Kak, kenapa sih harus berjilbab?

10426573_615671705214841_8350895386908655473_nHari ini, langit sendu, mentari enggan bersinar. Angin berhembus pelan, membelai lembut hati dengan kesyahduan.

Ya Rabb, hari ini kusambut dengan senyuman, karena hari ini ada amanah untuk membimbing generasi penerus bangsa menjadi kader rohis di sekolah.

Hari ini, kujalani dengan penuh kebahagiaan. Namun naunsa alam seakan memberikan pesan lain. Satu pesan yang akhirnya dapat dibaca oleh hati ini.

Namanya, Ayu…

Kami dipertemukan di ROHIS, sebuah ekskul di sekolah. Dia seorang gadis yang lugu dan polos. Namun memiliki tekad untuk berubah. Awal pertemuan, kami ditakdirkan menjadi adik kelas saya waktu itu, anggota muda di ROHIS.

Maklum, sekolah kami adalah sekolah umum, bukan sekolah islam. Jadi, kala itu, banyak siswi yang masih tak berjilbab, mengurai rambut sebebasnya. Termasuk, dirinya, adik kelas ku yang satu ini.

Kami terbilang dekat, namun tetap menjaga diri dari segala hal yang dilarang agama. Saya masih ingat betul, waktu itu, setelah sebuah pengajian rutin ROHIS, dia mendatangi saya, dan bertanya..

“Kak, Ayu cantikan mana, berjilbab atau enggak?”, tanyanya.

Saya tersenyum dan menjawab, “Pasti cantikan berjilbab lah,, lebih mencirikan seorang muslimah”

“Emang, kenapa sih harus berjilbab, Kak?”, tanyanya heran.

Saya berpikir sejenak untuk bisa memberikan jawaban terbaik, karena ini pertanyaan yang sangat urgent menurut saya waktu itu.

“Yu, jilbab itu wajib bagi seorang muslimah. Helaian rambut yang tidak ditutupi jilbab kelak akan menjadi api neraka. Coba deh bayangin, kalo rambutnya kebakar tapi apinya gak bisa mati, panas kan?” jawabku.

“terus, jilbab juga gak bikin kamu nampak desa, atau udik, atau jelek. Justru jilbab itu, membuat wajah semakin cerah, menjaga pandangan bagi kaum lelaki, juga menjaga diri dari perbuatan dosa” lanjutannya.

“emang, kalo yang berjilbab itu, gak akan buat dosa?”, tanyanya.

“yahh,, banyak juga sih Yu, yang berjilbab tapi melakukan maksiat. Namun, minimal dengan berjilbab ada sedikit rasa malu untuk melakukan kesalahan tersebut”, jawabku.

“ohh.. gitu…”, balasnya.

“Trus, kapan Ayu mau berjilbab?”. Tanyaku.

“hemm.. kapan-kapan sih kak,, insyaAlloh kelas 3 aja lah berjilbabnya.. hehe”, jawabnya santai. Lalu, dia pun berlari mengejar rekannya yang hendak pulang bersama

Lama waktu berlalu, kira-kira beberapa bulan setelah obrolan singkat itu, adik kelasku itu suatu hari datang ke sekolah dengan penampilan berbeda. Dia berjilbab. Alhamdulillah, bisikku dalam hati.

Dia lari kecil mendekatiku, “Kakak, Ayu udah berjilbab dong…”, lapornya.

“alhamdulillah.. makin cantik Yu..”, balasku.

“Iya, kata temen-temen juga gitu.. mau pake jilbab terus lah…”, terangnya.

Sejak saat itu, dia pun terus mengenakan jilbab. Sampai kami berpisah saat kelulusan, dan tidak pernah bertemu sama sekali. Sesekali chat lewat media sosial. Namun, beberapa tahun sudah berlalu saya hilang komunikasi dengannya.

Hari ini, kesyahduan alam seakan hendak membisikkan sebuah pesan. Pesan lirih tentang.. kepergiannya. Seorang adik kelas yang tengah asik dengan dunianya. Seorang adik kelas yang lugu, polos dan penuh semangat. Seorang adik kelas yang sudah beranjak dewasa. Dan seorang muslimah yang tetap mempertahankan cirinya.

Dia pergi menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.. pergi dengan senyuman, pergi dengan banyak tangisan.

Dan dia pergi dengan tetap mengenakan jilbabnya…

Selamat jalan adik kelasku.. semoga Allah senantiasa menerimamu di sisi-Nya…

Ahad, 18 September 2016

Untukmu Ayu …

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s