Agar hati FOKUS pada cinta-Nya..

Dia laksana bidadari, begitu sempurna.. itulah bisikan kata hati saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi, mustahil bagiku untuk memilikinya, menjadi temannya pun sulit, apalagi jadi kekasihnya. Aahh, cukuplah ia menjadi bidadari impianku

Waktupun berlalu, setahun lamanya aku mengenal dirinya. Bidadari itu semakin dewasa dan menarik. Sekalipun banyak aktifitas yang dia lakukan di kampus, tak sedikitpun kecantikan dan keindahannya luntur. Dan luar biasanya, aktifitas dikampus yang bejibun pun tak berpengaruh terhadap kuliahnya, ia selalu mendapatkan IP di atas 3.0. Semakin panjanglah khayal dan inginku untuk memilikinya.

Memasuki semester 4. Usiaku bertambah, juga dirinya. Sinar kedewasaan semakin terpancar di wajahnya, mungkin seratus lilin pun tak mampu menandinginya. Tak jarang ia jadi perwakilan kampus untuk acara di dalam dan luar daerah. Beberapa prestasinya terngiang-ngiang dibenakku. Dan aku pun merasa semakin mustahil pula aku memilikinya. Bahkan mengobrol dengannya pun aku tak sanggup.

Sejak awal bertemu, tak henti-hentinya aku tahajjud, sedekah dan terus berdo’a agar diberikan pasangan hidup laksana bidadari seperti dirinya, atau kalau bisa sih gak usah jauh-jauh, dia aja orangnya..

Semester 4 pun usai sudah, memasuki tahun ke-3 kuliahku. Anehnya, keinginanku semakin kuat untuk memiliki bidadari itu. Bukan cuma prestasi duniawi, ia pun terkenal sebagai seorang ‘Akhwat’, berjilbab lebar, menutup aurat, dan menjaga pergaulannya dengan para lelaki atau ‘ikhwan’. Aktifitasnya dalam organisasi islam semakin meningkat. Beda dengan diriku yang cuma mahasiswa KKN (Kampus, Kosan, dan Nongkrong di warteg). Sekalipun IP ku tak jauh darinya, Cuma  beda koma aja,, dia tiga koma, dan aku koma tiga..

Tapi, bukan berarti aku menyerah untuk menjadi kekasihnya. Sejak 2 semester lalu, IP ku naik pesat, pernah mencapai hampir sempurna, hanya satu nilai B dan yang lainnya A. Sekalipun bukan aktifis organisasi, aku pun tak jarang pulang malam, karena menjadi Asisten dosen di beberapa mata kuliah. Alhasil, namaku cukup terkenal dikalangan mahasiswa baru. Tak jarang surat dan sms nyasar aku terima. Ngajak jalan lah, makan bareng lah, nonton, bahkan ngajak ngaji bareng pun ada, maklum wajah ustadz, gak aktif di organisasi islam kampus, tapi ibadahku boleh dibilang jempolan. Dhuha, Shaum, Tahajjud, sedekah udah jadi makanan sehari-hari. Kalo yang wajib sih pasti, gak pernah kelewat shalat di mesjid.. pokoknya Alim abiss.. sedikit jenggot di dagu semakin melengkapi ke-Alimanku..

Makanya, pantang bagiku untuk menyerah mendapatkannya. Sekalipun harus bersaing dengan beberapa ‘Ikhwan’ yang jauh lebih soleh. Aku sih yakin, jodoh di tangan Allah, jadi minta aja pada-Nya. Tul gak?!!

Tengah semester 5, aku pun semakin mantap untuk mengungkapkan isi hatiku padanya. Apapun tanggapannya, aku SIAP. Kalau dia menolak, bukan berarti kesempatan itu menghilang. Ditolak sekali, do’a seribu kali. Merdeka!!

Dan di suatu malam yang syahdu…

Dengan fasilitas sebuah jejaring sosial, aku dan dia terhanyut dalam sebuah obrolan ringan. Aku memang sudah berteman dengannya sejak pertama berjumpa. Dia baik, langsung menerima tawaran pertemananku. Tak jarang berjam-jam kami Chatting, bahas masalah kampus, kuliah, atau pribadi. Tapi, malam itu obrolan kami sangat berbeda, karena aku punya sebuah misi penting.

Menjelang tengah malam, entah kenapa sebuah kalimat pernyataan pun terucapkan. Obrolan kami semakin canggung. Aku menangkap rasa gugup dirinya yang berada di tempat nan jauh disana. Degupan jantungnya dapat aku rasakan. Ini gila! Pasti dia menolakku mentah-mentah, pasti dia sudah punya calon yang lebih pantas untuknya. Huft.. pernyataan sudah terucapkan, nasi sudah menjadi bubur, saatnya menanti sebuah jawaban.

Lama aku menunggu, tak juga ada balasan. Mungkin dia sudah tidur, atau dia malas menjawabnya, karena itu sangat-sangat-sangat tidak penting untuknya. Beberapa menit kemudian..

