Namanya “Cantik”

12043157_1720606738172407_5217272045386100379_nBukan bermaksud memuji, memang namanya ‘Cantik’. Mungkin dari nama itulah jiwa yang cantik tumbuh bersamanya. Jangan memaksa ku tuk melukiskan bagaimana wajahnya, paduan yang sempurna dengan sedikit kekurangan. Wajarlah, gading yang retak jauh lebih indah daripada yang tak retak.

Dia cantik, dan berkali-kali lipat bertambah cantiknya saat senyum terukir diwajahnya. Entah bola pingpong siapa yang ia curi, mengelinding indah dibalik kelopak mata yang sayu. Wajah tirus walau dengan retakan kecil, tanpa lesung pipi. Semoga tetap seperti itu, agar kaki ini bisa meneruskan perjalanan, tak terperangkap terlalu jauh dalam pesonanya.

Tapi dia menyebalkan, selalu berkata “saya gak cantik, biasa aja”. Padahal banyak orang yang menyangkal perkataan itu. Andai saja itupun saya alami, saya berteriak “saya gak ganteng, biasa aja!!”, bahkan anak kecil yang duduk di ujung lapangan langsung bediri, berteriak lantang “memang!”.

Namun sayang, kecantikan itu tak mewarnai kehidupannya yang selalu menguji jiwa cantiknya. Dia bertahan, berusaha tersenyum.

Sebagai rasa kagum, ku biarkan jari jemari ini menuliskan kisah cantiknya..

Suatu waktu tak sengaja ku jumpa dirinya. Seorang gadis yang polos, namun tegas. Entah kenapa di setiap berjumpa, selalu senyuman yang nampak di wajahnya. Jujur, itu sangat indah.

Aku teringat kata seseorang, “laut yang tenang pasti menyimpan banyak misteri yang hanya bisa kau ketahui jika menyelam di dalamnya, tapi ingat, jangan terlalu dalam, jangan”.

Tak sulit untuk mendekatinya, dia ramah, supel. Memang benar, jangan terlalu dalam.. laut tenang yang satu ini bisa mengikatku tenggelam bersama misteri di dalamnya.

Layaknya pemancing professional dari tujuh samudra, satu umpan cantik ku berikan dan ia pun mulai bercerita. Tentang hidup yang tidak cantik.

Hanya beberapa kali ia bertemu dengan kedua orang tuanya, sejak kecil ia harus menjalani hidup sendiri, beruntung ada anggota keluarga yang bersedia menyediakan tempat tinggal untuk si gadis cantik ini. Andai saja, aku diberikan kesempatan untuk bertemu kedua orang tuanya, mungkin bisa lebih jelas bait misteri yang ada.

Dalam balutan senyuman, manis wajah yang ceria. Terkesan menutupi betapa berat hidup yang dijalani. Bukan karena mencari nafkah, atau kewajiban bekerja dalam memenuhi kebutuhan. Bukan tuntutan dunia untuk bisa sama rata.

Ia dibesarkan oleh diri dan lingkungan. Entah karena lingkungannya yang pandai, atau dia pandai memilih lingkungan. Ia berkembang menjadi anak yang luar biasa di usianya. Sesuatu yang saya sendiri pun mungkin belum sanggup menjalaninya.

Saya dibesarkan dalam belaian kasih ibu, dan bimbingan ayah tercinta. Dalam nuansa kebersamaan dalam keberkahan. Sambutan hangat senyum ibu saat pulang sekolah, dan nasehat penuh kebijaksanaan dari ayah. Sepaket sajian makanan buatan tangan lembut ibu, baju-baju yang selalu rapih, wangi. Obrolan santai sebelum lelap menguasai diri, bahkan nuansa lembut kasih sayang ibu sampai warnai mimpi.

Genggaman erat tangan ayah, selalu sedia kapan pun saya butuh bantuan. Tanpa balas pamrih. Sesekali kena marah karena nakalnya diri ini. Namun itu semua jadi momen yang tak kan pernah terlupakan. Kenangan yang si cantik ini tak sempat dilaluinya.

Saya heran, entah sekuat apa tekad dalam dirinya. Pribadi yang nampak rapuh, justru memiliki kekuatan untuk tetap survive.

Jalan yang sudah ia lalui tidaklah pendek. Mungkin jika saya menjadi dirinya, ada saat dimana hati ini tersentak saat rekan sepermainan, tersenyum ceria bersama kedua orangtuanya. Saat hasil belajar diberikan, saat pengumuman kejuaraan, saat lelah sepulang sekolah.

Jika saya menjadi dirinya, saya ingin berteriak sekeras mungkin, agar mereka, ayah dan ibu yang nan jauh disana mendengar keluhan hati ini.

Jika saya menjadi dirinya, saya ingin berhenti… dan duduk termenung dalam renungan penyesalan.

Namun, saya bukan dirinya. Dia tidak melakukan itu semua, dia memilih jalan yang penuh liku berkerikil tajam. Melalui semua dengan senyuman dan ketabahan. Dengan sebuah keyakinan bahwa, kelak akan datang saat yang tepat untuk menjadi bahagia seutuhnya.

Hei cantik, entah betapa cantiknya hatimu, tekadmu dan keteguhan dirimu. Tetaplah seperti itu, selalu ada jalan menurun disetiap tanjakan. Selalu ada muara dari setiap air sungai yang mengalir.

Just the way you are…

You inspired me..

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s