Si Monyet

Dikisahkan ada seekor monyet yang sedang berjuang memanjat pohon kelapa. Si monyet sudah mempersiapkan dirinya agar bisa sampai puncak. Karena, ia melihat ada begitu banyak kelapa yang segar dan manis tentunya.

Si monyet memulai pendakiannya. Ia memanjat pohon kelapa dengan sangat hati-hati dan penuh rasa percaya diri. Alhasil, dalam beberapa menit, ia mampu memanjat setengah dari pohon kelapa yang tinggi menjulang.

Si monyet diam sejenak untuk istirahat, dia merasakan terpaan angin yang lumayan kencang. Setelah istirahat sejenak, si monyet kembali meneruskan perjuangannya. Ia terus memanjat pohon kelapa, naik, naik da naik terus.

Karena semangatnya yang sangat tinggi, akhirnya Si Monyet pun berhasil sampai di puncak pohon kelapa. Kedua tangan dan kakinya mencengkram kuat pohon kelapa itu.

Angin bertiup kencang. Dari kejauhan, si monyet melihat ada pusaran angin yang mendekat. “oh, itu angin topan!”, serunya dalam hati.

Sadar akan bahaya yang akan datang, si monyet mengencangkan cengkramannya. Angin topan itu pun datang, menggoyangkan pohon kelapa. Namun, cengkraman si monyet tak kalah kuat dengan terpaan angin itu. Angin topan pun berlalu, gagal menjatuhkan si monyet.

Si monyet tersenyum puas karena merasa berhasil mengalahkan angin topan itu. Namun, saat melihat lebih jauh ke depan, ia melihat awan-awan bergerak sangat cepat. “oh tidak!, angin puting beliung datang!”.

Si monyet tahu, kalau angin puting beliung lebih kencang dari angin topan. Menyadari hal tersebut, si monyet semakin mengencangkan cengkramannya. Sangat kencang, sampai terasa sakit di beberapa bagian ototnya.

Angin puting beliung pun menerpa, pohon kelapa bergoyang kencang, beberapa daun dan buah kelapa pun berjatuhan. Namun, cengkaraman si monyet terlalu kuat untuk diremehkan. Angin itu pun gagal menjatuhkanya.

Si monyet senyum puas, dan merasa bangga pada dirinya yang luar biasa. Dua buah angin dahsyat bertiup, tak sanggup menjatuhkannya.

Lalu, masih di posisi yang sama, si monyet melihat awan-awan bergerak lembut. “oh, inilah yang ku suka, angin sepoi sepoi datang”.

Pelan, sangat pelan angin itu bertiup. Si monyet menikmati setiap belaian angin lembut itu. Tanpa ia sadari, seiring angin itu bertiup, pegangannya mulai melemah, lemah dan … si monyet pun terjatuh.


Sahabat, setiap diri kita pasti punya target atau impian yang ingin diwujudkan. Saat kita berapa di bawah, godaan sangat sedikit dan mudah. Perlahan naik, godaan semakin kuat. Namun, yang perlu kita ketahui, bukan godaan kuat yang bisa menjatuhkan, tapi godaan-godaan kecil sedikit demi sedikit kita biarkan melemahkan diri, hingga akhirnya kita pun dikalahkah olehnya dan gagal.


Epilog

Si monyet yang tadi jatuh pun, selamat. Karena, sejak dia naik pohon kelapa, ada rekannya yang selalu setia menanti dibawah, berdiri tanpa lelah, menunggu jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada rekannya. Walaupun, saat si monyet sampai puncak dan menikmati buah kelapa yang enak, ia tidak peduli atau membagi rekannya yang menunggu di bawah, namun rekan si monyet ini tetap setia menanti, tetap berdiri, mengkhawatirkan sahabat monyetnya jatuh dan celaka, atau mati.

(jika dapat dijelaskan, rekan si monyet yang setia itu adalah kedua Orang Tua dan Sahabat yang kadang kita lupakan saat kita berada di puncak, namun mereka tetap siap membantu jika suatu saat kita jatuh)


 

Advertisements

Apa pendapatku tentang artikel ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s