Yang instan, Cuma ada di Sinetron

Bukan maksud hati ingin promosi, tapi dari iklan Sarimi lah ku dapat insprasi ini.. hihi..

Sarimi memasuki usia ke-30 tahun, bukan waktu yang sebentar. Sekarang, entah berapa Omset per-Harinya, puluhan bahkan ratusan juta. Berapa gaji President Director nya, berapa gaji kepala divisi dibawahnya, boleh jadi dalam sebulan bisa bebas gonta-ganti mobil. Lalu, gimana yah rasanya kalau kita punya perusahaan dengan Omset yang sama? gak Cuma bisa ganti mobil saja, mungkin sudah rebutan beli pesawat pribadi.

Yah, kita selalu melihat orang lain saat dia sukses, tapi jarang melihat betapa berat dan panjang proses pencapaian kesuksesannya. Kembali ke sarimi, mie instan yang harganya cuma Rp. 1500,-an,ini boleh jadi penghasilannya sangat besar. Tapi itu sekarang, bagaimana Sarimi 30 tahun yang lalu?? Adakah sama penghasilannya??

TIDAK…

Bayangkan, butuh waktu 30 TAHUN lamanya untuk Sarimi menjadi sebuah perusahaan mie raksasa dengan omset yang luar biasa. Dari sebuah rumah kecil di pelosok desa, sampai pabrik dengan ribuan hektar luas areanya. Mulai dari menjual di warung-warung kecil, menawarkan kerumah-rumah, sempat jatuh dan gagal, banyak kritik dan sindiran, tapi tak ada alasan untuk berhenti mencoba. Dari sebuah perjalanan panjang, ujian kesabaran, tantangan dan ujian. Sarimi pun tumbuh besar dan sukses seperti sekarang. Produk nya boleh mie Instan, tapi suksesnya gak instan.

Belajar dari sarimi atau dari banyak pengusaha dan perusahaan sukses lainnya. Semua yang mereka dapatkan tidaklah instan. Bill gates membangun Microsoft bukan dalam satu atau dua bulan, Larry Page dan Sergey Brin membuat mesin pencari (search Engine) Google yang menjadi Website paling mahal di Dunia juga tidak instan, dan orang-orang sukses lainnya tidak ada yang instan.

Jadi, sangat tidak wajar kalau kita ingin sukses seperti mereka tapi dengan cara yang instan. Jalan kasar terbentang bagi siapa saja yang ingin mewujudkan impiannya. Ibarat naik gunung, lelah saat naik, namun hilang semua rasa lelah itu saat sampai di puncak gunung nan indah. Hanya yang putus asa dan menyerahlah yang jatuh, kembali ke kaki gunung. Disanalah nikmatnya sebuah perjuangan, pahit di awal dan manis di akhir.

Saya belum menjadi seorang pengusaha, hanya anak kecil yang senang mengamati semua hal disekitarnya. Belajar dari lingkungan, belajar dari orang-orang disekitar, belajar dari binatang dan tumbuhan, membaca dan memahami bahwa tidak ada satupun yang instan.

Jangan berpikir semua impian bisa kita wujudkan dengan cara yang instan, karena yang instan itu Cuma ada di sinetron.

2 thoughts on “Yang instan, Cuma ada di Sinetron

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s