
Seorang anak kecil duduk dipingir trotoar. Kemeja putihnya berwarna kecoklatan karena debu yang tak hentinya beterbangan, menempel di kemeja yang basah oleh keringat. Tubuhnya kecil, hitam tak terawat. Celana pendek warna merah yang selalu ia pakai sejak 3 tahun lalu, saat pertama kalinya masuk dan terdaftar sebagai siswa sebuah sekolah dasar.
Tertunduk layu menatap keranjang bawaannya. Keranjang kecil, isinya beberapa bungkus susu murni titipan seorang peternak sapi. Awalnya ada 30 bungkus, sekarang masih ada 25 bungkus lagi. Tiga bungkus berhasil ia tukar menjadi uang 3ooo rupiah, dan dua lagi sebagai bayaran rasa lelahnya setelah 2 jam berjalan.
Ia tawarkan dagangannya itu setiap ada orang yang lewat didekatnya. Namun, dari begitu banyak orang berdasi, berkemeja rapih, berwajah cantik, tak satupun yang mau menyisihkan 1000 rupiah saja uangnya untuk membeli dagangannya itu. Mereka hanya melirik dengan tatapan merendahkan, tapi ia tak pernah sekalipun merasa layak dibilang orang rendahan.
Ibu bilang, “nak, jangan pernah merasa rendah diri selama yang kamu lakukan itu halal dan bermanfaat untuk orang lain.. dan sekalipun banyak yang merendahkanmu, jangan pernah sekalipun merendahkan orang lain”
Setiap kali ia jatuh, lelah dan penat dengan rutinitas hariannya itu, saat itu pula ia selalu teringat nasihat-nasihat ibunda tersayang. Wanita paling paling paling cantik dan baik yang selalu ada kapanpun ia butuh. Ibu mengajarinya sopan santun, menghargai orang lain, tolong menolong, bertahan hidup, juga mengajari berdo’a, mengaji dan sholat. Continue reading →
Like this:
Like Loading...