Pemuda dan Burung Gelatik

Di sebuah desa, ada seorang pemuda yang tinggal sendirian dalam gubuk kecil. Lama sudah ia hidup sendiri, dan ingin rasanya mempunyai teman. Hingga akhirnya dia pun pergi ke sebuah pasar.

Setelah berjalan beberapa saat, pemuda itu tertarik dengan seekor burung gelatik yang dijual seorang kakek. Bulunya sangat indah, bersih dan mengkilap, suaranya juga merdu. Muncullah keinginan dalam hati si pemuda untuk memeliharanya, dan menjadikan burung gelatik itu sebagai teman.

Si pemuda mendatangi kakek penjual burung gelatik, “Kek, burung ini berapa harganya?”, tanyanya.

“harganya mahal, mungkin kau tak sanggup membelinya”, jawab kakek.

“Tapi kek, saya ingin sekali memeliharanya, saya usahakan sebisa mungkin membelinya”

Kemudian si kakek menyebutkan harga yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, namun terasa sangat tinggi bagi si pemuda gubuk ini. Tapi, karena keinginan yang begitu besar, si pemuda ini pun bertekad untuk berusaha dengan maksimal agar bisa mendapatkan burung gelatik itu.

Setelah proses tawar menawar selesai, si kakek akhirnya memberikan waktu beberapa bulan untuk si pemuda agar bisa membeli burung gelatik itu.

Si pemuda pulang dengan hati yang bahagia, ia pun membayangkan suara burung gelatik yang indah saat ia pulang kerumah. Kicauan penghibur di pagi hari, dan menemani saat matahari terbenam. Ia pun berencana untuk melatih burung itu agar menjadi burung yang paling indah suaranya. Ia pun menuliskan banyak sekali rencana saat burung gelatik itu bersamanya.

Berbagai macam usaha dilakukan oleh si pemuda, dan semuanya berhasil. Ia mendapatkan sejumlah uang yang cukup untuk membeli burung gelatik itu,bahkan ia juga membeli beberapa peralatan terbaik untuk melatih si gelatik nan cantik agar lebih indah suaranya. Ia membeli makanan terbaik agar si gelatik sehat selalu. Ia membeli kandang terbaik agar si gelatik nyaman didalamnya. Ia pun membeli beberapa vitamin untuk menjaga bulu-bulu gelatik yang indah.

Waktu yang dinanti pun tiba, si pemuda kembali menemui kakek penjual gelatik. “Kek, saya sudah siap membeli dan memelihara gelatik ini”

Si kakek tersenyum, “Maaf pemuda, burung ini tidak jadi saya jual”

Si pemuda kaget dan terdiam, “Kenapa kek? Apa karena saya masih muda dan belum berpengalaman memelihara gelatik ini?”

“bukan begitu, aku pun sangat mencintai burung gelatik ini, dan sulit rasanya berpisah”, kata kakek.

“Tapi kek, kakek kan masih punya burung lain yang bisa menemani kakek, sedangkan aku, tidak ada satupun”, pemuda tetap berusaha.

“Ya, memang benar. Tapi gelatik ini adalah satu-satunya gelatik yang kakek miliki”, balas kakek.

“Kek, saya sudah membeli berbagai macam perlatanan, makanan, kandang yang terbaik untuk merawat burung gelatik itu, percayalah burung itu pasti akan tumbuh dengan baik”, jelas si pemuda.

“Ya, kakek yakin kamu pasti telah mempersiapkan banyak hal untuk memelihara gelatik ini, kakek juga tahu besarnya keinginanmu memelihara burung ini. Tapi.. kakek tetap tak bisa menjualnya anak muda”

Setelah berdebat cukup panjang, hasilnya tetap sama. Si pemuda pulang dengan hasil yang tidak ia duga sebelumnya. Ia kembali ke gubuknya, dan merenung, mencari solusi yang terbaik.

Ia simpan rasa egois untuk memiliki burung gelatik itu, dan mencari jalan yang terbaik bagi burung gelatik, dirinya dan si kakek.

Keseekoan harinya ia kembali menemui si kakek dengan membawa sekardus barang-barang yang dulu ia beli untuk si burung gelatik,

“Ada apa pemuda, kau datang lagi?”, Tanya kakek.

“Saya sudah mencari solusi yang terbaik, saya tidak bisa melupakan burung gelatik itu, saya sangat ingin memilikinya. Tapi, saya pun tidak bisa memisahkannya darimu kek”, kemudian si pemuda menyerahkan kardus yang berisi peralatan terbaik untuk si gelatik. “ini kek, peralatan yang dulu saya beli sebagai persiapan memelihara burung itu, ambillah dan gunakan untuk merawatnya”

Si kakek merasa tersentuh dengan usaha si pemuda, “Pemuda, kau memang mencintai burung ini seperti halnya aku, kau boleh memelihara, merawat dan melatihnya, kau tidak harus membelinya”.

Sontak si pemuda tersenyum senang, jawaban yang tidak ia duga dari si kakek. “benarkah itu kek? Aku boleh memeliharanya?”

“Ya, silahkan saja.. tapi..”, jawab kakek.

“Tapi apa kek?”, Tanya si pemuda.

“Tapi gelatik ini harus tetap tinggal bersamaku, kau boleh datang kemari kapan saja kau mau untuk melatihnya, memberinya makan dan lainnya, tapi jangan bawa gelatik ini bersamamu”, jawab si kakek.

Ada rasa bahagia juga sedih dalam hati si pemuda, namun ia juga tidak ingin membuat si kakek sedih karenanya. Akhirnya, dengan senyuman simpul, si pemuda menjawab, “Ya kek, baiklah.. mungkin itu yang terbaik.. terima kasih atas kerendahan hatinya”.

Selesai percakapan dengan si kakek, pemuda itu kembali menuju gubuknya.

Ia tersenyum, namun hatinya tunduk layu. Ya, memang ia bisa memelihara, merawat, melatih dan melakukan banyak hal untuk si gelatik. Tapi, yang dia inginkan bukan hanya itu.. lebih dari itu..

Setibanya di gubuk, semuanya masih sama. Sepi, tanpa kicauanya yang ia inginkan. Sore hari pun ia sendiri menikmati matahari terbenam. Tidak ada warna yang berbeda, semuanya sama. Ia pun menyimpan catatan rencana yang ingin dia lakukan bersama burung gelatik.

Dan ia pun terlelap dalam tidurnya, berharap saat bangun esok hari, ia bisa mendengar kicauan burung gelatik yang indah… sekalipun hanya dalam mimpi…

One thought on “Pemuda dan Burung Gelatik

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s