Kalau memang kamu sungguh-sungguh, datang saja kerumahku, bicaralah dengan orangtuaku secara baik-baik. Aku menunggumu..

Jawaban yang tidak kuduga. Jantungku serasa turun ke lutut. Senyuman kemenangan menghias wajahku, “berhasil” bisikku dalam hati. Cepat aku balas pesannya..

Terima kasih duhai Ukhti, dalam waktu dekat, insyaAllah aku kan datang menemui orangtuamu”.

Dan malam bersejarah itupun berlalu dengan menyenangkan.

Singkat cerita, aku pun menemui orang tuanya. Ayah dan ibunya baik, ramah, namun tegas. Setelah obrolan ringan sebagai penghantar, aku pun mengutarakan keinginanku. Dan ternyata, orang tuanya menyetujui. Namun, dengan satu syarat, “Tunggu sampai kuliahnya selesai”. Kurang lebih 1 tahun lagi.. bukan waktu yang sebentar.

Sejak saat itu, dia berubah. Menjadi lebih terbuka, banyak hal yang ia ceritakan padaku, obrolan pun semakin jauh. Kami berkhayal tentang rencana 1 tahun lagi. Tentang impian kami berdua, tentang keluarga yang sakinah, tentang anak-anak yang ceria. Semuanya.

Setiap hari, tak sekalipun terlewatkan tanpa sms, atau sesekali telpon. Sekedar untuk melepas rasa rindu. Ternyata ia memang baik, sangat baik. Setiap hari ingatanku semakin kuat padanya. Wajahnya, senyumannya, dan kata-kata manisnya selalu terngiang-ngiang. Sekalipun aku bertekad untuk tetap menjaga jarak dengannya, khawatir terjerat tipu daya setan, tertipu dalam buaian hawa nafsu.

Satu, dua, tiga bulan berlalu. Aku selalu ingin bersamanya, menemaninya dari jauh, mengirimkan berbagai macam sms manis, dan pertanyaan-pertanyaan manja. Dia pun membalas dengan balasan yang juga manis dan manja. Ahh, betapa indahnya masa-masa romantisme. Seperti kumbang dan bunga yang tak terpisahkan. Serasa jodoh ku adalah dirinya, dan aku yakin dia pun merasakan seperti itu.

Hingga suatu waktu..

Aku merasa ada yang hilang. Ada sesuatu yang lama aku tinggalkan. Ada rasa Hampa yang melanda jiwa. Meninggalkanku dalam kesendirian, tanpa impian.

Dia, bidadari yang dulu aku puja sudah berubah manja. Pancaran kedewasaan, ketegaran, dan ketegasan dalam dirinya tak terasa lagi. Ia menjadi lemah, dan mudah menangis hanya karena “Gak ada sms dari..ku”.

Aku pun merasakan hal yang sama. Semalaman smsan, jd bangun siang dan tahajjud pun hilang. Dhuha tetap kulaksanakan, namun hanya legalitas agar gak malu saat di tanya olehnya “sudah dhuha belum?”. Lebih awal sms dia untuk shaum daripada menguatkan niat dan tujuan shaum itu. Dan tak jarang, di setiap shalat lima  waktu pun.. wajahnya selalu terbayang, sms manisnya terngiang, hingga lupa akan alasan utama mendirikan shalat itu.

Seharian smsan, menumbuhkan kebiasaan malas, betah duduk lama hanya menunggu sms darinya, tanpa karya. Tilawah pun sekedar saja, hanya menutup malu kalau suatu saat si’doi ngecek “udah tilawah belum?”.

Dan rasa kehilangan pun semakin besar, saat aku merasa sudah terlampau jauh dari-Nya.. ada cinta yang terbagi, hingga berkurang cintaku pada-Nya. Air mataku menetes bukan karena rasa bersalahku pada-Nya, tapi karena takut ditinggalkan oleh bidadari pujaanku itu, khawatir dia berpaling ke hati yang lain, khawatir dia sakit, dan lainnya, bukan tangisan karena dosa hapalan yang berkurang, karena tahajjud yang jarang, atau dhuha dan shaum yang salah tujuan. Padahal, belum tentu dia jodoh yang Allah tetapkan untukku.

Satu keputusan sepihak pun aku lakukan.. menghentikan kebiasaan itu, dan kembali memperbaiki diri. Dengan modal keyakinan akan kuasa-Nya, optimis, kalau memang dia jodohku, halangan dan rintangan apapun pasti tak kan mampu menghalanginya kembali padaku.

Saatnya melepas ikatan setan yang membelenggu diri, membuai dengan buaian yang tak kasat mata. Mencoba mengatur kembali agenda-agenda ruhani yang tlah lama mati. Sekalipun, harus mendapatkan caci maki dari berbagai pihak, dan rasa benci dari si pujaan hati. Tak apa, karena Allah yang menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri setiap insan. Kalau Dia berkehendak, dalam sekejap semua rasa bencinya itupun kan jadi rasa cinta yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Ada pengorbanan dalam sebuah perjuangan. Tapi, ini harus aku lakukan agar hati FOKUS pada Cinta-Nya..

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s