktu. Engkau makin besar sekarang, dan ibu bangga Adzkia sudah bisa mandiri, bersihin rumah saat ibu pergi.

Adzkia, berapapun yang kamu minta, pasti ibu kasih. Bahkan ibu tak peduli, berapa banyak tetesan keringat, dan lelah ibu tuk besarkan dirimu.

Adzkia sayang, tahukah kamu,

  • Mengandungmu selama 9 bulan : GRATIS
  • Menyusui hingga kau besar : GRATIS
  • Mencuci pakaianmu selama 9 Tahun : GRATIS
  • Mencari rezeki tuk kebutuhanmu sehari – hari : GRATIS
  • Membesarkanmu, menyekolahkanmu, mendidikmu : GRATIS

Ibu bangga padamu putri kecilku.. salam sayang ibu, dan cinta yang mendalam”

Adzkia tertegun, dan meneteskan air matanya. Ia pun berlari keluar kamar, dan meyambar ibunya. Ia peluk erat, dan mengucapkan maaf. Deraian air mata membasahi pakaian ibu yang memeluk erat malaikat kecilnya itu.

–>> Selamat hari ibu...<<–

4 thoughts on “Bu, biarkan ku menangis..

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s