​Obrolan Dua Batu

Dua buah batu, tergeletak di atas tanah tandus. 
“hei teman, lihat pasir itu, berlari-lari tertiup angin”, batu 1

“hemm… ya, memang”, batu 2

“lihat tuh, daun kering itu, melayang terbang diudara”, batu 1.

“hemm… ya, memang”, batu 2

“eh, lihat disana, itukan bulu burung yg tak berguna, melambai lambai seolah senang tertiup angin”, batu 1

“iya, memang”, batu 2

“hei teman, jangan ‘ya, memang’ trus dong, kasih komentar”, batu 1

“hemm… apa yg harus aku komentari”,batu 2

“Perkataanku barusan, tentang pasir, daun kering, bulu burung”, batu 1

“oh, soal itu”, batu 2.

“iya!, gimana pendapatmu?”, batu 1.

“kenapa harus?”, batu 2.

“ya harus lah, apa kamu gak cemburu?”, batu 1

“cemburu dengan?”, batu 2

“dengan mereka! Pasir, daun, dan bulu burung itu!”, batu 1

“kenapa harus cemburu?”, batu 2

“eh, kita ini batu, lebih kuat dari pasir,lebih kokoh dari daun kering, lebih nampak dari bulu burung itu!”, batu 1

“ya benar, trus?”, batu 2

“lalu kenapa angin memberi mereka hiburan, sedangkan kita tidak!”, batu 1

“hemmm… “, batu 2

“apa itu adil menurutmu?”, batu 1

“Adil kok”, batu 2

“Adil apanya!!!”, batu 1

“yah semuanya”, batu 2

“kau bercanda teman, apa alasan kau berkata itu semua adil?”, batu 1

“dengarkan temanku yg cerewet. Angin memang sengaja tidak menghibur kita, karena dia tahu bahwa kita ini sudah ditakdirkan untuk menjadi elemen yg kuat. Kita adalah isi pondasi bangunan, alas jalan raya, penguat pijakan pejalan kaki. Jadi, jangan cemburu dengan mereka yg terbang mengikuti arah angin”

Advertisements

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s