Alunan Biola itu..

image

Di sebuah komplek perumahan, ada sebuah rumah yang ditempati oleh keluarga sederhana. Sepasang ayah dan ibu beserta seorang anak perempuan. Nada namanya.
Nada, gadis kecil yang pendiam ini selalu bertingkah aneh saat senja menjelang. Sepulang sekolah ia langsung duduk disebuah kursi tua dekat jendela. Lama ia disana hingga malam pun datang.
Awalnya hal itu dianggap biasa saja. Namun, setelah berhari-hari, si ibu merasa heran. Suatu hari, ia mendapati Nada tengah duduk di kursi tua itu. Ia terlihat asik memandangi keluar jendela.
Si ibu datang menghampiri.
“Nada anakku, ibu lihat hampir setiap hari kamu duduk disini. Boleh ibu tanya kenapa?”, sapa ibunya lembut.
“Mama.. itu, coba dengar”, balas Nada.
“Dengar apa anakku?”, tanya ibu.
“Bunyi itu bu”, jawab Nada sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Si ibu yang penasaran pun ikut coba mendengarkan. Sayup pelan terdengar suara alunan biola. Syahdu mengalun, membawa nuansa yang begitu menyentuh. Seakan senja sore itu, teras begitu indah.
Tanpa disadari si ibu pun ikut duduk disebelah Nada. Alunan biola itu seakan menghipnotisnya, menuntunnya tuk turut serta mendengarkan.
“Sekarang ibu faham, kenapa setiap sore kamu selalu duduk dikursi tua ini anakku”, kata ibu.
Nada hanya tersenyum sambil menatap wajah ibunya. Dan mulai saat itu, ibu selalu menemani Nada hingga senja berganti malam.
Satu bulan berlalu, senja itu Nada nampak gelisah. Ia mengintip dibalik jendela, lalu duduk di kursi tua, berdiri, duduk lagi. Kembali ia tengok keluar jendela, lalu duduk dan berdiri. Begitu seterusnya.
Si ibu yang melihat tingkah aneh Nada, datang menghampiri. “Nada, ada apa sayangku?”
“Ma, bunyi itu..”, balas Nada.
Sesaat ibu tersadar, alunan biola yang biasa menemani senja sudah tak lagi terdengar. Hening dan sepi.
Ia coba buka jendela lebih lebar, namun tetap bunyi itu tak terdengar lagi. Dibawanya Nada keluar rumah. Mereka mencoba mencari tahu kenapa alunan nan indah itu hilang.
Tak berapa lama, mereka pun sampai disebuah gubuk tua, asal suara itu berada. Namun, pintu gubuk tertutup rapat, nampaknya sudah tak berpenghuni.
Lama mereka menatap gubuk tua itu, tanpa disadari mereka tak sendiri. Beberapa orang pun ikut berdiri didekat gubuk itu.
Karena rasa heran, si ibu bertanya pada salah seorang diantara mereka.
“Pak, kenapa bapak ada disini? Dan kenapa banyak orang disini?”
“Kami sedang menunggu bu”, jawabnya.
“Menunggu apa pak?”
“Menunggu apa yang ibu tunggu. Menunggu alunan yang begitu indah itu”, tambahnya. “Namun, nampaknya alunan itu tak ada lagi”.
“Loh, kenapa pak?”, tanya ibu.
“Kakek tua itu, kabarnya telah pindah ke tempat lain”, jawabnya.
“Kakek tua, maksud bapak?”, tanya ibu heran.
“Setiap sore, sepulang dari ‘mengamen’. Ia pulang kesini, ke gubuk tua ini. Dan perlahan ia mainkan biola tuanya untuk menghibur dirinya sendiri. Alunan biola yang ibu dengar, adalah nada indah dari biola milik kakek itu”, jawabnya.
“Oh, begitu ceritanya”, balas ibu pelan.”Lalu, kenapa banyak orang disini pak?”
“Mereka sama seperti ibu, menanti alunan senja yang begitu indah itu. Melepas lelah sepulang kerja. Menemani saat istirahat dikala senja. Hingga penat pun hilang, berganti semangat dan senyuman”, jawabnya. “Namun semua telah hilang..”
Si ibu tertegun mengetahui kenyataan yang ada. Ia merasakan kehilangan yang sama dengan yang lainnya.
Dan malam pun tiba, semua orang pergi kembali kerumahnya. Tinggalkan gubuk lapuk yang sudah tak lagi berpenghuni.
“Kek, walaupun kau pergi, namun kami yang tidak mengenalmu ini kan selalu mengingatmu. Selalu mengenang alunan indahmu. Menantikan saat senja yang damai” mungkin inilah kata yang ingin di ungkapkan oleh semua orang yang ada saat itu.
Cerita ini hanya sebuah Fiksi belaka. Imajinasi penulis yang ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa.
“Segala kebaikan yang akan kita lakukan, kan selalu dikenang oleh orang lain. Sekalipun kita sudah pergi jauh tinggalkan dunia”
“Kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap imbalan apapun. Kan membawa ketenangan dan manfaat yang sangat berharga untuk orang disekitar kita. Sekalipun kita tak menyadarinya..”
Kebaikan itu, layaknya Alunan Biola si kakek tua.. akan selalu terkenang dalam ingatan orang-orang yang mendengarkannya.
Semoga bermanfaat..
Salam celoteh..

5 thoughts on “Alunan Biola itu..

  1. saya seorang penulis dan pemain biola.
    cerita ini sangat sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam. saya suka!

    salam kenal..

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s