Yang Terlupakan

Pagi hari aku duduk sendirian di teras rumah, memandangi langit yang masih gelap tanpa gemerlip genit bintang. Hari ini begitu sepi, hanya belaian lembut angin pagi dan riuhnya jangkrik kesiangan menemani. Sambil menyeruput kopi hangat disertai sebungkus donat, cukup untuk mengganjal perut sampai tukang bubur siap kudatangi.

Saat menikmati pagi hari yang sunyi, tiba-tiba terdengar sebuah tangisan. Suara tangisan yang baru ditelingaku. Aku ikuti arah suara tangisan itu berasal, pelan langkah kecil kuambil. Ternyata suara itu berasal dari kamarku.

Berjuta tanya merasuk dalam dada, siapa gerangan yang menangis itu, padahal dirumah hanya ada aku sendiri. Hantukah? Ah, masa siang hari ada hantu. Mungkin hantu kesiangan atau bunyi paduan suara kecoa-kecoa dikolong ranjang. Atau, jangan-jangan semalem ada seorang gadis yang turun dari langit, trus masuk dikamarku, hehe…

Tak mau banyak spekulasi, perlahan pintu kamar kubuka. Kosong, kamarku kosong tak ada rombongan kecoa atau gadis langit, bahkan sesosok hantu pun juga tak nampak. Lalu, siapa yang menangis? Aneh..Kususuri seisi kamar,  nampaknya suara itu dari dalam lemari. Kubuka pintu lemari, dan kosong juga, hanya ada tumpukan baju dan beberapa butir kamper.

“disini, diatas sini..”, terdengar suara yang berasal dari atas lemari memanggil. Ku tengok bagian atas lemari, ada beberapa benda bekas, dan sebuah kitab suci, al-qur’an.

“siapa yang menangis tadi?”, tanyaku.

“aku, aku yang menangis”, ternyata suara tangisan itu berasal dari al-qur’an.

“kenapa kamu menangis, apa gerangan yang terjadi?”, tanyaku heran.

“Temanku, aku sedih, ditempat lain kawan-kawanku begitu bahagia karena tuannya merawatnya dengan baik. Mereka dibelai, dirawat, dan dibaca setiap hari. Mereka selalu ditemani. Sedangkan aku, disini, diatas lemari tua ini. Sendirian, kesepian, dinginnya malam dan panasnya mentari begitu terasa menyengat. Belum lagi, terkadang kecoa pun datang dan berjalan diatasku dengan kaki-kaki kotornya. Perlahana debu-debu menempel dan menyelimutiku, menutupi pandanganku. Aku sedih, karena menjadi yang terlupakan, aku sedih karena tak ada lagi yang mau membacaku, bahkan menaruhku ditempat yang baik pun tidak. Padahal, hanya satu pintaku, aku hanya ingin dibaca, itu saja”, tutur al-qur’an, lalu ia diam.

9 thoughts on “Yang Terlupakan

  1. Subhanallah🙂
    banyak sudah kita melupakan Alquran ..
    Mungkin kalau saa ini Alquran diizinkan berbicara maka Alquran akan berbicara seperti itu atau bahkan lebih dalam lagi …

    Allah SWT menurunkan Alquran ke Muka Bumi untuk kita jadikan sebagai Pedoman Hidup, tapi sayang beribu sayang kita kerap kali lupa dengan pedoman hidup yang telah Allah SWT turunkan …

    maksih dah ngingetin🙂
    jazahumullahu Khairan Kasiran🙂

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s